Luce Stellare ~ LOVE UNCUT
Kisah ini adalah part lanjutan dan LOVE UNCUT dari cerita Cahaya Bintang.
Untuk pengalaman lebih utuh, baca versi lengkap di sini:
Cahaya Bintang
Hari pertama Lucia menjadi maid pribadi sang pangeran akan dimulai.
Kamar Lucia berada di lantai yang sama dengan kamar Xavier.
Hal itu baru ia sadari setelah seorang pelayan membawakan barang-barangnya melewati lorong utama kastil.
Lucia berhenti di depan sebuah pintu dengan ukiran sederhana.
"Ini kamar saya?"
Pelayan yang mengantarnya mengangguk.
"Benar, Nona Lucia."
Lucia membuka pintu.Kamar itu jauh lebih baik daripada yang pernah ia miliki di rumah.
Ada tempat tidur dengan seprai bersih, lemari pakaian, meja kecil di dekat jendela, dan sebuah rak yang masih kosong. Cahaya sore masuk melalui jendela, menerangi lantai kayu yang mengilap.
Lucia memandang sekeliling.
"Biasanya kamar maid memang seperti ini?"
Pelayan itu tampak ragu.
"Ah..."
Ia belum sempat menjawab ketika suara lain terdengar dari belakang.
"Kamarnya memang untukmu."
Lucia menoleh.
Xavier berdiri di ambang pintu.
Pangeran itu baru saja melepas sarung tangan kulitnya. Pakaiannya masih sama seperti ketika menyambut Lucia di gerbang kastil.
Lucia membungkuk kecil.
"Yang Mulia."
Xavier mengangguk.
Ia kemudian menunjuk lorong di seberang.
"Kamar itu milikku."
Lucia mengikuti arah jarinya. Jaraknya tidak lebih dari beberapa pintu.
"Kenapa kamar saya di sini?"
"Karena kau maid pribadiku."
Xavier mengatakannya seolah tidak ada yang aneh.
"Kalau aku membutuhkan sesuatu, kau harus bisa datang dengan cepat."
Lucia mengangguk pelan.
"Begitu."
"Kalau kamarmu terlalu jauh, pekerjaanmu akan lebih sulit."
Masuk akal, namun beberapa langkah di belakang Xavier, dua orang pelayan yang sedang membawa linen saling berpandangan.
Mereka sudah bekerja di kastil ini selama bertahun-tahun. Mereka tahu bahwa kamar para maid berada di sisi lain bangunan.
Bahkan pelayan senior pun tidak pernah mendapatkan kamar sedekat itu dengan kamar seorang pangeran.
Salah satu dari mereka mengangkat alis. Yang lain hanya memberi isyarat agar diam.
Lucia memandangi kamarnya dengan rasa kagum yang bercampur canggung.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Kabar mengenai maid baru itu menyebar bahkan sebelum matahari terbenam. Di kastil, berita kecil memiliki cara sendiri untuk bergerak.
Seorang pengawal melihat Xavier mengantar Lucia sendiri. Pelayan lain mengetahui kamarnya berada dekat dengan kamar pangeran.
Kemudian seseorang menyebutkan bahwa Lucia berasal dari desa terdekat, tempat asal rumor gadis tercantik di wilayah utara.
Kabar burung berkembang dengan kecepatan yang cukup mengesankan.
"Jadi dia gadis yang itu?"
"Yang sering dilamar orang-orang di desa?"
"Katanya semua pemuda mengejarnya."
"Dia memang cantik."
"Kalau hanya karena cantik, kenapa Yang Mulia memberinya kamar di sini?"
"Tidak tahu."
"Katanya dia maid pribadi."
"Sejak kapan Yang Mulia membutuhkan maid khusus?"
"Entahlah."
Hal yang membuat mereka penasaran adalah Xavier bukan pangeran yang terkenal senang dikelilingi pelayan.
Ia bahkan sering melakukan banyak hal sendiri.
Maka ketika seorang gadis desa tiba-tiba mendapat kamar di dekat kediamannya dan menerima tugas khusus, orang-orang tentu mulai bertanya-tanya.
Lucia mendengar beberapa bisikan ketika melewati lorong. Ia memilih tidak menanggapi karena terlalu lelah menghadapi perhatian orang lain.
Ia datang ke kastil untuk bekerja, bukan untuk mencari masalah baru.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Hari pertama Lucia sebagai maid pribadi dimulai jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan.
Sebelum matahari sepenuhnya menembus cakrawala, ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Seorang pelayan senior membuka pintu hanya seujung, suaranya rendah dan jelas.
“Yang Mulia sudah bangun.”
Lucia langsung duduk tegak di tepi tempat tidur. Detik itu juga tubuhnya sudah bergerak. “Baik.”
Ia berdiri, menyiapkan diri dengan gerakan cepat namun rapi. Cermin kecil di sudut kamar menangkap bayangannya.
Rambut pirang dan panjang diikat rapi, seragam maid masih baru dan kaku. Penampilannya tampak jauh lebih rapi daripada saat memakai gaun lusuh saat mencuci baju di sungai.
Tugas Lucia adalah menyiapkan pakaian untuk pangeran. Beberapa setelan sudah disiapkan Lucia semalam berdasarkan jadwal hari itu: pertemuan dengan pengelola gudang, pemeriksaan kandang ternak, lalu rapat dengan kepala penjaga perbatasan desa.
Ia memilih kain yang cukup formal untuk pertemuan, namun tetap praktis untuk berjalan di tanah yang mungkin basah dan berlumpur.
Lucia mendorong pintu kamar pangeran dengan pelan.
“Selamat pagi, Yang Mulia,” ucapnya pelan.
Xavier mengangkat wajah. Matanya masih sedikit sayu. “Selamat pagi.”
Beberapa jam kemudian, Lucia berdiri di samping meja panjang, menggosok permukaannya dengan kain yang sudah dibasahi.
Saat ini dia bertugas membersihkan ruang kerja Xavier. Setelah membersihkan meja, dia mulai mengepel lantai.
Tapi karena lantai licin, Lucia hampir terjatuh. Untungnya saat itu Xavier di dekatnya dan refleks memeluknya.
Telapak yang besar dan hangat menempel di lekuk pinggang. Jari-jari itu diam di sana, mengusap pelan seolah merasakan tekstur kain dan panas tubuh di baliknya.
Napas Lucia tertahan. Seluruh tubuhnya membeku di tempat. Panas menjalar dari pinggang, naik ke perut, lalu lebih rendah lagi, membuat detak jantungnya terdengar keras di telinga. Ia tidak berani menoleh.
“Hati-hati,” bisik Xavier. Suaranya begitu dekat, napasnya menggelitik daun telinga Lucia. “Lantai licin.”
Kemudian tangan itu terlepas. Xavier melanjutkan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa, sepatu di lantai kayu terdengar semakin jauh sampai akhirnya hilang di balik pintu.
Malam hari, Lucia tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu. Sulit sekali menyimpan perasaan pada Xavier. Entah kagum atau cinta?
Seorang gadis desa seperti dirinya, hanya seorang maid pribadi, bisa dipeluk oleh sang pangeran. Seperti mimpi di siang bolong.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Sudah seminggu Lucia bekerja di kastil. Sore ini, Xavier memanggil Lucia ke kamar kerja untuk menyajikan teh.
Lucia masuk dengan nampan di tangan, langkahnya stabil dan hati-hati.
Aroma teh hitam yang baru diseduh memenuhi ruangan, bercampur dengan bau kertas dan tinta. Xavier duduk di kursi kulit hitam di belakang meja.
Saat Lucia meletakkan nampan di atas meja, tangan Xavier tiba-tiba bergerak. Jari-jarinya yang panjang dan hangat memegang pergelangan tangan Lucia.
Genggaman itu kuat tapi tidak kasar, cukup untuk menghentikan gerakannya sepenuhnya. Ia mengangkat tangan itu perlahan, seolah sedang memeriksa sesuatu yang berharga, memutarnya sedikit di bawah cahaya yang masuk dari jendela.
Bibir Xavier menyentuh punggung tangan Lucia lebih dulu. Hangat, lembut, dan lama.
Bukan sekadar ciuman formal, melainkan tekanan yang disengaja, bibir yang sedikit terbuka sehingga Lucia bisa merasakan kelembapan tipis di kulitnya.
Kemudian ia memutar pergelangan tangan itu, mengecup bagian dalam yang berdenyut kencang.
Bibirnya diam di sana beberapa detik, napasnya menghembus pelan di kulit yang sensitif, membuat bulu roma di lengan Lucia berdiri.
Jantung Lucia rasanya mau copot. Baru kali ini dia menikmati sentuhan laki-laki setelah sebelumnya sering menghindar dari pria yang mengejarnya.
“Kulitmu lembut dan harum,” gumam Xavier.
Wajah Lucia langsung panas, lalu menjalar dari pipi ke leher, dan turun ke dada. Ia tidak bisa berkata-apa.
Denyut di pergelangan tangannya semakin kencang di bawah bibir Xavier, seolah jantungnya memutuskan untuk pindah ke situ. Jari-jarinya sedikit bergetar di atas nampan.
Xavier melepaskan tangannya pelan, jari-jarinya menggeser kulit Lucia sampai ujung, seolah enggan benar-benar melepaskan.
Ia tidak melakukan apa-apa lagi. Hanya menatap. Lalu mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa Lucia boleh keluar.
Lucia membungkuk sedikit, mengambil nampan kosong, lalu keluar. Di koridor yang sepi, ia menyandar ke dinding sejenak sambil menenangkan diri.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Hanya Lucia yang diperbolehkan membersihkan ruang kerja dan kamar pribadi Xavier. Sang pangeran sendiri yang mengeluarkan perintah itu dengan suara yang tenang namun final.
Untuk pembersihan besar yang membutuhkan beberapa orang, maid lain tetap diperbolehkan masuk. Namun Lucia harus mengawasi.
Ia yang bertanggung jawab memastikan tidak ada yang hilang, rusak, dan digeser sembarangan dari tempat asal.
“Kenapa harus dia?” seorang maid senior pernah bertanya pelan di koridor, suaranya hampir tidak terdengar.
Tidak ada yang menjawab. Aturan dari pangeran tidak membutuhkan penjelasan.
Malam itu Lucia ditugaskan merapikan ranjang di kamar Xavier. Kamar itu luas, dipenuhi bayangan gelap kecoklatan. Bau kayu tua bercampur dengan sisa parfumnya yang samar.
Cahaya lampu minyak yang rendah membuat segalanya terasa lebih intim. Lalu terdengar seseorang masuk ke kamar dan menutup pintu.
Xavier sudah berdiri tepat di belakangnya. Tubuhnya tinggi, bayangan lebar menutupi hampir seluruh tubuh Lucia.
Udara di antara mereka tiba-tiba terasa panas. Tanpa sepatah kata pun, kedua tangannya meraih pinggang Lucia dari belakang.
Pantat Lucia menempel langsung ke selangkangan Xavier. Sesuatu yang keras, panas, dan jelas terasa menekan melalui kain celana dan rok maid-nya.
Bentuknya tegas, berdenyut pelan, menempel tepat di lekuk pantatnya. Napas Lucia langsung terhenti di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia hampir yakin Xavier bisa mendengarnya.
Panas menjalar dari titik kontak itu, naik ke tulang belakang, lalu turun lagi ke antara pahanya. Ada denyut aneh yang mulai berdenyut di bawah sana, basah yang perlahan merembes di celana dalam.
Xavier menunduk. Bibirnya menyentuh belakang telinga Lucia lebih dulu, hanya napas hangat yang menggelitik kulit sensitif.
Lalu ia mengecup, pelan, basah. Lidahnya menyentuh kulit Lucia sebentar, basah dan panas, sebelum ia menghisap dan menggigit leher.
Rasa sedikit nyeri bercampur nikmat yang tajam saat ia menghisap lebih kuat, meninggalkan bekas yang berdenyut. Noda merah membekas di leher.
Xavier lalu memutar tubuh Lucia dan memiringkan wajah gadis itu pelan ke arahnya. Ia menatap matanya sebentar, lalu menunduk. Bibirnya menyentuh bibir Lucia untuk pertama kalinya.
Ciuman itu dalam. Bibir Xavier hangat, basah, menekan dengan tekanan yang tidak terburu-buru namun tegas.
Lidahnya menyusup pelan, meminta akses dengan gerakan yang lambat dan sengaja, lalu masuk lebih dalam saat mulut Lucia terbuka tanpa sadar.
Sambil terus mencium, tangan Xavier naik. Telapaknya yang besar menempel di payudara kiri Lucia melalui kain baju seragam maid.
Ia meremas pelan, jari-jari mengulek bentuknya yang kenyal dan penuh, merasakan beratnya di genggaman.
Xavier lalu membuka bagian atas seragam Lucia, dan menyingkap bra-nya.
Ibu jarinya menemukan puting yang sudah mengeras, lalu menggosok memutar dengan tekanan yang pas.
Tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat sensasi seperti aliran listrik menjalar dari dada, turun ke perut, lalu lebih rendah lagi, membuat otot di bawah pusar mengencang.
Lucia menggigit bibir bawahnya, menahan suara yang ingin keluar. Lututnya lemas, denyut di antara pahanya semakin kencang, basah yang sekarang jelas terasa setiap kali ia bergeser sedikit.
Ciuman semakin basah. Lidah saling bermain, saling mengejar. Napas saling bertukar, panas dan tidak beraturan sampai bibir Lucia merah dan bengkak.
Mereka saling berpandangan dan terdiam. Lucia akhirnya membereskan pakaiannya dan pamit untuk kembali ke kamarnya.
Ada gairah yang bangkit dalam dirinya. Walaupun merasa tak pantas mendapatkan cinta sang pangeran, setidaknya Lucia ingin mencicipi tubuhnya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Satu bulan berlalu dengan cepat, Lucia semakin beradaptasi dengan pekerjaannya.
Xavier masuk ke ruang kerjanya ketika Lucia sedang membereskan rak buku di siang hari.
Lucia yang sedang menyusun volume-volume tebal di rak tertinggi langsung tersenyum melihat kehadiran sang pangeran.
Xavier berjalan mendekat tanpa bicara. Ia menarik Lucia dengan lembut, memutar tubuhnya, lalu mendudukkannya di pangkuannya di kursi kerja kulit hitam.
Lucia menghadap ke depan, kaki terbelah di sisi paha Xavier yang kokoh. Posisi itu membuat rok maid-nya naik sedikit, kain bergeser di paha.
Lucia merasakan sesuatu yang keras dan panas menekan pantatnya melalui celana formal Xavier. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin keluar dari dada.
Xavier memegang dagunya dengan jari-jari hangat, memutar wajahnya, dan menciumnya. Tangan Xavier yang satu memegang pinggang Lucia, menahannya tetap di pangkuan, sementara tangan yang lain masuk ke dalam rok.
Jari-jari hangat itu mengusap paha dalam Lucia terlebih dahulu, naik turun, pelan, membuat kulitnya bergidik hebat.
Lalu jari-jari itu menemukan celana dalam yang sudah basah kuyup. Xavier mengusap di luar kain, merasakan kelembapan yang sudah merembes. Ia menekan pelan di tengah, tepat di atas celah yang berdenyut.
Lucia menggeliat di pangkuannya. Sensasi kain basah yang digosok membuat klitorisnya terasa lebih sensitif dari biasanya.
Xavier mulai menggosok memutar, tekanan pas di titik yang membuat perut Lucia mengencang. Ia menekan lebih kuat, jari tengahnya menggesek naik-turun melalui kain tipis, tepat di atas klitoris yang sudah membengkak.
“Tuan…” desah Lucia, suaranya pecah.
Napasnya pendek, erangan tertahan keluar sebagai desahan di mulut Xavier. Tubuhnya menegang, paha mengapit tangan Xavier.
Tapi Xavier berhenti. Jari-jarinya diam, hanya menempel di kain basah. Ia melepaskan ciuman, mengecup kening Lucia dengan lembut.
“Belum,” bisiknya.
Lucia masih gemetar di pangkuannya, napas tidak beraturan, celana dalam basah dingin sekarang. Wajahnya panas, mata berkaca-kaca karena frustasi dan nikmat yang tertahan.
Xavier mengusap paha dalamnya sekali lagi, lalu dengan mudah menggendongnya. Ia menaruh Lucia di tepi meja kerja yang luas, di antara tumpukan dokumen dan pena.
“Buka kaki yang lebar,” perintahnya pelan, tapi tidak bisa ditolak.
Lucia menurut, wajahnya semakin merah. “Tuan, di sini? Kalau ada yang…”
“Tidak ada yang berani masuk,” potong Xavier lembut.
Ia mengangkat rok Lucia, lalu menarik celana dalamnya turun pelan hingga melewati pergelangan kaki. Xavier membuka pahanya lebih lebar, lalu menunduk.
Bibirnya menyentuh paha dalam terlebih dahulu, ciuman basah, naik perlahan menuju pusat. Lidahnya menjilat pelan, lalu mulutnya menutupi vagina Lucia sepenuhnya.
Lidah Xavier menyusup di antara bibir bawah yang sudah membengkak, menjilat dari bawah ke atas, lalu fokus di klitoris.
Ia menghisap pelan dulu, lalu lebih kuat, lidah memutar, menekan, menggesek. Lucia mengerang, tangan langsung memegang rambut Xavier, jari-jari mencengkeram erat.
“Tuan… ah…” suaranya gemetar, hampir menangis.
Sensasi itu luar biasa. Setiap hisapan menarik sesuatu dari dalam perutnya. Lidah Xavier kadang menusuk masuk ke lubang yang masih perawan, hanya ujungnya, lalu kembali ke klitoris, menghisap seolah ingin meminumnya.
Lucia menangis karena nikmat, air mata mengalir ke pelipis, erangan semakin keras, pinggulnya terangkat mengikuti mulut Xavier.
Tekanan di perut Lucia meledak. Tubuhnya menegang hebat, paha mengapit kepala Xavier, dan cairan menyembur deras membasahi meja kayu, dagu, dan wajah sang pangeran.
Xavier kemudian ia naik, menatap wajah Lucia yang masih gemetar dan basah oleh air mata.
Ia mencium bibir Lucia yang terbuka, membiarkan gadis itu merasakan rasa cairannya sendiri di lidahnya. Ciuman itu dalam, basah, penuh.
“Rasamu manis sekali,” bisiknya di antara ciuman. “Aku ketagihan.”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Keesokan harinya Xavier tidak ada jadwal inspeksi. Dia lebih banyak membaca laporan di kastil.
Lucia terlihat selesai menyapu ruangan kerja dan hendak keluar.
“Sudah selesai semua?” kata Xavier tiba-tiba.
“Hampir, Tuan. Saya tinggal… keluar.”
Xavier tidak menjawab. Ia hanya melangkah dan mengunci pintu.
“Masuk lagi, pekerjaanmu belum selesai.”
Mereka berjalan bersama. Xavier duduk di kursi kerja kulit hitamnya, menyandarkan tubuh, kaki sedikit terbuka.
Celana formalnya masih rapi, tapi tonjolan di selangkangannya sudah jelas terlihat, besar dan mengancam.
Lucia berdiri di hadapannya, napasnya memburu, jari-jari memegang ujung roknya dengan gugup.
Xavier menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Berlutut, Lucia.”
Suara itu lembut, tapi tidak bisa ditolak. Lucia turun ke lantai, karpet tebal menekan lututnya.
Jantungnya berdegup kencang. Ia belum pernah melakukan ini. Belum pernah melihat penis laki-laki dari dekat, apalagi menyentuhnya.
Xavier membuka resleting dengan gerakan lambat. Penisnya yang besar, sudah setengah tegang, keluar dengan panjang, tebal, urat-uratnya menonjol di bawah kulit.
Lucia terbelalak, bibirnya terbuka sedikit. Ia menunduk, wajahnya dekat, dan menghirup aroma musky yang asing tapi membuat perutnya bergejolak.
“Ini pertama kalinya, ya?” tanya Xavier, suaranya dalam. Tangannya turun, jari-jari menyisir rambut Lucia dengan lembut.
“Jangan takut, aku akan mengajarimu.”
Lucia mengangguk kecil, wajahnya merah padam. “Ya, Tuan, saya belum pernah.”
Xavier tersenyum tipis. “Bagus. Buka mulutmu. Julurkan lidah.”
Lucia menurut, bibirnya terbuka, lidahnya keluar pelan. Xavier memegang batangnya, mengusapkan kepala penis yang sudah mengkilap ke lidah Lucia.
“Jilat, pelan saja dari sini,” ia mengarahkan ke pangkal, “…sampai ke ujung.”
Lucia menjilat, ragu-ragu di awal. Lidahnya basah, hangat, menyusuri batang tebal itu. Rasanya aneh,asin sedikit, panas, dan berdenyut.
Xavier menghembuskan napas panjang. “Bagus, teruskan. Lebih kuat sedikit.”
Ia memegang dagu Lucia, mengangkat wajahnya.
“Sekarang, buka lebih lebar. Masukkan kepalanya ke mulutmu. Hisap pelan, seperti sedang menghisap permen.”
Lucia menurut, mendorong lebih dalam hingga hidungnya hampir menyentuh perut Xavier. Tenggorokannya penuh sesak, air matanya mengalir, tapi ia tidak berhenti.
Bunyi basah, erangan tertahan, dan desahan Xavier memenuhi ruangan. Namun gerakannya masih ragu, masih terlalu pelan dan tidak berirama, karena ini pertama kalinya.
Xavier merasakan itu. Tangannya yang tadinya hanya mengelus rambut Lucia kini mencengkeram lebih tegas di sisi kepala.
Ia mulai memandu, mendorong dan menarik kepala Lucia maju-mundur di batangnya. Gerakan itu dalam, teratur, memaksa penis tebal memenuhi mulut lalu keluar sebagian, lalu masuk lagi lebih dalam.
“Tuan…” desahnya samar di sela-sela, suara teredam oleh penis yang memenuhi mulut.
Tubuh Lucia mulai merespons sendiri. Ia mengambil alih gerakan. Kepalanya maju-mundur lebih cepat, lebih dalam, tangan yang memegang batang ikut mengocok sisa yang tidak masuk.
Ia mengisap kuat setiap kali mundur, lalu menelan lagi hingga hampir ke pangkal.
“Aku mau keluar,” Xavier menggeram, tangan masih mencengkeram rambut Lucia. “Kalau tidak mau kau telan, mundurlah.”
Lucia tidak mundur. Ia mengisap lebih kuat. Sperma kental, panas, menyembur deras langsung ke dalam mulut dan tenggorokan Lucia, terlalu banyak untuk yang pertama kali.
Lucia tersedak, berusaha menelan secepat mungkin, tenggorokannya bergerak cepat di sekitar batang yang masih berdenyut, tapi sebagian besar meluber dari sudut bibirnya, menetes ke dagu, leher, dan dada.
Air matanya mengalir deras, napasnya terengah-engah. Xavier menarik batangnya keluar dengan bunyi basah, sisa sperma menetes di bibir bengkak Lucia.
“Good job,” bisik Xavier serak, ibu jari mengusap sudut bibir Lucia yang basah.
“Kamu cepat belajar cantik.”
Lucia tersipu oleh pujian Xavier.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Hubungan Xavier dan Lucia semakin melewati batas. Para pengawal dan pelayan mulai menyadarinya dan bergunjing.
Tapi Lucia sudah tidak peduli. Toh noda cupang di lehernya memang susah ditutupi. Apalagi suara erangan di malam hari.
Malam ini adalah waktu yang dinanti, Xavier mengajak Lucia kencan untuk menikmati bintang di atas bukit.
Xavier berdiri di depan pintu kamar Lucia, tangan memegang gaun putih yang terlipat rapi. Matanya gelap di bawah cahaya lampu minyak.
“Ganti baju dengan ini, dan jangan pakai bra.”
Lucia menelan ludah, wajahnya memanas. Ia mengambil gaun itu dengan tangan sedikit gemetar dan berganti baju di hadapan Xavier.
Kain putih itu terasa dingin dan licin di jari-jarinya. Saat ia mengenakannya, ia langsung merasakan betapa sedikit kain yang menutupi tubuhnya.
Siluet halter yang sederhana digantung hanya oleh seutas pita sutra tipis yang diikat longgar di belakang lehernya.
Satu tarikan saja, dan seluruh bagian atas akan jatuh. Potongan depannya sangat rendah, menyingkap tulang selangka yang tajam dan belahan dada yang sexy.
Kain putih itu hanya menutupi separuh bawah payudaranya, seolah sengaja meninggalkan bagian atasnya terbuka.
Bagian belakangnya benar-benar kosong. Punggungnya terekspos sepenuhnya dari tengkuk hingga lekuk pinggang bawah.
Rok A-line yang longgar jatuh ringan di atas lutut, berkibar setiap langkah seperti sedang mengundang.
Kainnya begitu mudah disingkap. Satu gerakan tangan saja sudah cukup untuk mengangkatnya hingga pinggang, membuka akses langsung ke paha dan apa yang tersembunyi di baliknya,
Xavier berdiri diam, tatapannya naik pelan dari kaki hingga wajah. Nafsu di matanya begitu jelas hingga Lucia merasa kulitnya terbakar.
Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Lucia. Tanpa bicara, kedua tangannya menyusup masuk dari celah samping gaun yang terekspos.
Telapak hangat langsung menempel di kulit payudara yang telanjang. Ia meremas pelan, jari-jari mengulek bentuk yang kenyal, ibu jari menemukan puting yang langsung mengeras.
Lucia melenguh, suara nikmat lolos tanpa bisa ditahan. Putingnya tercetak jelas di kain putih tipis, dua tonjolan kecil yang semakin menonjol setiap kali Xavier menggosoknya.
“Tuan,” desahnya, tubuhnya sedikit menyandar ke belakang. “Gaun ini… terlalu…”
“Terlalu indah di tubuhmu,” potong Xavier di telinganya, napasnya hangat. Ia meremas lebih dalam sekali, lalu melepaskan dengan enggan.
“Ayo. Kudanya sudah siap.”
Kuda putih besar sudah dipasangi pelana. Xavier menaikkan Lucia terlebih dahulu, lalu naik di belakangnya.
Tubuh Lucia terhimpit di antara lengan Xavier yang memegang tali kekang. Punggungnya yang telanjang menempel ke dada Xavier yang kokoh, dan setiap napas laki-laki itu terasa di kulitnya.
Kuda mulai melangkah. Perjalanan menuju bukit memakan waktu hampir setengah jam. Jalan setapak menanjak pelan, dikelilingi pepohonan yang bergoyang di angin malam.
Setiap langkah kuda membuat tubuh Lucia berguncang. Payudaranya yang hanya tertutup separuh kain ikut bergoyang, puting yang masih keras bergesekan dengan kain tipis.
Xavier yang memegang tali kekang sesekali melepaskan satu tangan. Jari-jarinya menyusup lagi dari samping, masuk ke dalam gaun, meremas payudara Lucia yang berguncang.
Kadang ia hanya mengusap, kadang memencet puting dengan lembut hingga Lucia menggigit bibir menahan suara.
“Tuan, orang lain bisa melihat.” bisik Lucia, wajahnya panas, tapi pinggulnya tanpa sadar menekan sedikit ke belakang.
“Tidak ada siapa-siapa di sini,” jawab Xavier rendah, ibu jarinya memutar puting yang sudah sangat sensitif. “Hanya kita dan bintang.”
Payudara Lucia terasa semakin berat dan panas di genggamannya. Setiap guncangan kuda membuat remasan itu terasa lebih dalam.
Lucia bisa merasakan sesuatu yang keras menekan pantatnya dari belakang, penis Xavier yang sudah tegang di balik celana. Ia menelan ludah, jari-jari mencengkeram pelana hingga buku-bukunya memutih.
Angin malam semakin dingin saat mereka semakin tinggi. Langit di atas semakin gelap, bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Bulan purnama besar tergantung rendah, cahaya keperakannya membasuh bukit, pepohonan, dan tubuh mereka.
Xavier mengecup tengkuknya yang terbuka, bibirnya hangat di kulit dingin. Lucia merasa basah di antara pahanya, celana dalam tipis yang ia kenakan sudah lembap.
Setiap guncangan kuda seolah menambah siksaan nikmat yang tidak berhenti. Lucia hanya bisa melenguh keenakan.
Akhirnya kuda berhenti di puncak bukit. Pemandangan terbuka luas di hadapan mereka.
Dari mulai lembah di bawah terselimuti kabut tipis, langit penuh bintang, bulan purnama bersinar terang seolah hanya untuk mereka.
Xavier masih memeluk Lucia dari belakang, satu tangan tetap di dalam gaun, jari-jari malas mengusap payudara yang sudah sensitif.
“Cantik, bukan?” bisiknya di telinga Lucia, napasnya menggelitik.
Lucia hanya bisa mengangguk, tubuh masih gemetar di pelukan itu, putingnya masih tercetak jelas di kain putih yang kini sedikit basah oleh keringat dan sentuhan.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Xavier membantu Lucia turun dari kuda. Kaki Lucia masih sedikit gemetar saat menyentuh rumput dingin di puncak bukit.
Lima menit berlalu dalam keheningan menikmati pemandangan.
Lalu pandangan mereka bertemu. Lucia menunduk malu, tapi Xavier mengangkat dagunya pelan. Ciuman pertama malam itu canggung, hanya bibir menyentuh bibir, napas tertahan.
Tapi dalam hitungan detik ciuman itu berubah. Xavier menekan lebih dalam, lidahnya masuk, menghisap, melilit. Lucia membalas, tangan memegang baju Xavier, tubuhnya maju tanpa sadar.
Mereka jatuh terduduk di rumput. Xavier menekan tubuh Lucia hingga telentang di atas rumput yang basah embun di puncak bukit.
Cahaya keperakan rembulan membasuh kulit gadis itu, membuatnya tampak seperti sesuatu yang suci dan belum ternoda
Tangan Xavier menyingkap rok gaun putih itu dengan tergesa, naik hingga pinggang. Celana dalam tipis Lucia sudah basah total, kainnya gelap oleh cairan.
Xavier menariknya turun sekali tarik, lalu melempar begitu saja ke samping hingga hilang di rumput.
Dengan gerakan cepat ia membuka celananya sendiri. Penisnya yang besar dan panjang sudah tegak sempurna, urat-urat menonjol, kepala mengkilap di bawah cahaya bulan.
Lucia menatapnya dengan mata melebar, napas memburu.
Xavier menekuk lutut Lucia kuat-kuat ke dada, hampir menyentuh bahu, lalu menekan ke bawah hingga tubuh Lucia terlipat sempurna, tidak berdaya.
Xavier menindih total, berat tubuhnya menekan, penis yang panas menempel di celah basah yang masih perawan.
“Tuan, saya takut.” bisik Lucia, suara bergetar.
Xavier mendorong masuk. Kepala penis meregangkan lubang sempit. Sedikit demi sedikit ia menyeruak masuk, meregangkan dinding yang belum pernah disentuh.
Lucia menangis pelan karena rasa perih yang tajam. Ia masuk lebih dalam, pelan-pelan, sampai selaput dara jebol.
Di detik itu, dunia Xavier seolah meledak.
Di dalam benaknya, langit malam tiba-tiba penuh bintang yang meledak satu per satu. Ledakan perak dan emas yang membakar retina pikirannya.
Panas luar biasa menjalar dari ujung penisnya naik ke seluruh tulang belakang, seperti setruman listrik yang menghantam setiap saraf. Tubuhnya bergetar hebat, otot-otot mengencang, napas tertahan.
Energi panas yang liar memenuhi dadanya, seolah sesuatu yang kuno dan gaib baru saja terbangun.
Di atas kulit Lucia, tepat di sekitar perut bawah dan paha dalam, titik-titik cahaya kecil muncul, berkelip-kelip seperti kunang-kunang di malam musim panas.
Sinar-sinar halus itu menari di atas kulitnya yang basah keringat dan darah, berkelip cepat, indah, lalu padam satu per satu hingga menghilang sepenuhnya.
Dan di telinga Xavier, bisikan gaib yang bukan suara manusia berbisik lembut namun jelas, seolah datang dari bintang-bintang yang baru saja meledak.
“Luce Stellare menjadi milikmu, Xavier.”
Xavier menggeram rendah. Penisnya sudah menancap penuh di dalam Lucia, darah perawan hangat membasahi batangnya.
Ia merasakan setiap denyut dinding yang sempit, setiap getaran rasa sakit dan nikmat yang dilalui gadis di bawahnya.
Energi panas itu masih mengalir di tubuhnya, membuat setiap genjotan terasa lebih dalam, lebih liar.
Xavier mulai bergerak. Genjotan pertama masih dalam dan kuat, menghujam vertikal hingga ujungnya terasa menyentuh rahim.
Sakit langsung menusuk. Lucia menangis, air mata mengalir ke pelipis, tubuhnya menegang, erangan kesakitan keluar dari tenggorokannya.
“Sakit Tuan, sakit sekali,” isaknya.
Setiap kali Xavier masuk penuh, setruman itu kembali menjalar di tulang belakangnya. Ia menunduk, mencium air mata Lucia, lalu menggigit bibir bawah gadis itu pelan.
“Kamu, Luce Stellare-ku,” geramnya di sela napas yang memberat. “Cahaya Bintang milikku.”
Lucia yang tidak tahu maksud perkataan Xavier hanya mengerang kesakitan bercampur desahan. Xavier menggenjot tanpa memberi jeda. Bunyi basah bercampur darah memenuhi malam.
Tubuh Lucia gemetar hebat di bawahnya, payudara berguncang, perut naik-turun.
Xavier menunduk, mencium Lucia dengan brutal. Lidahnya masuk dalam, melilit, menghisap, menelan setiap desahan kesakitan dan nikmat yang keluar dari mulut Lucia.
Nyeri perlahan berubah. Setiap kali penis itu masuk penuh, sesuatu yang enak mulai membangun di dalam perut Lucia.
Desahannya berubah, lebih panjang, lebih tinggi. Air matanya masih mengalir, tapi sekarang bercampur nikmat yang membingungkan.
Xavier menggenjot lebih dalam, lebih cepat, menekan lututnya lebih kuat ke dada. Sudut itu membuat setiap hujaman terasa menusuk langsung ke titik paling sensitif. Lucia menangis lagi, tapi kali ini erangannya penuh nafsu.
Tubuhnya menegang hebat. Orgasme datang tiba-tiba. Gelombang panas yang meledak dari dalam, membuatnya kejang di bawah tubuh Xavier.
Cairan membasahi batang yang masih bergerak, paha bergetar tak terkendali. Ia mendesah keras di mulut Xavier, air mata terus mengalir.
Xavier belum selesai. Ia masih menghujam, masih dalam, masih menahan lutut Lucia dengan kuat, seolah ingin menanamkan dirinya lebih dalam lagi di tubuh yang baru saja ia pecahkan.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Dengan penis masih menancap dalam-dalam di vagina Lucia, Xavier mengulurkan tangan ke belakang leher gadis itu. Jari-jarinya menarik pita sutra tipis yang mengikat gaun putih.
Satu tarikan saja, tali itu longgar, lalu terlepas. Bagian depan gaun jatuh terbuka, terlihat buah dada Lucia yang kenyal dan basah oleh keringat terguncang bebas di udara malam yang dingin.
Payudara nampak bengkak dan merah, sensitif karena diremas tanpa henti saat perjalanan naik kuda. Putingnya sudah mengeras dan tegak.
Xavier terus menggoyang tanpa ampun. Kali ini kedua kaki Lucia tanpa sadar naik, memeluk pinggang Xavier, menariknya lebih dekat seolah tubuhnya sendiri meminta lebih meski masih perih.
Xavier menunduk, meremas payudara kiri dengan satu tangan sambil mulutnya mengulum yang kanan. Ia menghisap kuat, lidah memutar, lalu menggigit pelan hingga Lucia mengerang.
Xavier berganti sisi, mengulum payudara kiri, menghisap hingga pipinya cekung, meninggalkan bekas merah keunguan.
Ia tidak lupa menciumi dan menggigit leher Lucia, dada, dan sekitar puting. Setiap cupang ditinggalkan dengan sengaja, seolah menandai.
Tubuh Lucia kini dipenuhi keringat yang mengilap di bawah cahaya bulan dan noda-noda merah di kulitnya yang mulus. Entah bagaimana reaksi pelayan lain esok hari.
Xavier merasakan energi itu semakin memuncak, dari mulai panas, setruman, dan ledakan bintang di balik kelopak matanya setiap kali ia menghujam.
Tidak lama kemudian puncaknya datang. Xavier menanamkan dirinya sedalam mungkin, erangan rendah keluar dari tenggorokan saat ia orgasme.
Lahar panas menyembur deras ke dalam rahim Lucia. Banyak, kental, seolah seluruh energi yang baru saja ia rasakan ikut tercurah bersama spermanya.
Ia terus berdenyut di dalam, memenuhi, menandai, sementara bisikan gaib itu masih bergema di telinganya.
“Luce Stellare milikmu.”
Xavier tetap menancap penuh, napas memberat, dahi menempel di kening Lucia yang basah air mata dan keringat.
Sperma Xavier memenuhi ruang sempit yang masih perih. Lucia merasakan panas itu menyebar di dalam, bercampur dengan darah perawannya. Akhirnya Lucia orgasme lagi.
Saat Xavier menarik keluar, lelehan campuran cairan cinta dan darah perawan mengalir keluar dari lubangnya yang masih berdenyut, membasahi rumput di bawah mereka.
Ia membantu merapikan gaun putih yang sudah berantakan agar menutupi tubuh gadis itu semampunya.
“Ayo pulang,” bisiknya di telinga Lucia, mengecup pelan bekas cupang di leher. “Kamu harus istirahat.”
Lucia masih terengah, tubuh lemas, setiap gerakan terasa perih dan basah di antara pahanya. Ia hanya bisa mengangguk pelan, suara serak keluar,
“Ya, Tuan…”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Dengan mudah Xavier mengangkat tubuh ringan Lucia ke atas pelana kuda yang gagah.
Ia masih belum mengikat kembali penutup dada gaun Lucia. Di bawah cahaya bulan, ia mengamati perut gadis itu yang sedikit kembung.
Sperma Xavier masih hangat dan meluber pelan dari vagina Lucia yang baru saja direnggut kesuciannya, membasahi paha dalam.
Celana dalamnya sudah lama hilang di rumput bukit, sehingga bibir vaginanya yang bengkak langsung tersentuh pelana kulit yang keras dan sedikit kasar. Udara malam yang sejuk menyapu kulit mereka.
Dengan jari tengahnya Xavier mendorong kembali cairan kental yang mengalir keluar, campuran spermanya dan darah perawan, masuk lagi ke dalam vagina yang masih berdenyut.
Lucia duduk di depan, menghadap ke arah jalan. Xavier naik di belakangnya, dada bidangnya menempel rapat ke punggung yang terbuka.
Saat Lucia mengulurkan tangan hendak mengikat tali gaun di leher, Xavier menangkap pergelangannya dan menariknya kembali.
“Jangan dulu,” bisiknya serak di telinga. “Aku masih mau menikmati tubuhmu.”
Tangan kiri Xavier memeluk pinggang ramping Lucia yang bertelanjang dada, sementara tangan kanan memegang tali kekang.
Dia lalu mengeluarkan penisnya yang kembali tegak dari celana panjangnya yang ternyata masih terbuka.
Xavier lalu mendorong tubuh Lucia membungkuk ke depan, mengangkat sedikit roknya, lalu mengarahkan batang penisnya yang masih keras dan berdenyut dari belakang.
Kepala tebal itu menggesek bibir vagina yang licin oleh campuran cairan sebelumnya. Ia menarik pinggul Lucia ke bawah sambil mendorong pinggulnya sendiri ke atas.
Plop.
Kepala penis masuk perlahan. Lucia menjerit kecil, jari-jari mencengkeram tangan Xavier hingga kuku meninggalkan jejak merah.
Lucia mendesah kencang, kepala mendongak sebentar lalu kembali membungkuk. Xavier menusuk sampai separuh batang masuk, meregang dinding yang masih ketat dan perih.
Dengan satu dorongan pelan tapi mantap, seluruh batangnya tenggelam di dalam. Lucia gemetar hebat, vagina-nya berkedut kuat menggenggam penis Xavier.
Tangan kiri Xavier naik ke depan meremas kedua payudara yang sudah bebas. Jari-jarinya mencubit dan memilin puting hingga memerah.
Kuda mulai melangkah pelan menyusuri jalan setapak menurun. Setiap langkah menghasilkan goncangan yang membuat penis Xavier tergoyang masuk-keluar secara otomatis di dalam Lucia.
Gesekan konstan itu mengenai dinding depan dan klitoris yang tertekan ke pelana. Xavier sesekali mengangkat pinggulnya pelan, mendorong penisnya lebih dalam, lalu membiarkan goncangan kuda yang mengerjakan sisanya.
Tangan kanannya turun, menggosok klitoris Lucia dengan jari tengahnya yang kasar, sementara tangan kirinya terus meremas payudara dan memilin puting.
Lucia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tangannya meraih ke belakang, mencengkeram rambut Xavier. Sensasi luar biasa di tubuhnya membuatnya melupakan status sang pangeran.
Pria itu membalas dengan gigitan di bahu Lucia, meninggalkan cupang baru sambil meremas payudara gadis itu lebih kasar.
Sepuluh menit berlalu. Goncangan ritmis terus menggesek. Lucia sudah tidak kuat. Tubuhnya menegang hebat, vagina berdenyut seperti memijat batang di dalamnya.
Lucia kejang di depan Xavier, kepala terlempar ke belakang hingga menyentuh dada bidangnya, cairan kembali menyemprot.
Xavier segera menarik penisnya keluar sebelum lepas sendiri karena goncangan, dan menahan pinggul Lucia agar tidak lepas saat kuda melewati sedikit tonjolan tanah.
Cairan Lucia langsung meluber deras ke pelana.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Xavier menarik tali kekang, dan menghentikan kuda di samping pohon besar yang teduh di tepi jalan.
Malam masih panjang, ia ingin menyelesaikan hasratnya di sini, tak sanggup jika harus menunggu sampai di kastil walaupun jaraknya sudah dekat.
Dengan cepat ia turun, lalu mengangkat Lucia yang masih lemas. Ia memutar tubuh gadis itu, menekan dada Lucia ke batang pohon yang kasar. Gaun putih terangkat tinggi hingga pinggang.
Xavier memegang pinggang Lucia erat, lalu mendorong masuk lagi dalam sekali hujaman. Kali ini tidak ada goncangan kuda yang pelan, hanya genjotan cepat, intens, dan dalam.
Bunyi kulit bertemu kulit memenuhi malam. Payudara Lucia yang sudah memar berguncang hebat setiap kali ia menghujam, digosok ke kulit pohon.
Xavier memainkan payudara dari belakang lagi, jari-jari meninggalkan bekas lebih jelas, sambil menggenjot tanpa ampun.
Pantat montok Lucia kali ini tidak luput untuk diremas dan ditepuk sampai merah.
Beberapa menit kemudian ia menanamkan dirinya penuh, erangan rendah keluar dari tenggorokannya saat sperma panas menyembur deras ke rahim Lucia lagi.
“Terima ini… milikku,” geramnya.
Ia tetap di dalam beberapa saat, napas memberat, sebelum menarik keluar perlahan.
Cairan kental langsung mengalir turun di paha Lucia. Xavier memutar tubuh gadis itu, menekan punggungnya ke pohon, lalu menciumnya dengan panas.
Lidah bertaut dalam, basah, penuh nafsu. Sementara tangan meremas pantat Lucia yang mulai bengkak dan panas karena sebelumnya di-spank.
Lucia membalas ciuman itu dengan lemas, tubuh gemetar sisa overstimulation. Dia berbisik lirih bahwa sangat mencintai Xavier, dan minta maaf atas perasaan hina dari pelayan ini.
Xavier melihat wajah cantik Lucia yang merah dan basah oleh keringat dan air mata dengan puas.
Akhirnya, ia bisa memilikinya.
The End??

Comments
Post a Comment