Kukira Dia Cupu, Ternyata CEO ~ LOVE UNCUT

Malam bersama Valko, sosok yang baru kutemui, aku membawanya ke rumahku untuk menolongnya. Apa yang terjadi? Love Uncut Bonus Chapter.



Kisah lengkapnya di sini

Kukira Dia Cupu, Ternyata CEO


Aku bahkan belum sempat menyalakan lampu kamar ketika Valko tiba-tiba mengangkat tubuhku dengan mudah. Kedua tangan besarnya merangkul pinggang dan paha belakangku, menggendongku seolah aku tidak memiliki bobot sama sekali. 


Aku menggigit bibir, tanganku otomatis melingkar di lehernya yang tegang. Aroma tubuhnya sudah sangat kuat sekarang.


Bayangkan campuran antara keringat, feromon Alpha yang pekat, dan sesuatu yang membuat kepalaku pusing.


Dia mendorong pintu kamar dengan bahu, lalu langsung membawaku ke tempat tidur. Begitu punggungku menyentuh kasur, bibirnya sudah menempel di bibirku. Ciuman itu panas, rakus, hampir brutal.


Lidahnya menyusup masuk, menari dengan lidahku dalam irama yang basah dan mendesak. Aku mendesah ke dalam mulutnya, tanganku mencengkeram bahunya yang lebar. 


Singlet hitamnya sudah basah oleh keringat, otot-otot di punggungnya bergerak keras di bawah telapak tanganku.


“Sekali lagi aku tanya, kamu beneran mau kan?” gumamnya di sela ciuman, suaranya parau dan bergetar menahan nafsu.


“Ya, aku mau. I give you my consent,” jawabku hampir kehabisan napas.


Karena tidak sabar, Valko menarik piyama yang kukenakan. Kain katun lembut itu robek dengan kasar saat ia menariknya dari atas hingga ke bawah dalam satu gerakan kuat.


Haha, bisa-bisanya aku bersyukur karena sempat berganti baju dari seragam kerja ke piyama yanh sudah lama ini, jadi ketika sobek aku gak terlalu sedih.


Bayangkan kalau tadi masih memakai baju kerjaku. Pastinya membeli seragam hunter baru cukup merepotkan.


Tapi aku tetap merasa kaget dengan spontanitasnya. Tubuhku jadi sedikit menegang. Piyamaku dilempar begitu saja ke lantai.


Kali ini tangannya secara perlahan membuka kaitan bra. Payudaraku langsung terpapar udara dingin kamar yang masih berbau hujan. Menyisakan aku hanya dengan celana dalam tipis.


Ia menunduk, mulutnya langsung menyambar salah satu putingku. Lidahnya berputar, mengisap kuat, lalu menggigit pelan hingga aku melengkungkan punggung dan mendesah keras.


Tangan satunya meremas payudara yang lain, jempolnya mengusap puting yang sudah mengeras. 


Setiap hisapan dan remasan membuat getaran panas menjalar ke bawah perutku. Aku meremas rambutnya, napasku tersengal.


“Valko… ah…”

Tangannya turun lebih rendah. Jemari kasar itu menyusup ke balik celana dalamku, langsung menemukan klitorisku yang sudah membengkak.


Ia mengusapnya dengan gerakan melingkar yang mantap, kadang menekan, kadang menepuk pelan. Tubuhku bergetar. Aku basah sekali. Ia mendengus puas di leherku, lalu menarik celana dalamku ke bawah dan membuangnya.


Satu jarinya menyusup masuk. Aku menggigit bibir kuat-kuat. Masih sangat sempit. Rasanya penuh, ada nyeri kecil yang menusuk, tapi ia terus mendorong pelan hingga ruas kedua. 


Jarinya bergerak keluar-masuk, perlahan lalu semakin cepat, ibu jarinya terus menggosok klitorisku tanpa henti. 


Nyeri itu perlahan berubah menjadi gelombang panas yang basah. Bunyi kecipak kecil terdengar setiap jarinya bergerak. Aku sudah sangat basah, cairanku membasahi telapak tangannya.


“Gimana, kamu terasa enak? Atau ada yang gak nyaman?” tanyanya parau sambil menciumi leherku.


Aku hanya bisa mengangguk cepat, pinggulku bergerak sendiri mengikuti irama jarinya. Valko akhirnya menarik tangannya. 


Ia berdiri sebentar di sisi tempat tidur, menurunkan celana trainingnya sekaligus boxer. Batangnya langsung melompat keluar—besar sekali. 


Panjang, tebal, penuh urat menonjol yang berdenyut-denyut, kepalanya sudah mengkilap oleh precum. 


Aku terbelalak kaget. Napasku tertahan. Jujur aku jadi sedikit takut dan berniat mundur melihat ukurannya.


“Valko… tunggu, itu...” aku berkata lirih tapi terputus.


Terlambat.


Matanya sudah benar-benar tak terkendali. Rahangnya tegang, otot-otot lengannya menonjol keras. 


Ia merangkak naik ke atas tubuhku seperti serigala, membuka lebar kedua pahaku dengan lututnya, lalu menekan batangnya yang panas dan berat ke mulut vaginaku yang sudah basah sekali.


Dengan satu hujaman kuat, ia masuk hingga pangkal.“


Ahhh!!!”


Sensasinya luar biasa. Penuh. Meregang. Nyeri bercampur kenikmatan yang meledak-ledak. 


Karena sudah sangat basah dan terangsang dari foreplay tadi, tubuhku langsung bereaksi hebat. Otot-otot dalamku mengejang kuat menggenggam batangnya. 


Gelombang orgasme datang begitu cepat dan kuat, tanpa peringatan. Punggungku melengkung tinggi, kakiku mengejang, jari-jemariku mencengkeram seprai hingga memutih. 


Aku menjerit, suaraku pecah di tengah gemuruh petir di luar.


Valko mendengus panjang, hampir seperti geraman. Ia menahan diri di dalamku yang berdenyut-denyut hebat, merasakan setiap kontraksi orgasme pertamaku yang menyedot batangnya. 


Napasnya kasar di telingaku, tubuh besarnya menindihku dengan sempurna, otot-ototnya tegang menahan dorongan untuk bergerak lebih liar.


Aku masih bergetar, cairan orgasmeku membasahi pangkal batangnya yang masih tertanam dalam-dalam. Pikiranku kosong. Hanya ada sensasi penuh, panas, dan getaran nikmat yang belum reda.


Valko menatap wajahku yang memerah, tatapannya gelap penuh kepuasan primitif.


“Masih mau lanjut?” tanyanya dengan suara yang hampir hilang, sambil pelan-pelan menarik pinggulnya sedikit ke belakang, siap menghujam lagi.


Valko tidak menunggu jawaban panjang. Dengan geraman rendah yang bergetar dari dada bidangnya, ia mulai menggoyang tubuhku dengan liar. 


Setiap hujaman kuat dan dalam, batangnya yang tebal dan berurat menyodok hingga ke dasar rahimku berulang kali. Suara kecipak basah dan benturan kulit memenuhi kamar, bercampur dengan suara hujan deras dan petir di luar.


Tubuhku bergoyang-goyang di atas kasur seperti boneka. Payudaraku bergoyang liar mengikuti iramanya. Ia menunduk, mulutnya langsung menyerang leherku.


Gigi-giginya menggigit kulit sensitif di sana, menghisap kuat hingga meninggalkan jejak merah yang panas. 


Aku menjerit kecil, campuran nyeri dan kenikmatan yang tajam. Insting serigala Alpha dalam rut-nya semakin terlihat jelas. Gerakannya tidak lagi sekadar nafsu manusia, tapi primal, posesif, seolah ingin menandai setiap inci tubuhku sebagai miliknya.


“Mine…” desisnya parau di telingaku, suaranya hampir bukan suara manusia biasa.


Ia turun ke dada. Mulutnya menyambar payudaraku lagi, mengisap putingku dengan rakus sambil menggigit pelan hingga aku mencengkeram rambutnya kuat-kuat. 


Tangan besarnya meremas pinggulku, menahan tubuhku agar tetap terbuka lebar untuknya. Setiap kali ia menghujam dalam, perutku terasa penuh, rahimku berdenyut-denyut menyambut batangnya yang panas dan berdenyut.


Nikmatnya luar biasa. Terasa primal seperti sedang ditaklukkan oleh binatang buas yang sedang lapar, dan tubuhku justru merespons dengan hebat. 


Cairanku semakin deras, membasahi pangkal batangnya dan seprai di bawah kami. Aneka cairan cinta bercampur di sana.


Setiap gigitan di leher, dada, bahu, dan bahkan pinggir payudaraku meninggalkan rasa panas yang menyebar ke seluruh tubuh. 


Aku mendesah dan menjerit tanpa kendali, kuku-kukuku meninggalkan goresan merah di punggung lebarnya.


“Valko… ahh! Terlalu… dalam…”


Ia tidak melambat. Malah semakin liar. Pinggulnya bergerak seperti piston, batangnya keluar-masuk dengan suara basah yang mesum. 


Keringatnya menetes ke tubuhku, bau Alpha-nya semakin pekat, membuat kepalaku semakin pusing oleh feromon. 


Rahangnya tegang, mata gelapnya menatap wajahku seolah aku adalah satu-satunya yang ada di dunia ini.


Akhirnya tubuhnya menegang hebat. Otot-otot lengannya dan dadanya menggembung keras. Ia mendorong hingga paling dalam, kepala batangnya menekan langsung ke mulut rahimku.


“Terima ini…” geramnya kasar.


Semprotan panas yang tebal menyembur kuat di dalam rahimku. Valko mendengus panjang, tubuhnya bergetar saat ia memompa cairannya berkali-kali, memenuhi aku hingga penuh. 


Rasanya panas, banyak, dan begitu dalam. Aku orgasme lagi untuk kedua kalinya, vaginaku mengejang kuat menggenggam batangnya, menyedot setiap tetes sperma Alpha yang keluar.


Kami berdua terengah-engah lama sekali. Akhirnya Valko menarik batangnya keluar dengan pelan. Begitu ujungnya lepas, cairan putih kental langsung mengalir keluar dari vaginaku yang masih berdenyut. 


Ia menekan perutku dengan telapak tangan besarnya, menekan pelan ke bawah. Aku terkesiap. Lebih banyak lagi cairan campuran, cairanku sendiri yang bening dan sperma putihnya yang kental, semuanya keluar dengan deras, membasahi paha dalamku dan seprai.


Valko menatap ke bawah dengan tatapan puas dan masih gelap. Napasnya masih memburu. Jari-jarinya menyentuh vaginaku yang bengkak dan basah, mengusap pelan campuran cairan itu seolah bangga dengan tanda yang ditinggalkannya.


“Kamu… luar biasa,” gumamnya parau, suaranya masih berat oleh sisa rut. Ia membungkuk, mencium keningku yang basah oleh keringat, lalu turun ke leher yang penuh jejak gigitan merah.


Tubuhku masih gemetar hebat. Rahimku terasa penuh, hangat, dan denyutannya belum berhenti. Hujan di luar masih deras, tapi di dalam kamar ini hanya ada suara napas kami yang tersengal dan aroma seks yang pekat.


Valko menarik tubuhku ke dalam pelukannya, dada bidangnya yang masih panas menempel di punggungku. 


Batangnya yang belum sepenuhnya lemas menekan di antara pangkal pahaku, seolah siap untuk ronde berikutnya kapan saja.


Pelan-pelan dia masukkan kembali batangnya ke dalam tubuhku.


Aku masih gemetar hebat, napas tersengal-sengal, dan rahimku terasa penuh serta berdenyut-denyut oleh sisa orgasme dan cairan Valko yang masih hangat di dalam. 


Keringat membasahi seluruh tubuh, rambut menempel di dahi, dan paha dalamku lengket oleh campuran cairan kami. Badanku terasa letih.


“Valko… udah,” bisikku lirih, suaraku serak dan lemah. “Aku capek…”


Valko tidak langsung mencabut. Ia membaringkan tubuhnya di sampingku sambil tetap memeluk erat. Batangnya yang masih keras dan berdenyut tertancap dalam-dalam. Setiap gerakan kecil membuat kami berdua mendesah pelan. 


“Aku lapar, pengen makan pizza,” gumamku tidak jelas.


“Udah malam, besok aja aku pesenin pizza gimana? Weekend semestinya hunter libur kalau gak ada tugas mendadak kan?”


Aku melihat wajah Valko dengan mataku yang sudah tidak fokus karena kelelahan sambil tersenyum.


“Emangnya besok kamu masih di sini? Haha, emangnya kamu nyata? Hoaaahm apa aku lagi mimpi ya?” racauku tidak jelas karena mulai ngantuk karena overstimulasi.


Cairan campuran kami terus menetes pelan keluar dari sambungan kami, membasahi paha dan seprai.


Ia menarik selimut menutupi tubuh kami yang basah keringat, lalu mencium keningku dengan lembut. Aku kembali menguap.


Lengan kekarnya melingkar di pinggangku, dada bidangnya menempel hangat di punggungku. Batangnya tetap tertancap di dalam, menghubungkan kami secara intim bahkan saat nafsunya mulai reda.


“Tidur,” bisiknya di telingaku, suaranya sudah lebih tenang tapi masih serak. “Aku di sini.”


Hujan di luar masih deras, petir sesekali menggelegar jauh. Di dalam pelukannya yang hangat dan penuh, dengan batangnya yang masih terasa penuh di dalam rahimku, aku akhirnya menyerah pada kelelahan. 


Mata kami tertutup bersamaan, tubuh saling menempel erat, napas kami perlahan menyamai irama hingga kami tertidur pulas dalam pelukan yang basah dan intim.

Comments

Popular posts from this blog