Sesi Potret ~ LOVE UNCUT
Aku duduk bersila di lantai, print-out referensi bertebaran di sekelilingku seperti kelopak bunga yang jatuh.
Di depanku ada Zayne, partner kerja sekaligus sahabatku.
Cahaya sore menembus gorden tipis di kamar kosanku, membuat debu di udara tampak menari pelan.
Zayne duduk di kursi di depanku, kacamata tipisnya sedikit melorot ke ujung hidung sementara jemarinya mengusap layar tablet dengan gerakan yang tenang.
“Aku punya tiga konsep buat konten kali ini,” kataku pelan, mendorong kertas-kertas itu mendekat ke arahnya.
“Kamu masih suka ngeprint ya? Padahal kalau mau hemat, kamu bisa mengirim file-nya saja.”
Jawabannya singkat, tapi matanya sempat melirikku sebentar sebelum kembali ke layar.
Kuakui aku memang masih old school, karena topik kali ini sangat penting, aku meluangkan waktu untuk mengeprint materi agar lebih mudah dijejer di lantai.
“Yang pertama temanya soft pastel. Lokasi foto bisa di studio atau di kosanku. Aku pakai piyama dan lingerie. Material kain dipilih yang longgar, tipis, dan agak tembus cahaya.”
“Fokusnya pada kain berwarna pastel lembut yang menempel di kulit. Tentunya dengan pose santai seperti baru bangun tidur, atau lagi berganti baju sendirian di kamar.”
Zayne mengangguk pelan.
“Yang kedua sesi foto akan dilakukan outdoor, semoga kita bisa shoot di pantai. Aku pakai baju renang, dari mulai yang one piece sampai bikini menantang.”
“Kita bisa capture cahaya sore, angin yang membawa bau laut, dan pasir yang masih basah di kaki. Sexy tapi masih terkesan alami, dan ada suasana liburan.”
“Oke,” gumam Zayne.
“Yang ketiga, ini tergantung persetujuanmu.”
Aku membuka halaman berikutnya di tablet, sambil menyerahkan berkas yang sudah ku-print.
“Konten full dan panas,” suaraku pelan karena menahan malu.
“Maksudmu, seberapa panas?”
Aku tertawa kecil, merasa pipiku menghangat.
“Mulai dari pose sensual dulu, masih memakai sedikit kain, lalu pelan-pelan bugil. Setelah itu adegan yang lebih intim. Tentunya sama kamu, kalau kamu bersedia. Tapi kamu tidak perlu muncul dan menampakkan wajah.”
Aku memberanikan diri mengutarakan ide gila ini dengan tegar dan siap ditolak. Dia terdiam cukup lama. Hanya napasnya yang terdengar, pelan dan dalam.
“Kamu sendiri sudah yakin? Batasnya sampai mana?”
“Yakin!” jawabku, meski detak jantungku terdengar lebih kencang di telinga.
“Ini konten berbayar. Para penggemarku menunggu sesuatu yang lebih berani dan inovatif.”
Zayne menarik napas pelan, seolah menimbang setiap kata.
“Subscriber membayar mahal, Zayne,” kataku pelan.
“Baik, kali ini aku akan membantumu.”
Aku tertawa pelan dan memeluknya.
“Terima kasih sahabatku!”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Aku berdiri di tengah ruangan, hanya memakai robe sutra tipis yang longgar. Jari-jariku menggenggam ujung sabuknya erat-erat.
Sesi foto piyama dan pantai telah berhasil dilalui dan sukses besar. Hari ini adalah sesi foto ketiga, yang paling panas.
Di seberang, Zayne sedang menyesuaikan tinggi tripod. Gerakannya tenang, tapi bahunya sedikit lebih kaku dari biasanya.
“Aku sudah siap,” kataku akhirnya, suara hampir berbisik.
Zayne menoleh, matanya menatapku lama melalui kacamata tipisnya.
“Pelan-pelan saja. Kalau sewaktu-waktu ingin berhenti, bilang.”
Aku mengangguk. Jari-jariku melepaskan sabuk robe. Kain sutra itu meluncur dari bahu, jatuh ke lantai dengan bunyi lembut yang hampir tidak terdengar.
Udara dingin dari AC studio menyentuh kulitku yang telanjang untuk pertama kalinya di depan kamera. Terasa dingin, menggelitik, membuat putingku mengeras seketika.
Kedua tanganku secara naluriah naik, menutupi dada. Pose pertama masih pemalu dengan bahu sedikit membungkuk, lutut rapat, wajah menunduk, rambut jatuh menutupi separuh wajah.
“Angkat wajahmu sedikit,” kata Zayne pelan sambil membidik lewat kamera. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang hanya untukku.
“Lihat ke arah jendela. Bayangkan tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya kamu, udara, dan cahaya.”
Cahaya menyinari di tulang selangka, di lekuk leher, dan di kulitku yang mulai merinding.
Jari-jari bergeser menyibak sedikit, membiarkan sisi payudara terekspos. Sampai akhirnya kedua telapak hanya menopang dari bawah, menyajikan bentuknya yang penuh dan berat ke arah kamera.
Puting yang sudah mengeras menghadap lurus ke lensa, mengilap tipis karena keringat halus.
Klik, klik.
Zayne menelan ludah.
“Duduk di tepi kasur. Kaki dibuka sedikit lebih lebar. Tangan di paha dalam, tarik pelan.”
Aku duduk di atas seprai dingin menyentuh pantat telanjang. Lututku membuka, paha meregang, membiarkan kamera melihat celah di antara keduanya yang sudah sedikit mengkilap.
Jari-jariku menekan paha dalam, menarik kulitnya ke samping, membuka diriku lebih jelas. Udara studio langsung menyentuh bagian yang paling sensitif, membuatku menggigit bibir.
Klik, klik.
Pose demi pose terus berubah. Ketika akhirnya Zayne menurunkan kamera, suaranya serak.
“Cukup untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi.”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Keesokan harinya, terbersit ide nakal di pikiranku. Sepertinya sesi foto kali ini akan lebih binal dari kemarin. Properti berupa kasur sudah disiapkan di studio foto milik Zayne.
Aku sudah menunggu di tepi kasur dengan robe sutra tipis yang longgar, satu-satunya penutup tubuhku yang telanjang di baliknya.
“Zayne, ada ada ide baru, kamu boleh menolak kalau tidak nyaman karena ini bakal lebih hot dari kemarin.”
Dia menoleh dengan tatapan bingung.
“Boleh pinjam penismu?”
Zayne membeku. Jari yang tadi memutar ring di lensa berhenti di udara. Matanya membelalak sedikit di balik kacamata tipis.
“Untuk apa?” suaranya serak, hampir tidak terdengar.
“Aku mau foto blow job dengan milikmu, bolehkah? Please?”
Hening yang panjang memenuhi ruangan. Hanya bunyi napas kami yang terdengar, bercampur dengan detak jam dinding yang tiba-tiba terasa terlalu keras.
Tanpa berkata apa-apa, Zayne melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai kayu. Jari-jarinya yang panjang membuka resleting celana dengan gerakan pelan.
Kain celana bergeser turun. Miliknya muncul di depan mataku, sudah setengah mengeras.
Aku turun dari kasur dan berjongkok di depannya. Lututku menyentuh lantai yang dingin, membuat kulit merinding.
Jari-jariku yang masih gemetar memegang batangnya dengan hati-hati. Kulitnya hangat, hampir panas, dan aku bisa merasakan denyut nadi yang berdetak kencang di bawah telapak tanganku.
Aku menatap wajah Zayne, mencari sesuatu di matanya. Dia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk sangat pelan mengizinkanku menyentuh miliknya.
Aku mendekatkan wajah, ujung lidahku menyentuh kepala penis yang sudah sedikit basah. Kubuka mulut lebih lebar dan memasukkan miliknya.
Zayne lalu memotretku yang sedang mengulum batang besar miliknya. Kepalaku bergoyang perlahan, maju mundur.
Klik, klik.
Zayne mendesah rendah sambil berusaha tetap berkonsentrasi. Suara yang keluar terdengar serak dan tertahan.
“Pelan-pelan saja,” bisiknya.
Aku mengangguk tanpa melepasnya dari mulut. Ekspresi wajahku terekam jelas oleh lensa. Air liurku mulai menetes di sudut bibir, jatuh ke dadaku.
Zayne mengerang. Kepalanya terlempar ke belakang, jakunnya naik-turun cepat. Matanya terpejam erat, bibir terbuka, napas keluar sebagai embusan panas yang tidak teratur.
Dia memintaku untuk berhenti karena hampir orgasme, dan langsung mundur dua langkah cepat. Celananya masih terbuka lebar, miliknya berdiri tegak sempurna.
“Aku butuh waktu,” katanya, suara serak dan rendah. Dia memunggungiku, bahu naik-turun, tangan mengepal di sisi tubuh seolah menahan diri agar tidak berbalik lagi.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Zayne akhirnya berjalan menjauh dan mengambil segelas air putih di meja. Dia minum dengan perlahan sambil menenangkan diri.
Sepertinya belum berhasil, karena penisnya masih berdiri tegak. Tatapan matanya terlihat kosong saat duduk di kursi.
Aku melangkah mendekat, jarak di antara kami menyusut, saat ini aku berdiri di hadapannya. Kulihat dengan jelas gejolak emosi di kedua matanya.
“Bagaimana kalau kita lanjut saja?” bisikku. Suaraku keluar lebih lembut dari yang kubayangkan.
“Bukan untuk kamera, tapi untuk kita.”
Zayne menatapku lama sekali. Detik-detik berlalu dengan lambat. Jarak di antara kami hanya selebar napas.
Aku bisa mencium aroma sabun mandi yang bercampur dengan keringat, aroma tubuhnya yang aku suka.
“Kamu yakin?” suaranya serak, bergetar. “Ini akan mengubah segalanya, bahkan mungkin hubungan kita.”
“Aku tahu,” ibu jariku mengusap punggung tangannya.
“Batas itu sudah hampir pudar sejak tadi. Aku tidak mau pura-pura lagi, kita menginginkan satu sama lain.”
Dia akhirnya berhenti menahan diri dan menarikku ke dalam pelukan yang panas dan lapar.
Lengannya melingkari pinggangku erat, menekan tubuh telanjangku ke dadanya yang masih memakai pakaian.
Ciuman pertama datang seperti bendungan yang akhirnya jebol. Terasa dalam, basah, penuh, dan melepas sesuatu yang terlalu lama ditahan.
Bibirnya menekan keras, lidahnya mencari, menuntut, seolah ingin menelan setiap desahan yang hampir keluar dari tenggorokanku.
Aku membalas dengan sama laparnya, jari-jari mencengkeram kerah kemejanya.
Kami jatuh ke atas kasur studio. Seprai putih yang dingin menyentuh punggungku, kontras dengan suhu tubuh Zayne yang panas di atas.
Dia berlutut di antara pahaku, tangan gemetar membuka celana miliknya. Kain itu ditarik tergesa bersama boxer, dan dilempar sembarangan ke lantai.
Jarinya naik ke kemejanya sendiri, membuka satu per satu kancing dengan gerakan yang tidak sabar sampai kain itu terbelah lebar, memperlihatkan dada bidang yang naik-turun cepat dan perut yang menegang.
Miliknya yang masih basah dan tegang sempurna menekan di antara pahaku. Zayne menatapku sekali lagi, seolah memberi kesempatan terakhir.
Lalu dia mendorong masuk dengan pelan seolah masih takut menyakiti atau memberi ruang untuk mundur.
Aku merasakan setiap centi, setiap denyut, setiap regangan yang mengisi diriku sampai penuh.
Ketika dia akhirnya menempel sempurna di dalam, aku mengaitkan kedua kaki di pinggangnya dan menariknya lebih dalam lagi, sampai tulang pinggul kami bertemu.
Desahan kami bertemu di udara, bercampur menjadi satu. Gerakan awal masih hati-hati, dalam dan lambat, seolah dia ingin menghafal setiap sensasi.
Perlahan ritmenya berubah lebih dalam dan cepat. Kasur mulai berguncang pelan. Terdengar bunyi suara kulit bertemu kulit yang basah menggema di ruangan.
Jari-jariku mencengkeram punggungnya, kuku meninggalkan garis merah samar di kulitnya. Zayne menunduk mencium leherku, terasa basah dan lapar.
Ciumannya naik ke rahang, ke sudut bibir, lalu kembali ke mulutku seolah tidak ingin melewatkan satu inci pun dari kulit yang bisa dicium.
Setiap hentakan membuat payudaraku bergoyang, membuat desahan keluar dari tenggorokanku yang tidak lagi bisa kutahan.
Aku bisa merasakan dia semakin membengkak di dalam, semakin panas dan dekat dengan ledakan.
Begitu juga dengan diriku. Gelombang itu datang tiba-tiba, menelan seluruh tubuhku. Pahaku menegang di sekeliling pinggangnya, punggung melengkung dari kasur.
Desahan panjang keluar dari tenggorokanku, serak dan basah, sementara dinding dalamnya berdenyut kencang, meremasnya berulang kali.
Cairanku sendiri membasahi pangkalnya, hangat dan licin. Zayne tidak berhenti. Bahkan ketika aku masih gemetar di bawahnya, dia terus bergerak.
Setiap hentakan membuat tubuhku yang masih sensitif tersentak, membuat sisa orgasme itu bergoyang lagi di perut bawah.
Akhirnya giliran Zayne menuju puncak. Tubuhnya mulai menegang hebat. Napasnya memburu di lekuk leherku.
Tepat sebelum meledak, dia menarik diri dengan gerakan cepat. Miliknya yang basah dan berdenyut keluar sepenuhnya dari diriku, meninggalkan rasa kosong yang tiba-tiba.
Lalu dia mencapai puncaknya. Pinggulnya tersentak ke depan, dikocok oleh tangannya, sambil mengerang memanggil namaku.
Kehangatan kental menyembur keluar membanjiri dadaku, mengalir ke perut, menetes di sela payudara, berkilau di bawah cahaya studio.
Semprotan itu terus datang, membasahi kulitku yang masih naik-turun cepat, sampai beberapa tetes terakhir menetes pelan dari ujungnya yang masih berdenyut.
Dia menatap hasilnya di tubuhku dengan mata yang masih berkabut nafsu. Pandangannya bergerak lambat dari dadaku yang basah penuh ceceran putih sampai ke paha dalam yang masih berdenyut pelan.
Lalu, tiba-tiba, sesuatu berubah di wajahnya. Ide itu muncul jelas. Dia meraih kamera yang ada di meja.
“Jangan bergerak,” katanya pelan.
Aku menurut. Tubuhku masih terbaring dengan ceceran putih yang masih hangat menempel di kulit.
Klik, klik.
Setiap bunyi shutter terasa seperti detak jantung yang mengabadikan segalanya. Penuh dengan jejak yang ditinggalkan Zayne di tubuhku.
Zayne memeriksa hasil di layar tablet yang terhubung. Matanya bergerak cepat, mengecek setiap detail. Lalu dia menoleh padaku.
Senyum kecil yang lelah sekaligus puas mengembang di bibirnya, membuat sudut matanya melembut.
“Hasilnya sangat memuaskan, kamu pasti suka. Dijamin penggemarmu akan bertambah banyak!”
Aku tertawa pelan, tapi masih belum bergerak menghampirinya karena sekujur tubuhku lemas. Jariku terulur menyentuh ceceran di kulit sendiri.
Batas itu sudah dilanggar.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Setelah kejadian itu, aku dan Zayne semakin berani. Beberapa project kami lakukan bersama, dan semakin liar mengeksplorasi tubuh masing-masing
Studio foto ini menjadi saksi di mana batas antara pekerjaan dan sesuatu yang lebih pribadi semakin kabur.
Setiap sesi potret diakhiri dengan desahan yang tidak lagi pura-pura hanya untuk kamera.
Kami semakin dekat, terkadang kelewat mesra. Zayne yang dulu selalu menjaga jarak profesional kini bisa mencium puncak kepalaku di sela pergantian pose.
Kadang dia menahan pinggangku lebih lama dari yang diperlukan saat mengatur sudut cahaya. Aku selalu membiarkannya, bahkan menantikannya.
Sampai suatu sore, setelah sesi yang berakhir dengan tubuh kami saling bertaut, aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Zayne, hubungan kita ini sebenarnya apa ya?” bisikku.
Pertanyaan itu membuatnya kaku sejenak. Pipinya memerah pelan, mulai dari telinga lalu menyebar ke tulang pipi. Dia tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, tangannya naik, jari-jari panjangnya mengelus rambutku yang berantakan, menyisir helai demi helai dengan gerakan yang sangat lembut.
“Aku mau berjuang dulu sampai sukses, barulah memikirkan percintaan,” suaranya perlahan, tapi cukup terasa seperti belati menembus jantungku.
Ada rasa panas yang naik di tenggorokan, bukan marah yang meledak, melainkan kekesalan yang diam-diam mengendap.
Air mata yang akan mengalir di pipi aku tahan agar tidak jatuh. Dan di bibirku malah meluncur kata-kata yang tidak aku rencanakan sebelumnya.
“Baiklah. Kalau begitu untuk project berikutnya, aku akan bekerjasama dengan model cowok lain.”
Ide ini sebenarnya sudah muncul dari lama. Tapi dulu aku masih berpikir bisa membujuk Zayne jadi model yang terlihat utuh tubuhnya.
Sepertinya aku akan mengambil jalan pintas lain, bisa dibilang membalas dendam kepadanya.
Jeda itu singkat, tapi cukup untuk kulihat sesuatu yang lewat di mata Zayne, seperti bayangan cemburu yang tidak sempat disembunyikan.
Rahangnya menegang sebentar. Lalu dia menghela napas, menegakkan tubuh, dan memakai kembali topeng profesional yang dulu selalu dia kenakan.
“Siapa namanya?” tanyanya, suara sudah lebih datar.
“Sylus.”
Zayne mengangguk pelan.
“Oke,” katanya akhirnya. “Kalau memang itu yang kamu butuhkan untuk projectmu dan membuatmu lebih memiliki banyak penggemar, aku tidak akan menghalangi dan mendukungmu.”
Dia berusaha terdengar tenang dan profesional.
Ketegangan tercium di udara, seperti ada sesuatu yang retak dan hancur berkeping-keping.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Hari ini akhirnya tiba, Sylus sang model pria yang menemaniku akan hadir. Sesi potret bakal berbeda dari sebelumnya, karena kedatangan orang asing.
Sejak pagi, studio Zayne sudah dipenuhi suara-suara kecil dari peralatan yang sedang dipersiapkan.
Zayne memeriksa kamera, mengganti lensa, lalu kembali mengecek pencahayaan. Dia terlihat serius, dan lebih dingin daripada biasanya.
Aku sudah mempersiapkan nasi goreng untuk kami makan berdua, tapi dia bahkan tidak menengok sama sekali. Biasanya dia memujiku dan langsung mencicipinya.
“Zayne, nasi gorengnya sudah dingin.”
“Sebentar.”
“Kamu bilang begitu dua puluh menit lalu.”
“Aku hampir selesai.”
Aku mendengus dan menghampirinya, kutarik ujung lengannya sedikit.
“Lima belas menit saja.”
Zayne akhirnya menyerah dan mengikutiku.
Kami duduk berhadapan di meja kecil itu. Nasi goreng yang tadinya masih hangat sekarang sudah kehilangan panasnya, tetapi masih cukup enak untuk dimakan.
“Pertama kalinya aku collab pose seksi dengan model lain, aku gak menyangka kalau hari ini akhirnya tiba.”
Sendok Zayne berhenti sepersekian detik, tapi aku mengabaikannya. Sengaja aku ingin memanas-manasi dia.
“Kamu sudah lihat portofolio Sylus kan? Menurutmu dia cocok denganku gak?”
“Secara visual, cocok dengan konsep.”
“Dia memang tinggi dan ganteng.” Aku melanjutkan dengan santai, “Badannya juga bagus.”
Sendok di tangan Zayne berhenti lagi, kali ini karena dia sedikit tersedak dan akhirnya minuk air dari gelas.
Aku menunduk, pura-pura sibuk dengan makanan.
Kalau saja beberapa hari lalu dia tidak mengatakan bahwa kami harus fokus pada kesuksesan masing-masing, mungkin aku tidak akan sengaja menggodanya seperti ini.
Tapi Zayne sendiri yang memilih tidak menjelaskan hubungan kami.
Jadi sekarang aku juga tidak punya alasan untuk menjelaskan kenapa aku harus mempertimbangkan perasaannya.
Pria itu benar-benar menyebalkan. Dia tidak mau mengakui cemburu, tetapi juga tidak bisa menyembunyikannya dengan sempurna.
Kami akhirnya menyelesaikan makanan dalam keheningan.
Tidak lama kemudian, suara pintu studio terbuka.
“Permisi.”
Seorang pria masuk ke dalam studio. Akhirnya dia datang juga.
Sylus memiliki tubuh yang tinggi dan tegap. Tubuhnya tampak terlatih, dengan bahu lebar dan postur yang membuatnya sulit diabaikan begitu saja.
Rambutnya sedikit berantakan, tetapi justru memberi kesan santai. Wajahnya tampan dengan sorot mata percaya diri yang membuatnya terlihat sangat nyaman berada di depan kamera.
Dia membawa tas di satu tangan dan berjalan mendekat.
“Maaf terlambat sedikit.”
“Tidak apa-apa,” jawabku.
Aku melirik Zayne, wajahnya terlihat kecut sebentar, tapi langsung diganti dengan ekspresi datar.
Kami bertiga kemudian berdiri di depan moodboard untuk membicarakan konsep hari itu.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Studio foto sudah selesai diatur, lampu untuk pencahayaan sudah menyala, dan tripod sudah terpasang pada posisi yang sudah disepakati.
Kain satin telah dihamparkan, siapa tahu adegan sangat panas sehingga kami harus berbaring di lantai.
Aku berdiri telanjang di tengah ruangan, ditemani oleh Sylus, model tampan yang cocok untuk tema foto kali ini.
Dan di belakang kamera, Zayne memasang wajah datar. Biasanya dia yang menemaniku di setiap sesi foto, tapi kali ini tidak.
Sekarang dia harus melihat aku dijamah cowok lain. Matanya menggelap, rahangnya mengeras, tapi dia tetap mengangkat kamera.
“Sekarang kalian mulai pose berdua,” katanya datar. “Sylus bebas menjamah, dan perhatikan ekspresi wajah kalian.”
Sylus mendekat ke arahku. Tubuhnya besar dan berotot. Tangannya mulai meraba pinggang dan pantatku.
Penisnya masih terasa lembek, belum ereksi total. Zayne menatap dari balik lensa, jari-jarinya mencengkeram kamera lebih erat.
“Penismu harus tegang Sylus,” gumam Zayne. “Biar terlihat lebih bagus saat difoto.”
Tanpa disuruh lagi aku berlutut di depan Sylus. Terlihat penisnya masih setengah keras, berurat, kepala merah mengkilap.
Aku menjilat dari pangkal sampai ujung, lalu memasukkan ke mulut. Kuhisap pelan ujungnya, lidah berputar, dan tangan memijat bola-bolanya.
Sylus menggeram, jari-jarinya di rambutku. Dalam hitungan menit kontolnya mengeras sempurna, tebal, panjang, berdenyut di lidahku. Air liurku menetes di pangkalnya.
Zayne lalu berkata, “Cukup, sekarang kita mulai sesi fotonya.”
Pose pertama dimulai dengan Sylus berdiri di belakangku. Tubuh berototnya menempel hangat di punggung, dada bidang menekan tulang belikat.
Kedua tangan besarnya naik, menutupi payudaraku, memijat pelan, ibu jari menggosok puting yang sudah mengeras.
Bibirnya menempel di leherku, menghirup napas dalam-dalam, lalu mengecup, menjilat, menghisap kulit di sana sampai aku mendongak.
Zayne mengitari kami, kamera terangkat. Bunyi shutter cepat. Cahaya menangkap setiap lengkungan otot Sylus dan getaran payudaraku di genggaman tangannya.
Aku menatap lensa, dada naik-turun, merasakan kontol Sylus yang sudah tegang menekan pantatku dari belakang.
Pose kedua dimulai dengan kami berhadapan. Sylus menarik tanganku, menaruhnya di batangnya yang tebal dan panas. Aku menggenggam, jari-jari meraba urat-urat yang berdenyut.
Sementara itu jarinya sendiri turun, membuka bibir vaginaku yang sudah basah, lalu masuk. Satu jari dulu, lalu dua jari, aku pun kaget.
“Nghh!” desahku.
Dia mengocok pelan, dalam, jari-jari panjangnya menggosok dinding basahku, ibu jari menekan klitoris. Aku mencengkeram kontolnya lebih erat, napas memburu.
Zayne tidak berhenti memotret. Dia mendekat, mencari sudut dari samping, shutter berbunyi tanpa henti sementara jari Sylus terus bergerak keluar-masuk, membuat suara basah pelan.
Kakiku gemetar. Cairan mulai menetes di pangkal jarinya. Wajahku sudah memerah karena nafsu.
Akhirnya sampai ke pose ketiga.
Zayne memberi aba-aba. Aku berbaring miring di atas kain hitam, kepala di atas lengan. Sylus berlutut di belakangku.
Dia mengangkat pahaku yang atas, membuka aku lebar. Kepala kontolnya yang besar, basah, dan berdenyut menekan bibir vaginaku.
“Pura-pura penetrasi, cukup kepala penis menempel vagina,” perintah Zayne.
“Pelan saja yah Sylus, tidak perlu kamu masukkan penismu,” bisikku.
Tapi dia tidak sepenuhnya mendengar. Awalnya kepala penis Sylus hanya berada mulut vagina, tapi pelan-pelan dia mendorongnya masuk.
Sylus menunduk, napasnya hangat di telingaku. “Aku enggak bisa nahan lagi.”
Perlahan, kepala penisnya digesek di bibir vagina. Lalu batangnya didorong centi demi centi.
Aku merasakan liangku meregang, sampai akhirnya seluruhnya tertanam dalam-dalam. Dengan satu dorongan kuat dan dalam, seluruh batangnya menusuk masuk sekaligus.
“Ahhh!”
Jeritanku membelah studio. Mataku melebar, air mata langsung mengalir. Besar sekali.
Dinding vaginaku meregang maksimal, nyeri tajam menyambar dari bawah perut sampai tulang belakang, bercampur rasa penuh yang membuat penglihatan sempat mengabur.
Untung aku sudah sedikit basah karena sudah dikocok oleh jarinya tadi, kalau tidak pasti nyeri seperti mau sobek.
Zayne hampir menurunkan kamera. Matanya menyipit, rahang mengeras, hampir marah.
Aku cepat memberi kode dengan tangan, ibu jari ke atas sambil mengangguk.
Sylus menunduk, bibir di telingaku, suara serak dan gemetar.
“Maaf, aku nggak bisa tahan.”
Dia menggeram, lalu mulai bergerak.
Awalnya pelan, keluar sedikit, masuk lagi. Tapi tidak lama. Nafsu menguasai. Dia menghentak lebih dalam, lebih cepat, lebih brutal.
Plak… plak… plak…
Setiap hentakan membuat payudaraku memantul hebat di atas kain. Wajahku memerah, mulut terbuka, air liur menetes.
Nyeri berubah jadi gelombang nikmat yang berat dan dalam, menggosok setiap sudut, sampai ke rahim. Aku menangis bukan hanya karena sakit, tapi karena nikmat yang terlalu besar.
Sylus tidak hanya menggoyang. Tangannya besar meraba seluruh tubuhku. Dari mulai memijat payudara, mencubit puting, turun ke perut, ke klitoris, menggosok kasar.
Bibirnya di leher, di bahu, di punggung. Dia mencium, lalu menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. Napasnya terasa panas di kulitku.
“Lihat ke kamera,” perintah Zayne, suaranya tegang tapi berusaha profesional.
Aku memaksa membuka mata yang sudah basah air mata. Menatap lensa sambil terus menerima hentakan brutal Sylus.
Ekspresiku putus asa, lapar, basah. Zayne terus memotret dari segala sisi.
Sudut dekat wajahku yang menangis nikmat, sudut kontol besar yang keluar-masuk basah, sudut payudaraku yang berguncang, sudut tangan Sylus yang menjamah tanpa ampun.
Beberapa menit kemudian tubuhku menegang.
“Aku aku mau sampai!”
Orgasmeku akhirnya meledak. Vagina berkontraksi kuat, meremas batang Sylus seolah ingin memerasnya.
Cairan membasahi paha, membasahi kain. Aku menjerit panjang, tubuh kejang, jari kaki menggulung.
Sylus terus menghentak melewati puncak itu, membuat orgasme lebih panjang, lebih basah, lebih kotor.
Lalu dia menggeram dalam-dalam.
Pinggulnya menempel erat denganku. Sperma kental menyembur deras ke dalam rahimku, denyut demi denyut, memenuhi sampai aku merasakan tekanan hangat di perut bawah.
Dia tetap di dalam beberapa detik, masih berdenyut, sebelum pelan-pelan menarik keluar.
Cairan putih langsung menetes dari lubang yang masih menganga, mengalir di paha, menetes ke kain hitam di bawah.
Zayne tidak melewatkan satu detik pun. Kameranya terus berbunyi, mengabadikan setiap detail panas yang baru saja terjadi.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Zayne menurunkan kamera sejenak, menatap aku dan Sylus yang masih terengah di atas kain.
Aku melihat tatapan mata Zayne yang semakin dingin, tapi terlihat merencanakan sesuatu. Suaranya terdengar tenang dan tegas.
“Sekarang, kita akan memulai pose anal.”
Tentu saja aku kaget karena ini tidak ada di brief awal. Walaupun sebenarnya aku tidak keberatan sama sekali.
Aku menoleh cepat.
“Zayne, tunggu dulu, kita belum tahu apakah Sylus bersedia. Selain itu, bulan lalu waktu kita berdua mencoba anal sex kan nyeri banget.”
Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, hubungan aku dan Zayne sudah melampaui batas, hanya saja kami tidak memiliki label romantis.
Aneka eksplorasi seks sudah dicoba, alasannya untuk riset project selanjutnya. Tapi kebanyakan memang karena nafsu pribadi.
Zayne tiba-tiba berlutut di sampingku, mengecup pipiku pelan, bibirnya hangat.
“Itu kan yang kamu mau. Hasil foto yang totalitas, bukan setengah-setengah.”
Anal dengan Zayne sudah terasa sakit, apalagi dengan Sylus yang penisnya lebih besar dan berurat. Tapi rasa penasaran mengalahkan akal sehat.
Sepertinya aku akan melakukannya, tinggal menunggu persetujuan dari Sylus.
“Tentu saja aku setuju, kapan lagi aku mencobanya dengan model secantik ini,” jawab Sylus dengan nyengir.
“Oke, tantangan diterima,” jawabku tak mau kalah.
Zayne, dibantu oleh Sylus, menghamparkan kasur di lantai, lalu ditutup kain hitam.
Aku berpikir kenapa baru sekarang kami menggunakan kasur, semestinya dari awal sesi foto saja. Mungkin karena anal bakal lebih nyeri, jadi aku bisa lebih relaks.
Sylus lalu mengambil botol pelumas dari meja kecil di samping. Sementara aku sudah bersiap dalam posisi doggy. Lutut dan tanganku di lantai, pantat terangkat tinggi, pinggang melengkung.
Sylus berlutut di belakangku. Jari-jarinya yang basah pelumas mengusap lubang analku dulu, memutar pelan, lalu masuk satu jari, dua jari, membuka pelan-pelan.
Aku menggigit bibir, merasakan sensasi dingin dan licin yang aneh. Zayne sudah berdiri lagi, kamera terangkat, shutter mulai berbunyi.
Setelah merasa cukup longgar, Sylus menarik jarinya. Kepala kontolnya yang besar dan masih basah menekan lubang belakangku.
Dia menyuruhku untuk bernapas dan mendorong penisnya masuk ke lubang belakangku.
“Ahhh!”
Nyeri tajam langsung menyambar. Lebih sempit, lebih ketat dari vagina. Aku menjerit, jari-jari mencengkeram kain hitam di bawah. Air mata langsung menggenang.
Sylus berhenti sejenak, tubuhnya gemetar menahan diri, lalu mendorong lebih dalam. Centi demi centi, batang tebal itu masuk sampai akhirnya seluruhnya tertanam.
“Sakit, aaahh sakit banget!” suaraku pecah, air mata mengalir deras di pipi.
Tapi aku tidak minta berhenti.
Sylus mulai bergerak. Setiap hentakan terasa berat, meregang, hampir sobek. Pelumas membantu, tapi tetap nyeri.
Sampai akhirnya dia tidak sabar dan mempercepatnya.
Plak… plak… plak…
Tubuhku bergoyang liar ke depan. Setiap dorongan membuat payudaraku berguncang hebat.
Tangan Sylus naik, menepuk pantatku keras, meninggalkan jejak merah, lalu mencubit dada, memilin puting sampai aku menjerit lagi.
“Aahh Sylus, lebih pelan dong!”
Nafsu sudah menguasai. Pinggulnya menghentak lebih brutal, penis besar itu keluar-masuk di analku yang ketat, membuat suara basah dan kotor.
Aku menangis, berteriak, wajahku basah air mata dan air liur, tapi tetap menahan rasa itu.
Aku berusaha membuka kaki lebih lebar. Tetap menatap kamera sesuai instruksi Zayne yang terus memotret tanpa henti.
Dia menepuk pantatku lagi, mencubit payudara lebih kasar, menghentak dalam-dalam. Nyeri bercampur rasa penuh yang aneh, membuat kepalaku pening. Tubuhku gemetar hebat.
Beberapa menit kemudian Sylus menggeram panjang.
Pinggulnya tersekat dalam-dalam. Sperma kental menyembur deras ke dalam analku, denyut demi denyut, memenuhi sampai aku merasakan tekanan hangat di dalam.
Dia tetap di situ beberapa detik, masih berdenyut, sebelum pelan-pelan menarik keluar.
Cairan putih langsung menetes dari lubang belakang yang masih menganga, mengalir turun di paha, bercampur pelumas dan keringat.
Aku terkulai, napas memburu, air mata masih mengalir. Pantatku terasa perih dan berdenyut, karena sodokan dan spank dari Sylus.
Zayne menurunkan kamera, senyum tipis di wajahnya saat melihat hasil di layar.
“Bagus,” katanya pelan. “Ini lebih dari cukup, bahkan lebih menggairahkan dari sebelumnya.”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Zayne akhirnya meletakkan kameranya. Dia menatap Sylus yang masih berdiri di belakangku, napas belum sepenuhnya tenang.
Wajah Sylus terlihat merah dan sekujur tubuhnya berkeringat.
“Masih kuat buat ronde berikutnya?” tanyanya datar.
Sylus bingung sejenak, alis berkerut. Tapi Zayne membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya. Senyum tipis langsung mengembang di wajah Sylus. Dia mengangguk pelan.
Zayne lalu menghampiriku. Dia berlutut, menarik wajahku, dan menciumku mesra. Terasa dalam, lapar, lidah saling bertemu.
Sambil mencium, dia melucuti bajunya sendiri. Kemeja terbuka, celana turun. Penisnya sudah tegang sempurna, berdenyut, siap.
Aahh aku tahu. Zayne juga nafsu pada tubuhku. Dia sekarang minta jatahnya.
Sejujurnya aku sudah merasa sangat lelah. Tapi karena rasa cintaku ke Zayne, bercampur rasa kesal karena dia yang “menolak cintaku”, membuat nafsuku bangkit lagi.
Zayne duduk di lantai, menarikku ke pangkuannya. Dada bidangnya menempel hangat di punggungku.
Aku mengangkat pinggang, bersiap memasukkan penisnya ke vaginaku yang masih basah.
Tapi tangannya menahan, mengarahkan kepala kontolnya ke lubang analku yang masih sedikit menganga dan basah oleh lelehan sperma dari Sylus.
“Aaahkkk!”
Aku merintih nyeri saat dia mendorong masuk. Tapi kali ini tidak seburuk tadi. Analku sudah tak seketat itu, masih longgar setelah direnggangkan penis besar Sylus.
Pelan-pelan seluruh batangnya tertanam. Rasa penuh kembali datang, nyeri bercampur sensasi aneh yang mulai berubah jadi nikmat.
Zayne mulai menggoyang tubuhku. Pinggulnya naik-turun, menghentak pelan dulu lalu semakin cepat.
Kedua tangannya naik, meremas payudaraku kasar, memilin puting sampai aku mendesah panjang. Dia mencium leher dan menggigit bahuku.
Aku tidak menyadari ketika Sylus tiba-tiba mendekat dari depan. Bibirnya menempel di bibirku, mencium dalam, menelan setiap eranganku.
Lalu, tiba-tiba kepala penisnya menekan bibir vaginaku. Dan dia menusuk masuk sekaligus.
“AAHHH!”
Aku sangat kaget. Double penetration, vagina dan analku terisi penuh bersamaan.
Ini baru pertama kali kurasakan, dan aku belum siap sama sekali.
Dua batang tebal meregangku dari dalam, hampir tidak ada ruang tersisa. Nyeri tajam menyambar lagi, bercampur rasa penuh yang membuat kepalaku pening.
Air mata kembali mengalir deras. Tubuhku digoyang oleh dua orang sekaligus, Zayne dari belakang, sementara Sylus dari depan.
Plak… plak… plak…
Mereka bergerak bergantian, lalu bersamaan. Setiap hentakan membuat payudaraku berguncang hebat di genggaman tangan Zayne.
Sylus menciumku, menggigit bibir bawahku, lalu turun ke leher, menghisap, meninggalkan jejak. Tangan besarnya meraba pinggang, pantat, paha.
Zayne di belakang mencium pundakku, menggigit pelan, tangan tidak berhenti memijat dan mencubit dada.
Semua tubuhku dijamah. Dicium. Digigit. Diremas.
Aku menjerit, menangis, desahan pecah tanpa henti. Nyeri berubah jadi gelombang nikmat yang gila. Vagina dan analku berdenyut, meregang, menerima dua kontol yang keluar-masuk tanpa ampun.
Beberapa menit kemudian tubuhku menegang hebat.
“Aku mau keluar!”
Rasanya seperti pipis yang sangat kencang. Aku squirting dengan hebat
Cairan menyembur deras dari vaginaku, membanjiri paha Sylus, membasahi kasur di bawah.
Aku menjerit panjang, tubuh kejang, jari kaki menggulung. Orgasme datang bertubi-tubi, membuatku banjir.
Sylus dan Zayne hanya tertawa puas.
Mereka tidak berhenti. Justru menggenjot lebih cepat, lebih dalam, lebih brutal. Tubuhku digoyang liar di antara mereka berdua.
Lalu hampir bersamaan mereka menggeram. Milik Sylus tertanam di vaginaku, milik Zayne menancap di dalam analku.
Sperma kental menyembur deras memenuhi kedua lubangku, denyut demi denyut, sampai aku merasakan tekanan hangat di mana-mana.
Mereka tetap di dalam beberapa detik, masih berdenyut, sebelum pelan-pelan menarik keluar.
Cairan putih kental langsung meleleh keluar dari vagina dan analku yang menganga, mengalir turun di paha, menetes ke lantai, bercampur dengan squirt-ku yang masih basah.
Tubuhku penuh terisi, basah total, gemetar hebat di pangkuan Zayne.
Rasanya tubuhku mulai kehilangan kesadaran, aku pun tertidur sambil tersenyum puas.
The End?!

Comments
Post a Comment