Draw Me Like One of Your French Girls
Kisah ini adalah part lanjutan dan LOVE UNCUT dari cerita Girl with a Pearl Earring.
Untuk pengalaman lebih utuh, baca versi lengkap di sini:
Girl with a Pearl Earring
Mutiara Hardjono mendapat info pekerjaan menjadi model lukisan dari seorang teman kuliahnya.
Ini adalah kali pertama, karena biasanya dia hanya menjadi model katalog fashion di sosial media.
Karena membutuhkan uang, tentunya dia tertarik mencoba. Apalagi bayarannya cukup besar, cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup bulan itu.
Tanpa banyak bertanya, Mutiara langsung menerima tawaran tersebut.
Sore itu ia berdiri di depan sebuah bercat putih di tepi pantai Ia memeriksa alamat di ponselnya sekali lagi sebelum mengangguk pelan. Benar, tempatnya di sini.
Indah sekali pantainya, mengingatkan lukisan pemandangan laut di ruang makan rumahnya dulu, sangat istimewa karena itu adalah karya kolaborasi ayah dan mendiang ibunya.
Lukisan itu berukuran hampir memenuhi satu sisi dinding. Seolah-olah keluarga Hardjono membutuhkan pemandangan lain untuk menemani mereka saat makan malam.
Mutiara mengetuk pintu.
Dari balik pintu terdengar langkah kaki yang semakin mendekat, disusul bunyi kunci diputar. Pintu perlahan terbuka.
Waktu seolah berhenti.
Laki-laki yang berdiri di hadapannya jauh lebih dewasa daripada sosok yang tersimpan dalam ingatannya.
Rambut ungunya masih sama tetapi garis wajahnya lebih tegas. Tubuhnya lebih sedikit lebih tinggi dan tegap.
Rafayel.
Dalam sekejap, potongan-potongan masa lalu memenuhi benak Mutiara. Studio kecil yang selalu dipenuhi aroma cat.
Tawa mereka, air mata, lalu pelukan perpisahan di depan gerbang.
Semua kenangan berputar di benak, hingga menyisakan realita dua orang dewasa yang saling menatap di ambang pintu.
Perasaan Mutiara bercampur menjadi satu. Terkejut, gugup, bahagia, sekaligus sedih.
"Pak Rafayel?"
Namanya terucap nyaris seperti bisikan. Mutiara tak lupa menambahkan kata Pak, sekarang sosok ini adalah bossnya.
Rafayel tidak langsung menjawab. Tatapannya turun, memperhatikan pakaian, tas, dan sepatu sederhana yang dikenakan Mutiara sebelum kembali menatap wajahnya.
Ia membuka pintu lebih lebar.
"Masuk."
Hanya itu. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat. Mutiara mengangguk kecil lalu melangkah masuk.
Studio itu jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan. Tempat itu terasa begitu akrab, tetapi sekaligus asing.
Rafayel menutup pintu, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Ia mengambil sebuah buku catatan tanpa sedikit pun menyinggung masa lalu.
"Nama?"
Mutiara sempat terpaku. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu menghujam jantungnya.
Apakah Rafayel sudah melupakannya? Atau tidak mengenalnya lagi?
"Mutiara Hardjono."
Ia hanya menuliskan nama itu di buku catatannya tanpa perubahan ekspresi.
Sejujurnya Mutiara berharap saat ini jadi adegan reuni mengharukan, tapi sepertinya tidak.
Apa karena sekarang dia sudah sukses dan tidak mau berurusan lagi dengan keluarga Hardjono?
"Pekerjaan?" tanya Rafayel lagi.
"Mahasiswa. Kali ini menjadi model paruh waktu."
Kali ini Rafayel mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu sesaat.
Cukup lama untuk membuat dada Mutiara berdebar, tetapi terlalu singkat untuk menemukan kehangatan yang dulu selalu ada.
Tatapan itu murni milik seorang pelukis yang sedang menilai modelnya. Profesional dan dingin.
"Baik." Rafayel menutup buku catatannya.
"Pakaianmu kurang sesuai dengan konsep awal," katanya datar. "Ganti dengan yang sudah kusiapkan di ruang ganti sebelah sana."
Mutiara mengikuti arah telunjuk Rafayel. Di sudut studio, ada sebuah ruang kecil dengan tirai tipis. Ia mengangguk patuh dan berjalan ke sana tanpa banyak bertanya.
Di dalam, tergantung sebuah long dress berwarna ivory lembut dengan potongan sederhana namun elegan, garis leher rendah yang anggun, dan kain yang jatuh lembut menyapu lantai.
Mutiara menyentuh kain itu dengan ujung jari. Rasanya mahal. Ia mengingat gaun cantiknya waktu remaja.
Sebelum keluarganya runtuh.
Ia berganti pakaian dengan cepat. Kemeja putih longgar dan rok pensil hitamnya ia lipat rapi di kursi kecil.
Saat ia keluar, Rafayel sedang membersihkan kuas.
Pria itu menoleh, dan untuk sesaat, tatapannya berhenti lebih lama di tubuh Mutiara.
Mutiara lalu melihat ada kalung mutiara dengan liontin tunggal yang berkilau samar di meja.
"Sini, biar aku yang akan memakaikan untukmu," ujar Rafayel.
Mutiara hanya bisa mengangguk. Jantungnya berdegup kencang saat Rafayel berdiri di belakangnya.
Jari-jari pria itu yang dingin karena terbiasa memegang kuas menyentuh tengkuknya saat memasangkan kalung mutiara.
Aroma cat minyak dan wangi parfum Rafayel menyelimuti dirinya. Begitu dekat, tapi begitu jauh.
"Sudah," kata Rafayel pelan.
"Berdiri di sana."
Ia menunjuk ruang kosong di depan sebuah kanvas besar. Mutiara menuruti arah tangannya, lalu berhenti sesuai instruksi.
Rafayel tampak memikir pose yang cocok, tapi akhirnya berubah pikiran.
"Coba kamu duduk di kursi itu."
Mutiara berjalan menuju kursi kayu berukir sederhana yang sudah disiapkan di depan jendela besar.
Cahaya sore masuk lembut, mewarnai segalanya dengan nuansa keemasan.
"Duduk. Tubuh condong sedikit ke depan. Tangan di pangkuan. Pandangan ke luar jendela, ke arah laut," instruksi Rafayel tegas tapi tenang.
"Seperti sedang menunggu seseorang, tapi dengan tenang. Elegan."
Mutiara menuruti. Ia duduk, menyilangkan pergelangan tangan di pangkuan, dan memalingkan wajah ke jendela.
Angin pantai masuk pelan melalui celah jendela, meniup ujung rambutnya yang terlepas.
Rafayel mengambil posisi di balik kanvas. Kuasnya kembali bergerak.
Untuk beberapa menit, hanya terdengar suara kuas menyapu kanvas dan debur ombak di kejauhan.
Mutiara disuruh mempertahankan pose selama 25 menit, setelah itu istirahat 5 menit, lalu lanjut lagi dengan siklus berulang sampai 3 jam.
Lalu Rafayel membuka suara, terdengar dingin namun profesional.
"Proyek ini akan berjalan beberapa minggu. Ada beberapa konsep yang harus kamu pelajari."
Ia mengambil sebuah booklet tebal berwarna hitam dari meja kerjanya dan melemparnya pelan ke meja kecil di samping Mutiara.
"Baca nanti di rumah. Konsep utamanya ada di situ."
Mutiara menjawab pelan tanpa mengubah pose, "Baik, Pak."
Akhirnya sesi hari itu berakhir. Mutiara menghembuskan napas pelan dan menggerakkan bahunya yang mulai pegal.
Ia sempat mengintip lukisan di kanvas, memang belum sempurna, tapi mulai terlihat jelas sketsanya.
Rafayel melukisnya seperti seorang tuan putri yang elegan, lembut, anggun, dan agak melankolis.
Cahaya sore membuat gaun ivory itu terlihat seperti sutra yang hidup.
Mutiara akhirnya pamit pulang, dan sampai saat terakhir, tidak ada tanda-tanda Rafayel mengenalnya.
Sampai di rumah, Mutiara mengambil booklet dari Rafayel dan membukanya sekilas. Halaman demi halaman berisi sketsa konsep, catatan warna, dan referensi pose.
Semakin ke belakang, semakin intim komposisinya.
Awalnya terdapat sketsa seorang gadis dengan gaun yang indah, hingga akhirnya semakin sexy, yaitu menampilkan sketsa gadis dalam lingerie.
Di halaman paling akhir, ada judul proyek yang ditulis dengan tinta hitam tegas:
Pearls & Skin
from the Nude Study Series
Di bawahnya terdapat beberapa sketsa kasar. Garis tubuh wanita yang telanjang, hanya dikelilingi mutiara, cahaya, dan bayangan.
Pose yang penuh kepercayaan diri sekaligus kerentanan.
Mutiara merasakan pipinya memanas. Ia cepat menutup booklet itu.
Apakah benar Rafayel sudah merencanakan untuk melukisnya tanpa sehelai benang pun?
Mutiara menenangkan diri, sepertinya banyak model yang lain, jadi belum tentu harus dirinya yang melakukan hal itu.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Seminggu sudah berlalu, dan kali ini adalah pertemuan kedua Mutiara menjadi modelnya Rafayel.
Mutiara datang lebih awal sore itu. Pintu studio sudah terbuka sedikit, seolah Rafayel sudah menunggunya.
Begitu ia masuk, pria itu langsung menyerahkan sebuah paper bag tanpa banyak bicara.
"Ganti. Semuanya sudah disiapkan."
Di dalam paper bag ada blouse satin krem yang licin dan dingin saat disentuh, rok hitam super pendek, stocking hitam tipis, dan sepasang heels yang cukup tinggi.
Mutiara menelan ludah, tapi tidak protes. Ia masuk ke ruang ganti dan berganti pakaian.
Blouse satin itu melekat lembut di tubuhnya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan garis leher dan sedikit belahan dada.
Roknya pendek sekali, hanya sebatas pangkal paha. Stocking hitam membuat kakinya terasa lebih panjang, sementara heels membuat posturnya lebih tegak dan pinggulnya lebih menonjol.
Saat Mutiara keluar, Rafayel sedang membersihkan palet. Ia menoleh, tatapannya menyapu tubuh Mutiara dari atas ke bawah tanpa malu-malu.
Tatapan tajam seorang pelukis yang sedang menilai objeknya.
"Bagus," katanya singkat. "Ke depan jendela."
Belum sempat Mutiara bergerak, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah pintu masuk.
Seorang perempuan berambut pirang panjang masuk tanpa mengetuk.
Tubuhnya tinggi semampai, dengan mantel krem panjang yang masih menempel di bahunya. Wajahnya cantik dengan riasan tipis khas Eropa.
Sebuah koper kecil masih berada di samping kakinya, seolah ia baru saja tiba dari bandara.
Perempuan itu tersenyum begitu melihat Rafayel.
Namun senyum itu perlahan memudar ketika matanya menangkap keberadaan Mutiara di dalam studio.
Rafayel tersenyum menyapanya.
"Hi Belle!"
Perempuan itu menghampiri beberapa langkah, dan Rafayel langsung menjelaskan.
"Thank you for coming all the way from France. But your modeling schedule isn't today. Look at that girl. Today is her turn."
Belle menoleh ke arah Mutiara, lalu kembali menatap Rafayel.
"So that's what you meant... She's the Indonesian girl you've been interested in all along??”
Rafayel hendak memotong kalimat Belle, tapi dia terus berbicara dengan cepat.
“Is this why you never wanted anything between us? I've modeled for you so many times, and you still refused to be in a relationship with me. Didn't you once say you liked me?"
Rafayel mengusap tengkuknya pelan, terdengar sedikit tidak sabar namun tetap tenang.
"Hey, we're professionals. Besides, you've enjoyed working as my model, haven't you? Of course I like you. You're beautiful."
Belle tertawa pendek, tetapi tawa itu terdengar pahit. Detik berikutnya dia menghampiri Rafayel dengan cepat, dan…
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Rafayel.
Mutiara refleks membelalak.
Studio yang sejak tadi sunyi mendadak terasa jauh lebih tegang.
Belle menatap Rafayel dengan mata yang mulai memerah.
"You're such a jerk, Raf. I'm sorry... I can't work as your model anymore."
Tanpa menunggu jawaban, Belle berbalik. Langkah sepatunya menggema cepat di lantai kayu.
Beberapa saat kemudian, pintu studio terbanting menutup. Ruangan kembali sunyi. Hanya suara napas Mutiara dan Rafayel yang masih terdengar.
Rafayel tetap berdiri di tempatnya. Ia mengusap pelan pipinya yang mulai memerah bekas tamparan tadi.
Alih-alih mengejar Belle, ia justru berjalan menuju kursinya, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan lelah.
Ia membuka laci meja.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah buku catatan berukuran besar dengan sampul kulit yang mulai usang.
Ia membukanya beberapa halaman, menatap berbagai sketsa, jadwal, serta catatan yang memenuhi setiap lembar.
Mutiara berdiri beberapa langkah darinya. Ia masih belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi.
"Pak Rafayel?"
Rafayel tidak langsung menjawab. Ia menutup buku itu perlahan.
"Ada apa sebenarnya?"
Rafayel mengembuskan napas panjang sebelum menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Belle adalah model utamaku untuk proyek tahun ini."
Mutiara mengangguk pelan.
"Aku sudah bekerja dengannya cukup lama. Hampir semua konsep untuk proyek itu dibuat berdasarkan postur dan ekspresinya."
"Terus... sekarang?"
"Ya batal."
Jawabannya terdengar singkat, tetapi cukup untuk menunjukkan rasa frustrasi yang sedang ia tahan.
"Dia marah karena aku tidak bisa membalas perasaannya."
Mutiara terdiam. Ia kembali mengingat percakapan mereka barusan.
Rafayel memang terdengar tenang, tetapi kata-katanya rupanya justru melukai Belle.
Rafayel memijat pelipisnya.
"Mencari model yang cocok itu tidak mudah."
Ia menatap beberapa sketsa di dalam bukunya.
"Aku butuh seseorang yang cocok dan memahami konsep yang kubuat, serta cukup percaya diri untuk berpose menantang."
Ia menutup buku itu lagi.
"Proyek ini sudah berjalan berbulan-bulan."
Suara Rafayel terdengar lebih pelan dibanding biasanya.
"Kalau model utamanya mundur sekarang, aku harus mengulang banyak hal dari awal."
Rafayel lalu menyerahkan buku itu kepada Mutiara, dan langsung dibaca dengan seksama.
Mutiara melihat foto Belle dan banyak model lainnya dalam pakaian super mini dan pose yang berani.
Semakin ke belakang, baju para model berubah jadi lingerie, bahkan ada beberapa yang sudah telanjang.
Lalu di ada beberapa sketsa kasar lukisan Rafayel yang terinspirasi dari para model itu.
Mutiara berdebar dengan kencang, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai bangkit.
Rasa cemburu yang menggelegak karena Rafayel melukis model telanjang, dan wanita itu bukan dirinya.
Rasa penasaran bagaimana rasanya berpose menantang dan dilukis oleh Rafayel, orang yang dirindukannya sejak lama.
Atau sensasi rasa hangat dan basah di kemaluannya ketika memikirkan hal tersebut.
Tapi dia masih ragu, mungkin nanti dia pikirkan lagi setelah sesi ini.
Akhirnya Rafayel memutuskan sesi hari ini dimulai.
Mutiara berjalan ke posisi yang ditunjuk. Cahaya matahari sore kali ini lebih hangat, menyinari interior studio dengan nuansa oranye keemasan.
Rafayel mendekat dari belakang. Tanpa aba-aba, tangannya menyentuh pinggang Mutiara, menariknya sedikit ke belakang hingga pinggulnya melengkung.
"Satu tangan pegang tirai. Tubuh membungkuk sedikit ke depan, ya seperti ini."
Jari-jarinya menekan lembut pinggang Mutiara, membentuk lengkungan yang diinginkan.
Sentuhannya profesional, tapi panas.
Mutiara merasakan napas Rafayel di tengkuknya saat pria itu meraih rambutnya, menarik beberapa helai ke satu sisi bahu dengan lembut, membiarkan beberapa helai jatuh ke wajahnya.
"Pandangan ke luar. Sedikit ke bawah. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu gelisah," ujar Rafayel dekat sekali di telinganya.
Mutiara menggigit bibir dalam hati. Pose ini jauh lebih intim daripada kemarin. Blouse satin meluncur sedikit di bahunya karena posisi membungkuk.
Rok pendeknya naik lebih tinggi, dan stocking hitam kontras dengan kulitnya yang terpapar cahaya sore.
Rafayel mundur selangkah, mengamati dari berbagai sudut, lalu menyentuh lagi pinggang Mutiara untuk memperbaiki sudut pinggulnya.
Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat jantung Mutiara berdegup kencang. Rafayel kembali ke kanvasnya dan mulai melukis.
Sesi pertemuan kedua akhirnya berakhir. Mutiara memberanikan diri dan membulatkan tekad.
"Pak, saya sudah baca bookletnya."
Rafayel tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sebelah alis, menunggu.
"Saya melihat ada banyak sketsa gadis yang memakai lingerie," lanjut Mutiara, suaranya pelan tapi jelas. "Kalau memang dibutuhkan, saya bersedia.
Mutiara sengaja tidak menyebutkan project Pearls & Skin. Karena jujur hati nuraninya belum mau berpose tanpa busana.
Rafayel meletakkan kuasnya perlahan, lalu menatap Mutiara dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Hmm, tapi model project itu semestinya Belle. Ah aku baru ingat, sepertinya dia tidak akan bersedia.”
Mutiara menegakkan badan dan berkata dengan yakin.
“Daripada bapak mencari model lagi, mungkin bapak bisa mencobanya ke saya, walaupun saya masih amatir.”
"Kamu sadar apa yang kamu tawarkan?" tanyanya datar, tapi suaranya lebih rendah dari biasanya.
Mutiara mengangguk kecil, pipinya memerah.
"Saya tahu. Ini pekerjaan. Dan saya percaya dengan cara bapak melukis. Draw me like one of your French Girls.”
Rafayel diam cukup lama. Tatapannya turun ke blouse satin yang sedikit melorot di bahu Mutiara, ke rok pendek yang hampir tak menutupi apa-apa, lalu kembali ke wajahnya.
"Baik," katanya akhirnya. "Kita akan bahas syarat dan detailnya. Dan mulai sekarang jangan panggil saya bapak, panggil saya Rafayel."
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Mutiara berdiri di depan cermin ruang ganti dengan jantung yang berdegup keras.
Di pertemuan ketiga, pakaian yang disiapkan oleh Rafayel lebih erotis.
Dress putih susu yang diberikan Rafayel sangat tipis, hampir tembus pandang.
Begitu cahaya menyentuhnya, garis tubuhnya jelas terlihat, termasuk bra hitam tipis yang hanya berupa renda halus tanpa lapisan busa.
Putingnya sudah mengeras sejak ia memakainya, menonjol jelas di balik kain.
Ia keluar dari ruang ganti. Rafayel sedang duduk di sofa merah tua yang lebar, tapi langsung berdiri saat melihatnya.
“Berbaringlah,” perintahnya pelan.
Mutiara naik ke sofa. Kain dress meluncur naik dengan sendirinya saat ia berbaring. Rafayel mendekat, tangannya langsung menyentuh paha Mutiara yang terbuka.
“Satu kaki ditekuk begini.”
Jemarinya yang panjang mengelus paha dalam Mutiara dengan gerakan lambat, mendorong satu kakinya ke atas hingga lutut tertekuk.
Dress putih itu naik hampir ke pinggul, memperlihatkan celana dalam hitam tipis yang sudah basah di bagian tengah.
“Tangan di atas kepala, jari-jari di lehermu sendiri.”
Mutiara menurut. Begitu tangannya menyentuh leher, Rafayel naik ke atas sofa, lututnya berada di antara kedua kaki Mutiara.
Sekarang sentuhannya tidak lagi sekadar mengarahkan pose.
Tangan kanannya mengelus paha Mutiara dari bawah ke atas, perlahan, menikmati tekstur kulit telanjang yang panas.
Mutiara menggigit bibir saat jemari itu semakin naik, menyentuh bagian dalam paha yang sensitif.
“Ah…” desah kecil lolos dari bibirnya.
Rafayel tidak berhenti. Tangannya naik ke dada Mutiara, meremas payudara kiri dengan kuat melalui bra tipis.
Gaun Mutiara semakin tersingkap ke atas dan memamerkan tubuhnya yang molek.
Mutiara melengkungkan punggung, sensasi panas langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.
“Rafayel.” bisiknya, suara sudah parau.
“Jangan bergerak,” gumam Rafayel di telinganya, tapi tangannya justru semakin berani.
Ia menarik cup bra ke bawah, memperlihatkan payudara Mutiara yang penuh dan puting yang sudah keras menggeliat.
Jemarinya memutar puting itu pelan, lalu mencubitnya lembut. Mutiara menahan erangan, tapi pinggulnya bergerak kecil tanpa bisa ditahan.
“Mmhh…!”
Rafayel tersenyum tipis melihat reaksi itu. Ia menunduk, bibirnya menyentuh leher Mutiara, mengisap kuat hingga meninggalkan bekas merah.
Lidahnya menjilat, lalu menggigit pelan. Di saat yang sama, tangannya meremas payudara kanan, memilin putingnya lebih keras, memutar, menarik, dan mencubit bergantian.
Sensasi itu membuat Mutiara pusing. Panas, nikmat, dan sedikit perih bercampur menjadi satu.
Setiap cubitan di putingnya mengirimkan getaran listrik langsung ke inti tubuhnya yang sudah basah sekali.
Ia menahan suara sebisa mungkin, tapi lenguhan kecil tetap lolos dari tenggorokannya.
“Hah… ahh… Rafayel…”
Rafayel menggeser tubuhnya, mulutnya kini berpindah ke payudara.
Ia menghisap puting kiri dengan rakus sambil tangannya terus meremas payudara yang satu lagi.
Gigitan kecil, isapan kuat, dan putaran lidah membuat Mutiara hampir kehilangan kendali.
Pinggulnya terangkat pelan, mencari gesekan yang tak kunjung datang.
Setelah leher dan dada Mutiara penuh dengan cupang merah yang jelas, Rafayel mundur sedikit, mengamati hasil karyanya dengan tatapan gelap penuh kepuasan.
“Pose-nya sempurna,” katanya suara serak.
“Sekarang jangan bergerak. Aku butuh referensi detail saat kamu sudah pulang nanti.”
Ia mengambil kamera profesionalnya dan mulai memotret dari segala sudut. Flash menyala berulang kali.
Close-up ke wajah Mutiara yang memerah, ke leher yang penuh bekas hisapan, ke payudara yang membengkak karena dirangsang, ke paha terbuka, hingga ke bagian dress yang sudah naik ke pinggul dan celana dalam yang basah.
Setiap kali flash menyala, Mutiara merasa semakin terbuka, semakin telanjang, meski masih memakai dress tipis.
Tubuhnya panas, denyut di antara kedua pahanya semakin kuat.
Setelah puas memotret, Rafayel meletakkan kamera dan kembali ke kanvas besar.
“Kamu boleh rileks sedikit, tapi tetap di pose itu,” katanya sambil mencampur warna.
Mutiara hanya bisa mengangguk lemah. Tubuhnya masih bergetar karena sisa sentuhan tadi.
Payudaranya terasa berat dan sensitif, putingnya masih basah oleh air liur Rafayel, dan setiap denyut jantung terasa di antara selangkangannya yang basah.
Rafayel melukis dalam diam, tapi sesekali matanya melirik langsung ke tubuh Mutiara.
Bukan sebagai model, melainkan sebagai wanita yang sudah ia tandai dengan bekas-bekas miliknya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Di pertemuan keempat, Mutiara berdiri di tengah studio hanya dengan lingerie merah maroon transparan yang nyaris tak menutupi apa pun.
Bra renda jaring memperlihatkan putingnya yang sudah mengeras.
Sementara panties tali tipis hanya dihubungkan oleh seutas benang kecil di pinggul dan belakang yang nyaris tak ada.
Rafayel menatapnya dengan mata gelap penuh nafsu yang sudah tak lagi disembunyikan.
“Naik ke kain sutra di lantai. Pose doggy, kau pasti tahu maksudku.”
Mutiara merangkak naik ke hamparan kain sutra hitam yang licin dan dingin.
Lututnya menekuk, tubuhnya membungkuk ke depan, punggung melengkung dalam.
Pantatnya terangkat tinggi, lingerie merah maroon transparan itu semakin tertarik, tali tipisnya menekan di antara bibir vaginanya yang sudah basah.
Rafayel memotret sebentar, lalu mendekat dari belakang.
Tangan besarnya mengelus punggung Mutiara yang telanjang dari bahu hingga pinggang, perlahan, menikmati setiap lekuk.
“Punggung lebih melengkung. Ya, seperti itu,” bisiknya serak.
Jemarinya bermain dengan tali bra di punggung Mutiara, menariknya pelan hingga bra terasa semakin ketat di dada.
Lalu tangannya turun, meremas pantat Mutiara dengan kuat, membuka kedua belahan itu lebar-lebar. Mutiara menggigil.
“Hhnn…” desahnya tertahan.
Rafayel menarik tali panties penutup kemaluan ke samping, memperlihatkan vagina Mutiara yang sudah banjir cairan bening.
Tanpa aba-aba, ia menunduk dan menempelkan mulutnya langsung ke klitoris Mutiara.
“Ahh!!” Mutiara tersentak keras.
Lidah Rafayel yang panas dan basah menjilat klitorisnya dengan rakus, mengisap kuat, lalu memutar-mutar ujung lidah di titik paling sensitif itu.
Sensasi panas dan basah membuat paha Mutiara gemetar hebat. Setiap isapan membuat klitorisnya berdenyut-denyut, kenikmatan naik dengan cepat dan brutal.
“Rafayel… ahh… terlalu kuat sensasinya…” erangnya, suara sudah pecah.
Rafayel tidak berhenti. Ia menghisap lebih dalam, lidahnya menjilat dari klitoris hingga lubang vagina, mengecap cairan manis yang terus keluar.
Mutiara menjerit kecil, pinggulnya bergerak sendiri mencari lebih. Tak lama kemudian, orgasme pertama menghantamnya tanpa ampun.
“Aaahhh!!” Tubuhnya mengejang hebat, cairan squirt tipis menyembur ke mulut Rafayel.
Kakinya gemetar tak terkendali, air mata sudah menggenang di pelupuk.
Tapi Rafayel belum selesai.
Sambil masih menjilat sisa cairan orgasme, ia menyusupkan satu jari tengahnya yang panjang dan tebal ke dalam liang senggama Mutiara yang masih berdenyut.
“Hmm, kamu masih perawan ya,” gumam Rafayel puas saat merasakan dindingnya yang sempit dan rapat.
“Aaahhh perih, stop!” jerit Mutiara. Air matanya langsung banjir.
Jari Rafayel terasa terlalu besar, meregang dinding vaginanya yang belum pernah dimasuki.
Rasa perih bercampur dengan sisa kenikmatan orgasme membuatnya menangis tersedu, tapi pinggulnya tetap terangkat tinggi, seolah meminta lebih.
Rafayel mengocok jarinya pelan, masuk keluar dengan ritme yang menyiksa. Setiap kali jarinya masuk lebih dalam, Mutiara menjerit dan menangis.
“Hiks… ahh! Sakit… tapi… ahhn…!”
Sensasi penuh, perih, panas, dan nikmat bercampur jadi satu.
Dinding vaginanya berkedut hebat di sekitar jari Rafayel, cairan terus keluar membasahi tangan pria itu.
Rafayel menatap wajah Mutiara yang basah air mata, ekspresi campuran kesakitan dan kenikmatan itu persis seperti yang ia cari untuk lukisannya.
“Bagus, ekspresi seperti itu,” bisik Rafayel serak, suaranya penuh kepuasan.
Setelah puas dengan pose dan reaksi Mutiara, ia menarik jarinya perlahan.
Mutiara ambruk lemas di atas kain sutra, tubuhnya masih bergetar hebat, vagina masih berkedut, dan air matanya terus mengalir.
Rafayel mengambil kamera.
“Jangan gerak dulu. Aku foto dari semua sudut.”
Flash kamera menyala berulang kali, mengabadikan punggung melengkung, pantat yang memerah karena remasan, vagina yang basah dan agak terbuka karena jari tadi.
Tak lupa air mata yang mengalir di pipi, serta lingerie yang sudah acak-acakan. Terlihat puting payudaranya menegang di balik bra merah maroon renda yang transparan.
Setelah selesai memotret, Rafayel kembali ke kanvas besar. Kuasnya bergerak cepat, menangkap setiap detail yang baru saja ia rasakan dan lihat dengan indranya sendiri.
Mutiara masih terbaring lemas di kain sutra, napasnya tersengal, paha dalamnya basah oleh cairannya sendiri, dan liang senggamanya masih terasa perih berdenyut.
Rafayel meliriknya sekilas sambil melukis, bibirnya tersenyum tipis.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Pertemuan sebelumnya sangat intens, sehingga di sesi kelima ini Mutiara masuk studio dengan jantung berdegup kencang.
Malam ini Rafayel sudah menunggu dengan tatapan yang berbeda, lebih gelap, lebih lapar.
Lingerie putih yang diberikan sangat sensual tapi terkesan suci, dengan bra renda push-up dan panties tali yang hampir tak menutupi apa pun.
Rafayel lalu memasang kalung mutiara dengan liontin tunggal yang berkilau samar di lehernya, kalung yang sama seperti sesi pertama.
Begitu Mutiara memakainya, Rafayel langsung memotret dari berbagai sudut sambil memberi instruksi.
“Berdiri tegak. Satu tangan di atas kepala, satu tangan di pinggang. Kaki kiri sedikit ditekuk. Dada maju.”
Flash kamera menyala berulang. Setelah puas, Rafayel mendekat.
Tanpa kata, ia menarik bra putih itu ke bawah tanpa melepasnya, sehingga kedua payudara Mutiara terbebas dan terdorong ke atas.
“Hah!” Mutiara tersentak saat mulut Rafayel langsung menyergap puting kirinya. Ia mengenyot kuat, menghisap dalam, lalu menggigit.
Lidahnya memutar kasar di puncak yang sudah sensitif. Mutiara menjerit kecil, sensasi panas dan perih bercampur nikmat.
Rafayel berganti ke payudara kanan, mengisap lebih brutal, meninggalkan cupang merah besar di kulit putih Mutiara.
Dada Mutiara cepat penuh noda merah keunguan. Setiap gigitan dan isapan membuat vaginanya berkedut, cairan sudah menetes di paha dalam.
Rafayel memotret lagi payudara yang memerah, wajah Mutiara yang basah keringat, dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bra putih dilempar sembarangan ke lantai.
Kemudian Rafayel menarik celana dalam putih itu ke bawah, melepaskannya dari satu kaki saja hingga menggantung di paha kanan Mutiara.
“Jaga pose.”
Dua jari tebal Rafayel langsung menyusup masuk ke liang senggama Mutiara yang sudah basah sekali.
“Ahh! Ahhn!!” Mutiara menjerit. Jari-jari itu mengocoknya dengan cepat dan dalam, menyentuh titik sensitif di dalam berulang kali.
Bunyi kecipak basah memenuhi studio. Dalam hitungan menit, orgasme kedua menghantamnya.
Tubuh Mutiara kejang hebat. Cairan cinta menyembur keluar, membasahi tangan Rafayel dan lantai.
Kakinya tak kuat menopang, ia jatuh terduduk di lantai, vagina masih berdenyut dan mengeluarkan cairan bening yang terus menetes.
Rafayel memotret lagi dari atas Mutiara yang terduduk lemas, lingerie acak-acakan, vagina basah yang terbuka, dan wajah penuh air mata kenikmatan.
Rafayel berbisik ke telinga Mutiara.
“Terima kasih telah membantuku mewujudkan project Pearls & Skin hari ini.”
Celana dalam yang masih menggantung di kaki akhirnya dilepas, hanya menyisakan kalung mutiara di leher.
Lalu Rafayel melepas semua pakaiannya. Batang kejantanannya sudah tegang sempurna, besar, panjang, dan berdenyut dengan urat-urat menonjol.
Kepala penisnya mengkilap cairan precum.
Mutiara melotot, campuran kagum dan ketakutan.
“Itu… terlalu besar…”
Rafayel tidak menjawab. Ia menarik Mutiara ke posisi doggy style di atas kain sutra. Punggung Mutiara melengkung dalam, pantat terangkat tinggi.
“Please jangan Rafayel, aku masih virgin.” pinta Mutiara dengan suara gemetar.
Rafayel pura-pura tidak mendengar dan mengarahkan batangnya yang besar ke lubang Mutiara yang masih sempit.
Ia lalu menghujam masuk dengan satu dorongan kuat dan dalam.
“AAAAAHHH—!!” jerit Mutiara nyaring memilukan. Selaput daranya robek seketika.
Rasa perih yang menyakitkan membakar liang senggamanya.
Batang Rafayel terlalu besar, meregang dindingnya hingga maksimal. Air matanya langsung banjir deras.
“Sakit…! Sakit sekali… tolong keluar… aku tidak tahan lagi… hiks…!!” Mutiara menangis tersedu, tubuhnya gemetar hebat, hampir pingsan karena perih.
Tapi Rafayel justru memegang pinggulnya kuat dan mulai memompa.
Setiap hentakan dalam dan kuat, batangnya menghunjam hingga pangkal, menyentuh rahim Mutiara.
“Terlalu… besar… ahh! Sakit… tolong berhenti…!” erang Mutiara sambil menangis.
Tapi di balik rasa perih, ada sensasi penuh yang anehnya mulai terasa nikmat.
Payudaranya yang penuh cupang bergoyang-goyang liar setiap kali Rafayel menghantam dari belakang.
Rafayel meraih payudara Mutiara dari belakang, meremasnya kasar sambil terus memompa semakin cepat.
Suara daging beradu dan kecipak cairan basah memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, Rafayel mengerang dalam. Ia menghunjam sekuat tenaga hingga paling dalam, lalu menyemburkan sperma panasnya langsung ke dalam rahim Mutiara.
Jet demi jet, sangat banyak hingga rahim Mutiara terasa penuh dan meluber keluar dari sela-sela vaginanya yang meregang.
Mutiara menjerit lemah, tubuhnya kejang lagi karena sensasi panas sperma yang memenuhinya.
Cairan putih kental menetes deras dari lubangnya yang masih terbuka, membasahi kain sutra di bawahnya.
Rafayel masih tertanam dalam, napasnya memburu di telinga Mutiara.
“Kamu sekarang milikku,” bisiknya serak sambil mengelus perut Mutiara yang sedikit membuncit karena sperma.
Mutiara hanya bisa terisak lemah, vagina berdenyut perih dan penuh, campuran darah tipis dan sperma yang terus keluar.
Akhirnya tubuhnya tergeletak lemas tanpa sehelai benang pun, hanya kalung mutiara cantik yang melingkari lehernya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Rafayel berdiri di samping sofa studio, memandang Mutiara yang tertidur kelelahan.
Tubuh telanjangnya yang penuh bekas cupang merah dan cairan yang masih menetes pelan dari antara pahanya terlihat begitu rapuh sekaligus memuaskan.
Napasnya pelan dan tidak teratur, air mata masih mengering di pipinya.
Sebuah senyum puas terukir di bibir Rafayel.
Bertahun-tahun usahanya membuahkan hasil.
Sejak ia meninggalkan Indonesia dulu, ia tidak pernah benar-benar melepaskan Mutiara. Apalagi sejak gadis itu kuliah.
Dari Perancis, ia selalu memantau gadis itu dari jauh, diam-diam, tapi teliti.
Setiap kali ada pria yang mendekati Mutiara di kampus, Rafayel tahu. Dan ia tidak tinggal diam.
Beberapa ia bayar untuk mundur dengan iming-iming uang yang tak bisa ditolak. Yang lain ia suruh orang untuk mengintimidasi secara halus hingga kasar.
Hasilnya, gadis secantik dan sebaik Mutiara Hardjono tetap sendiri. Tak ada yang berani mendekat terlalu jauh.
Sungguh ironis, semua orang mengira Mutiara terlalu sombong atau pilihan yang terlalu tinggi, padahal ia hanya sedang dijaga dengan ketat oleh bayang-bayang yang tak pernah ia sadari.
Termasuk tawaran menjadi model lukisan ini.
Semua sudah Rafayel atur dengan sangat rapi. Teman kuliah yang memberi informasi itu adalah orangnya.
Bahkan Belle, model dan sahabatnya di Perancis yang datang khusus ke Indonesia, ikut berperan di sandiwara murahan itu.
Pertemuan “kebetulan” di studio pun sudah direncanakan, seperti adegan menampar Rafayel agar efeknya lebih dramatis.
Dan Mutiara, gadis lugu itu benar-benar percaya.
Hingga akhirnya dengan kesadarannya sendiri, ia menawarkan diri untuk menjadi model erotis.
Bahkan membiarkan tubuhnya disentuh, dirasakan, dan ditandai.
Rafayel duduk di pinggir sofa, jemarinya menyentuh lembut rambut Mutiara yang acak-acakan.
Matanya melembut, tapi masih ada bara amarah yang tersisa di dada.
Ia memang selalu mencintai Mutiara. Cinta itu tak pernah surut, bahkan ketika dulu ia pergi meninggalkan keluarga Hardjono.
Tapi luka itu masih ada. Dendam terhadap ayah dan keluarga Mutiara masih membara pelan di dalam dada.
Ia ingin membalas, bukan dengan cara yang membuat Mutiara celaka. Gadis ini terlalu berharga untuk dikorbankan.
Tetapi Rafayel masih menyimpan rasa terima kasih terhadap keluarga Hardjono yang membiayai dia selama ini.
Oleh karena itu, hanya satu lukisan yang dia tuntut bahwa itu karya dia. Sisanya biarlah itu dianggap karya Kresna.
Toh pria itu sudah mendekam di penjara karena kejahatannya yang lain.
Suatu saat nanti, mungkin setelah dendamnya terbayar cukup, ia akan menyatakan cintanya kembali.
Terbuka. Tanpa topeng pelukis dingin.
Ia akan memperlakukan Mutiara dengan lembut, memanjakannya, dan memberikan segala yang pernah ia impikan dulu di studio kecil mereka.
Tapi untuk saat ini…
Rafayel menunduk, mencium kening Mutiara yang berkeringat dengan penuh kasih sayang yang gelap.
“Kamu milikku, Mutiara,” bisiknya pelan di telinga gadis yang tertidur itu. “Sudah dari dulu, dan selamanya."
The End??

Comments
Post a Comment