Lemonade! ~ LOVE UNCUT
Akhir pekan ini, Abang Caleb akan bertanding dalam kompetisi basket antar kampus. Begitu mendengar jadwalnya, aku langsung membuka kalender dan tersenyum sendiri.
Kebetulan aku juga sedang memasuki masa libur, jadi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jadwal kami benar-benar cocok.
Kesempatan seperti ini rasanya sayang kalau dilewatkan.
Aku pun meminta izin kepada nenek untuk menginap di apartemen Caleb selama seminggu.
Kampusku dan kampus Caleb itu beda kota, jadi kami semakin jarang ketemu. Semestinya abang sudah pulang ke rumah, tapi kali ini belum bisa.
Daripada aku bosan liburan di rumah sama Nenek, aku memutuskan ke kota tempat abang kuliah.
Kebetulan nenek juga ada acara dengan teman-temannya, jadi semestinya tidak terlalu kesepian jika aku tinggal pergi lagi.
Seperti biasa, nenek lebih dulu memastikan kalau aku sudah menyiapkan semua keperluan sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Ingat, jangan terlalu merepotkan Caleb. Dia pasti lagi sibuk latihan."
Aku mengangguk sambil memeluk nenek dari samping.
"Iya, Nek."
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Kereta yang kutumpangi tiba menjelang siang. Suara pengumuman menggema di seluruh stasiun, bercampur dengan langkah kaki para penumpang yang baru turun.
Beberapa orang tampak terburu-buru mengejar jadwal berikutnya, sementara yang lain sibuk mencari keluarga yang datang menjemput.
Aku menyeret koper melewati pintu kedatangan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Tidak sulit menemukan Caleb. Dengan tinggi badan yang menjulang, ia berdiri santai di dekat salah satu pilar.
Kedua tangannya masuk ke saku celana, tetapi begitu melihatku, senyum tipis langsung muncul di wajahnya.
Ia mengangkat satu tangan, "Adeeek, abang di sini!”
Aku melambai sambil mempercepat langkah.
Belum sempat aku berhenti tepat di depannya, Caleb sudah mengambil gagang koper dari tanganku. Ia juga mengambil ransel yang masih kugendong.
"Abang, ranselnya masih bisa aku bawa sendiri."
Caleb menoleh sekilas. Senyum kecil di sudut bibirnya membuatku tahu ia sedang sengaja menggodaku.
Aku mendecak pelan sambil mengikutinya berjalan keluar stasiun, sambil berterima kasih sudah dijemput olehnya.
Udara kota menyambut dengan semilir angin hangat. Pepohonan di sepanjang jalan mulai bergoyang pelan, sementara kendaraan berlalu-lalang tanpa henti.
"Perjalanan lancar?"
"Lancar. Cuma pegal duduk lama."
Ia mengangguk pelan, "Lapar?"
Aku terkekeh, "Kelihatan, ya? Iya, belum sempat."
"Ayo makan dulu, sebelum ke apartemen kita ke restoran ya!"
Jawabannya terdengar sederhana, seolah itu memang sudah menjadi keputusan sejak awal.
Beberapa menit kemudian, mobil Caleb berhenti di sebuah restoran yang tampak cukup ramai.
Begitu masuk, aroma makanan yang baru dimasak langsung menyambut kami.
Interior restoran didominasi kayu berwarna hangat dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke jalan raya.
Suara percakapan para pengunjung berpadu dengan denting peralatan makan dan musik akustik yang diputar pelan di langit-langit ruangan.
Seorang pelayan tersenyum begitu melihat Caleb, "Selamat datang. Meja seperti biasa?"
"Iya."
Aku menoleh penasaran, "Abang sering ke sini ya?"
"Kalau lagi pengin makan di luar."
Pantas saja beberapa pegawai tampak mengenalinya. Kami duduk di dekat jendela.
Caleb membuka buku menu hanya sebentar sebelum menyerahkannya kepadaku.
"Mau pesan apa dek?"
Aku membaca sekilas, tetapi pilihan makanannya terlalu banyak.
"Aku bingung."
Ia mengambil kembali menu itu, "Kalau begitu aku yang pilih."
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa pesanan kami satu per satu hingga meja kecil di dekat jendela itu perlahan terisi.
Begitu piring terakhir diletakkan di hadapan kami, aroma manis-gurih dari braised chicken wings langsung menguar.
Aku menatap hidangan itu beberapa detik sebelum tersenyum.
"Abang masih ingat?"
Caleb mengangkat sebelah alisnya sambil menuangkan minuman ke dalam gelasku.
"Aku gak pernah lupa makanan favorit adek."
Aku mengambil satu potong, meniupnya sebentar sebelum menggigitnya. Rasanya memang enak.
Dagingnya empuk dengan saus yang meresap hingga ke dalam. Namun setelah beberapa kali mengunyah, aku justru terkekeh pelan.
"Kenapa?" tanya Caleb.
Aku menggeleng.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Kelihatan bohong."
Aku tersenyum jahil.
"Enak tapi..."
Caleb menatapku menunggu kelanjutannya.
"Masakan abang tetap lebih enak."
Untuk sesaat ia hanya diam. Lalu terdengar tawa kecil yang rendah dari bibirnya.
"Kamu lagi muji atau lagi minta dimasakin?"
"Dua-duanya."
Jawabanku yang terlalu jujur membuat Caleb kembali terkekeh.
"Boleh."
Ia mengambil sepotong ayam ke piringku.
"Besok aku masak."
Mataku langsung berbinar.
"Beneran?"
"Iya."
"Janji?"
Caleb mengangguk santai.
"Janji."
Karena pertandingan basket baru akan dimulai lusa, hari ini dan besok sepenuhnya menjadi waktu luang kami.
"Ada rencana besok?" tanyaku sambil menyeruput minuman.
"Ada."
"Apa?"
"Kita ke pasar."
"Pasar?"
"Beli bahan."
Aku berkedip.
"Bahan buat apa?"
Caleb menatapku beberapa detik, seolah heran aku bisa melupakan rencana kami.
"Apple pie yang kita rencanakan minggu lalu, dan braised chicken wings yang barusan adek minta abang masak buatmu."
"Oh!"
Aku langsung tertawa kecil sambil menepuk dahiku sendiri.
"Iya juga."
Pertandingan basket memang menjadi alasan utamaku datang ke kota ini, tetapi seminggu penuh menghabiskan waktu bersama Abang Caleb akan sangat menyenangkan.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Apartemen milik Caleb lebih besar dariku, sehingga nyaman menginap di sini. Bukannya nenek tidak adil kepada kami, tapi ini murni karena usaha Caleb.
Jadi saat ini Caleb sudah bekerja sambil kuliah. Pastinya sudah memiliki gaji sendiri, jadinya dia sering memberiku uang jajan.
Keesokan paginya, kami berangkat ke pasar tidak lama setelah matahari terbit.
Pasar tradisional itu sudah ramai sejak pagi. Lorong-lorongnya dipenuhi pedagang yang sibuk menawarkan dagangan.
Suara tawar-menawar terdengar dari segala arah, sementara aroma sayuran segar bercampur dengan harum rempah-rempah yang memenuhi udara.
Caleb mendorong troli belanja kecil di sampingku, sementara aku berjalan sambil membawa daftar belanja di ponsel.
Satu per satu bahan untuk membuat apple pie berpindah ke dalam troli. Setelah itu kami menuju bagian daging untuk membeli ayam segar.
"Ini buat braised chicken wings?" tanyaku.
"Iya, kan kemarin abang janji mau masakin adek,” kata Caleb sambil mencubit hidungku.
Aku tersenyum puas.
"Berarti nanti makan siang kita spesial."
"Kemarin katanya masakanku lebih enak," kata Caleb sombong.
Aku tertawa pelan.
Sebelum pulang, aku berhenti di kios buah, "Aku mau beli lemon."
Caleb ikut berhenti, "Lemon?"
"Iya."
Aku mengambil beberapa buah lemon yang kulitnya tampak segar.
Setelah itu, aku memasukkan beberapa lembar daun mint, sebotol madu, dan beberapa kaleng soda ke dalam troli.
Caleb memperhatikan satu per satu barang yang kupilih.
"Mau bikin apa?"
"Lemonade."
"Lemonade?"
Aku mengangguk mantap, "Buat diminum pas pertandingan abang besok."
Ekspresi Caleb langsung berubah sedikit penasaran, "Boleh dicoba hari ini?"
Aku buru-buru menggeleng.
"Nggak boleh."
"Kenapa?"
"Soalnya ini buat besok."
"Tetap aja bisa dicoba."
Aku kembali menggeleng lebih keras, "Nggak bisa, ini tuh surprise buat abang."
Caleb menatapku beberapa detik, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Katanya surprise."
"Iya."
"Tapi kamu sudah kasih tahu kejutannya."
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Kalau abang udah tahu, masih bisa dibilang surprise?" Caleb tertawa.
Aku langsung cemberut.
"Mau gimana lagi..."
Aku mengangkat kedua bahu pasrah.
"Kita tinggal serumah. Mana mungkin aku sembunyi-sembunyi beli lemon sama madu."
Tawa Caleb pecah, kali ini lebih keras daripada tadi.
"Iya juga."
Aku masih memasang wajah sebal.
"Jangan diketawain."
"Oke, aku baru minum lemonade buatanmu besok."
"Janji?"
"Janji."
Aku akhirnya tersenyum puas.
"Nah, gitu dong."
Caleb hanya menggeleng kecil melihat reaksiku yang terlalu mudah puas.
Meski begitu, dari sorot matanya yang lembut, aku tahu ia sama penasarannya dengan anak kecil yang sedang menunggu hadiah.
Bedanya, kali ini ia benar-benar berniat menahan diri sampai pertandingan besok selesai, hanya karena tidak ingin merusak kejutan kecil yang sudah susah payah kusiapkan untuknya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Sehabis makan malam, suasana ruang makan masih hangat. Caleb duduk di kursi sambil memegang gelas air, tapi matanya tidak lepas dari tubuhku.
Tatapannya gelap, dalam, dan lapar. Aku pura-pura sibuk membereskan piring, tapi aku bisa melihat jelas tonjolan besar yang sudah menegang di balik celana pendeknya.
Jantungku berdegup lebih cepat. Aku hanya memakai daster tipis berwarna pink yang panjangnya sampai pertengahan paha.
Karena cuaca malam agak panas, aku tidak memakai bra.
Putingku tanpa sadar mengeras, menonjol jelas dari balik kain tipis itu setiap kali aku bergerak.
“Besok abang ada pertandingan penting. Harus istirahat yang cukup ya,” kataku berusaha mengalihkan perhatian sambil berjalan menuju kamar.
Tapi Caleb tidak menjawab. Dia bangkit dan mengikutiku ke kamar dengan langkah tenang tapi penuh tekad.
Begitu aku masuk kamar dan hendak menutup pintu, tangan besarnya sudah menarik pinggangku dari belakang.
Tubuhku langsung membentur dada bidangnya yang keras.
“Abang…” desahku.
“Abang nggak peduli besok ada pertandingan,” bisiknya serak di telingaku, napasnya panas menyapu daun telingaku.
“Malam ini adek terlalu menggoda.”
Pinggangku ditarik lebih erat hingga bokongku menempel sempurna di tonjolan kerasnya. Lalu bibirnya merenggut bibirku dengan kasar dan penuh nafsu.
Ciuman itu langsung dalam. Lidahnya menyusup masuk, menari liar dengan lidahku, menghisap, dan saling terbelit.
Air liur kami menetes dari sudut bibir, mengalir ke dagu.
Suara kecupan basah dan erangan kecil memenuhi kamar yang temaram.
Caleb melepas ciuman sebentar hanya untuk menarik kaosnya ke atas dan melemparnya sembarangan.
Otot perutnya yang terukir sempurna terlihat jelas. Celana pendeknya diturunkan dengan cepat.
Karena tidak memakai celana dalam, penisnya langsung melompat bebas, tebal, panjang, berurat menonjol, kepalanya mengkilap precum, dan berdiri tegak sempurna menantang gravitasi.
Tangan kanannya langsung naik meremas payudaraku dari luar daster.
“Adek nakal banget…” bisiknya di telingaku sambil mencubit putingku pelan.
“Gak pakai bra di depan abang. Mau goda abang sampai ngaceng begini ya?”
“Aku gak bermaksud gitu,” jawabku melenguh, suaraku sudah gemetar karena remasan yang kuat.
Caleb tertawa pelan, suaranya rendah dan berbahaya.
Dengan satu gerakan cepat, dia menarik dasterku ke atas hingga lepas dari tubuhku.
Celana dalamku ikut diturunkan kasar hingga ke mata kaki. Aku sekarang benar-benar telanjang di hadapannya.
Dia mendorongku ke kasur hingga punggungku mendarat lembut di seprai. Caleb naik ke atas tubuhku seperti predator.
Mulutnya mulai menciumi seluruh tubuhku, mulai dari leher, tulang selangka, lalu turun ke payudara.
Dia menghisap payudara kananku dengan rakus, lidahnya memutar putingku yang sudah sangat keras.
Tangan kirinya meremas payudara satunya sambil ibu jarinya memainkan puting.
Tangan kanannya turun ke bawah, jari tengahnya mengusap klitorisku yang mulai basah dengan gerakan melingkar lambat.
“Ahh… Abang… enak…” erangku, pinggulku terangkat pelan mengikuti jarinya.
Caleb tidak memberi waktu lama. Dia membuka lebar kedua pahaku, posisi lututku ditekuk tinggi.
Kepala penisnya yang tebal ditempelkan ke bibir vaginaku yang masih agak kering, lalu didorong masuk dengan satu hentakan kuat.
“Nngghhh!!” aku mengerang keras. Karena belum terlalu basah, rasanya penuh dan agak nyeri. Tapi rahimku langsung terasa sangat penuh.
Batangnya yang besar memenuhi setiap inci vaginaku hingga ke dasar.
“Ketat sekali,” desis Caleb sambil menutup mata sebentar menikmati. Lalu dia mulai menggoyang pinggulnya dengan kuat dan cepat.
Setiap hentakan membuat tubuhku naik turun di kasur. Payudaraku bergoyang liar.
Suara gesekan semakin keras seiring vaginaku mulai mengeluarkan cairan banyak.
“Abang… pelan dulu… ahh… terlalu dalam…” erangku, tapi Caleb malah semakin cepat.
Dia menunduk, menghisap payudaraku lagi sambil terus menggenjotku tanpa ampun.
Tak butuh waktu lama, gelombang orgasme pertama menyapu tubuhku.
Vaginaku mengejang hebat menggigit penisnya, cairanku menyembur keluar membasahi pangkal batangnya.
Caleb tidak berhenti. Dia mencabut penisnya yang licin, lalu memutar tubuhku dengan kuat.
Sekarang aku berada dalam posisi merangkak. Kedua lututku bertumpu di kasur, kedua tanganku bertumpu di depan.
Punggungku melengkung dalam, bokongku terangkat tinggi ke belakang, kepalaku tertunduk hingga dahi hampir menyentuh sprei.
Posisi ini membuat vaginaku terbuka lebar, sepenuhnya terpapar untuknya.
Caleb berdiri di belakangku. Kedua tangannya memegang pinggulku yang lebar dengan kuat.
Lalu dia menarik kedua tanganku ke belakang, memegang pergelangan tanganku seperti tali kekang.
Tubuhku sekarang benar-benar terangkat, hanya bertumpu pada lutut, sementara dada montokku tergantung dan bergoyang setiap kali dia bergerak.
Penisnya menghujam masuk dari belakang dengan sangat dalam. Posisi ini membuat kepalanya langsung menghantam rahimku berulang kali.
“AAHHH!! Abang… terlalu dalam…” jeritku nikmat.
Caleb menarik tanganku lebih ke belakang sambil menggoyang pinggulnya dengan kasar dan cepat.
Setiap hentakan membuat bola zakarnya menampar klitorisku. Payudaraku bergoyang liar ke depan dan belakang.
Aku orgasme lagi dengan hebat, seluruh tubuhku gemetar tidak terkendali, cairanku menetes-netes ke kasur.
Tak lama kemudian, Caleb menggeram seperti binatang. Tubuhnya menegang.
Dia menyemprotkan spermanya yang panas dan kental ke dalam rahimku dengan sangat lama.
Semprotan demi semprotan menyembur deras, memenuhi aku hingga meluap.
Cairan putih kental bercampur cairanku mengalir deras keluar dari vaginaku, menetes panjang di sepanjang pahaku yang gemetar.
Kami ambruk bersama ke kasur. Caleb menarikku ke dalam pelukannya dari belakang, penisnya yang masih setengah keras masih tertanam di dalam vaginaku. Sperma masih menetes pelan keluar.
“Kamu milik abang… selamanya,” bisiknya di tengkukku sambil mencium leherku lembut.
Aku hanya bisa mendesah lemah, tubuhku benar-benar lelah, “Abang… istirahat ya… besok main yang bagus.”
Caleb tersenyum dan memelukku lebih erat. Kami tertidur pulas dalam pelukan hangat, tubuh basah keringat, dan rahimku yang masih penuh dengan cairannya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Caleb berangkat lebih dulu sejak pagi menuju kampus karena tim basket harus melakukan briefing terakhir, pemanasan, dan mengecek strategi sebelum pertandingan dimulai sore nanti.
Sebelum keluar, ia bahkan masih sempat memastikan aku sudah sarapan dan mengingatkanku untuk mengunci pintu apartemen.
"Aku berangkat dulu."
"Iya. Semangat ya, bang."
Caleb mengangguk kecil, "Nanti Gideon yang jemput kamu."
Ia mengenakan jaket tim di atas kaus latihan, tas olahraga tersampir di bahunya. Sesaat sebelum membuka pintu, Caleb menoleh lagi.
"Kalau ada apa-apa, telepon aku."
"Iya."
Baru setelah mendengar jawabanku, ia benar-benar pergi.
Yang tidak diketahui Caleb adalah aku sebenarnya juga punya agenda sendiri hari ini.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Semuanya bermula dari minggu lalu, ketika beberapa teman satu tim Caleb diam-diam menghubungiku.
Mereka mengajakku bergabung menjadi cheerleader khusus untuk pertandingan hari ini.
Katanya, seluruh anggota tim sudah sepakat ingin memberikan kejutan kecil untuk Caleb.
"Dia pasti senang."
"Caleb paling sayang sama adiknya."
"Kalau lihat kamu datang dukung langsung, semangatnya pasti naik."
Awalnya aku sempat ragu. Aku belum pernah menjadi pemandu sorak, apalagi tampil di depan banyak orang.
Namun mempertimbangkan semangat mereka, aku akhirnya menyetujuinya.
Seragam pun langsung dikirim ke rumah oleh mereka dan saat ini tersimpan rapi di koper.
Pagi ini, setelah mengenakan seragam cheerleader yang sudah disiapkan panitia, aku berkali-kali merapikan rok lipit super pendek berwarna senada dengan atasan ketat yang kupakai.
Sepasang pompom berwarna oranye dan hitam berada di kedua tanganku.
Jujur saja aku sedikit malu karena pakaian ini lumayan membuat tubuhku tercetak dengan ketat dan makin terlihat montok.
Tapi kalau ini bisa membuat Caleb tersenyum, rasanya tidak ada salahnya mencoba.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Menjelang siang, Gideon datang menjemputku.
Ia adalah salah satu rekan setim Caleb dengan tubuh tinggi besar dan pembawaan yang santai.
Begitu melihatku keluar dari apartemen dengan seragam cheerleader, matanya langsung membulat.
"Wah."
Aku tertawa gugup.
"Jelek ya?"
"Hah? Bukan."
Ia menggeleng cepat.
"Justru sekarang aku makin yakin Caleb bakal kaget."
Aku ikut tertawa.
"Itu memang tujuannya."
"Semoga dia nggak terlalu kaget."
Aku sama sekali tidak menyadari kalau ucapan Gideon ternyata hampir menjadi kenyataan.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Gedung olahraga kampus sudah dipenuhi mahasiswa meski pertandingan belum dimulai, semangat yang menguar sangat terasa.
Sorak sorai penonton bercampur dengan dentuman musik penyemangat yang menggelegar dari pengeras suara.
Di salah satu sisi lapangan, tim basket Caleb sedang melakukan pemanasan.
Beberapa pemain melakukan shooting, sementara yang lain saling mengoper bola. Aku berdiri di tepi lapangan bersama para cheerleader lain.
Begitu melihat sosok Caleb di antara rekan-rekan setimnya, wajahku langsung berbinar. Aku mengangkat kedua pompom tinggi-tinggi lalu melambaikannya ke arahnya.
"Abang!"
Caleb yang semula sedang berbincang dengan pelatih spontan menoleh. Pandangan kami bertemu.
Untuk sesaat, ia hanya diam.
Sorot matanya turun perlahan dari wajahku, lalu ke seragam cheerleader yang kukenakan. Rok lipit pendek. Kaus super ketat. Pompom di kedua tanganku.
Ekspresinya berubah begitu cepat hingga hampir tidak terlihat. Rahangnya sedikit mengeras, alisnya nyaris bertaut, seolah sedang menahan sesuatu.
Gideon yang berdiri tidak jauh darinya bahkan refleks berdeham pelan sambil mengalihkan pandangan.
Namun hanya beberapa detik kemudian, Caleb menarik napas panjang. Ketegangan di wajahnya perlahan menghilang, digantikan senyum tipis yang sangat ia kenal.
Ia berjalan menghampiriku, "Adek."
Aku langsung menyodorkan kedua pompom ke depan dengan bangga, "Taraaa!"
Caleb memandangku beberapa saat sebelum akhirnya bertanya pelan, " Kenapa roknya mini banget?"
Aku berkedip, "Hah?"
"Kok tiba-tiba jadi pemandu sorak?"
Nada suaranya tetap lembut, tetapi aku bisa menangkap kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.
Aku tersenyum lebar, "Surprise!"
Aku memutar pompomku sekali, "Gimana? Abang senang, nggak?"
Caleb mengembuskan napas pelan.
Tangannya terangkat, lalu mengusap lembut rambutku yang sudah ditata sejak pagi.
"Adek..." Tatapannya beralih sebentar ke arah tribun.
Cukup banyak mahasiswa laki-laki yang tanpa sengaja melirik ke arah kami. Ia kembali menatapku.
"Lain kali jangan pakai baju seperti ini, ya."
Aku memiringkan kepala, "Kenapa?"
"Banyak yang lihatin kamu."
Kalimat berikutnya keluar hampir seperti gumaman, "Abang nggak suka."
Senyumku perlahan memudar, "Oh..."
Aku menundukkan kepala, pompom di tanganku ikut turun.
Padahal, aku hanya ingin membuatnya bahagia.
"Aku kira abang bakal senang."
Melihat wajahku yang langsung murung, ekspresi Caleb pun berubah. Penyesalan tampak jelas di matanya.
Ia menghela napas sekali lagi, lalu melangkah lebih dekat, "Hei."
Tangannya mengusap pelan punggungku, seperti saat ia biasa menenangkan aku sejak kecil
"Maafin abang," Aku mengangkat kepala perlahan.
"Aku senang." Senyum kecil kembali muncul di wajah Caleb, kali ini jauh lebih hangat.
Tatapannya begitu lembut hingga membuatku percaya, "Makasih ya."
Ia menepuk pelan punggungku, "Udah repot-repot nyiapin semua ini buat abang."
Aku akhirnya tersenyum lagi, "Berarti surprise-ku berhasil?"
Caleb terkekeh pelan, "Iya."
Matanya kembali menatapku beberapa detik, lalu menggeleng kecil seolah pasrah.
"Abang cuma..."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
"...belum terbiasa kalau banyak orang lain ikut melihat adek."
Aku hanya bisa tersenyum kecil. Ucapan itu terdengar begitu khas Caleb, protektif sampai terkadang berlebihan.
Meski begitu, aku tahu ia tidak sedang marah karena seragam yang kukenakan.
Ia hanya masih belajar menerima bahwa adik yang selalu ingin ia lindungi kini juga bisa menjadi pusat perhatian orang lain.
Tak lama kemudian, pelatih memanggil seluruh pemain untuk berkumpul. Caleb mengusap kepalaku sekali lagi sebelum berbalik menuju timnya.
"Tunggu di sini."
"Iya."
Ia melirikku sambil tersenyum tipis.
"Semangat juga, Cheerleader."
Aku langsung mengangkat kedua pompom tinggi-tinggi.
"Siap, Kapten!”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Di bawah sorotan lampu arena yang terang benderang, musik cheerleader menggelegar mengiringi setiap dribble bola basket.
Aku berdiri di pinggir lapangan, rok pendek seragamku yang ketat hanya sebatas paha, menyempurnakan lekuk tubuh.
Setiap gerakan cheers membuat payudaraku yang besar bergoyang naik-turun, pinggulku yang bergoyang mengikuti irama, dan ekor kuda rambutku melambai-lambai.
Aku tahu Caleb sedang berusaha fokus, tapi matanya terus melirik ke arahku.
"Caleb! Pass here!" teriak salah satu teman timnya. Tapi Caleb hampir kehilangan bola karena pandangannya tertuju padaku.
Aku tersenyum manja, mengedipkan mata sambil mengangkat pom-pom tinggi-tinggi, sengaja membuat dadaku melonjak lebih jelas.
Keringat sudah mulai membasahi kulitku, membuat seragam putih tipis semakin mencetak tubuhku.
Di bangku pemain, Caleb duduk sebentar saat timeout. Wajahnya memerah, bukan hanya karena permainan.
Aku melihat tonjolan besar di celana pendek basketnya yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Dia menarik handuk ke pangkuannya, berusaha menutupi, tapi aku tahu dia sudah ngaceng keras sejak awal pertandingan.
"Kamu sengaja ya, dek?" gumamnya pelan saat aku mendekat membawakan botol air dan lemonade buatanku.
“Hmmm segar es lemonnya, makasih ya!”
Caleb berusaha terdengar ceria untuk menutupi suaranya yang penuh nafsu.
"Aku cuma pengen bikin abang semangat," jawabku manja, membungkuk sedikit agar belahan dada dalamku terlihat jelas.
"Kenapa? Susah konsentrasi?" ujarku nakal.
Caleb menelan ludah dan berbisik, "Kamu jangan nakal, setiap goyangan adek itu bikin aku mau tarik kamu ke locker room sekarang juga.”
Aku tertawa kecil, merasakan vaginaku sudah mulai basah. Celana dalam tipisku terasa lembab, cairan hangat merembes pelan.
Melihat Caleb bermain adalah siksaan nikmat tersendiri.
Otot lengannya yang kekar menegang setiap kali melempar atau men-dunk, keringat mengalir deras di dada bidangnya yang terbuka karena jersey basah menempel.
Tonjolan di celananya sesekali terlihat saat dia berlari, membuat imajinasiku liar.
Aku membayangkan bagaimana batang tebal dan panjangnya itu nanti memompa vaginaku tanpa ampun.
Cewek-cewek lain di tribun juga mencuri pandang. Aku melihat beberapa cheerleader rival dan penonton perempuan berbisik-bisik, mata mereka lapar menatap tubuh atletis Caleb.
Itu membuatku semakin panas, dia milikku, dan aku yang akan menikmati setiap inci tubuhnya nanti.
Pertandingan berlanjut dengan ketat. Caleb mencetak skor demi skor, tapi setiap kali dia lari melewatiku, matanya menatap pinggulku yang bergoyang.
Aku sengaja berputar lebih dramatis, rokku terangkat sedikit memperlihatkan paha mulus yang berkilau karena keringat.
Saat pertandingan memasuki kuarter akhir, aku sudah tak tahan. Vaginaku berdenyut-denyut, klitorisku membengkak di balik celana dalam.
Aku membayangkan Caleb mendorongku ke dinding, mengangkat satu kakiku, lalu memasukkan penisnya yang keras dan berurat itu dalam satu hentakan kuat.
Tapi arena ini ramai. Ribuan orang. Tak mungkin kami melakukannya di sini.
Akhirnya peluit panjang berbunyi. Tim Caleb menang telak.
Sorak-sorai memenuhi arena. Caleb langsung berlari ke arahku, memelukku erat meski tubuhnya penuh keringat.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Caleb memegang tanganku erat setelah kami meninggalkan arena. Matanya masih gelap penuh nafsu.
“Aku nggak mau nunggu sampai rumah,” bisiknya serak. “Ada taman kecil di belakang kampus, lumayan tersembunyi.”
Jantungku berdegup kencang saat kami berjalan menjauh dari keramaian di senja yang indah ini.
Taman itu memang tersembunyi, dikelilingi pepohonan lebat dan pagar tanaman tinggi.
Kami menemukan bangku kayu yang agak tersembunyi di balik semak. Aku duduk di pangkuannya, rok pendek cheerleaderku naik hingga paha.
“Adek bikin abang gila di lapangan,” kata Caleb sambil memeluk pinggangku yang lebar, jarinya mengelus pinggulku.
Caleb mengambil botol es lemonade yang tadi kubuat khusus untuknya dari tas. Cairan kuning segar itu masih dingin.
Dia meneguk panjang, tenggorokannya naik-turun. “Enak banget,” pujinya sambil mendesah puas.
“Segar… manis… persis kayak body adek yang bikin haus ini.
”Aku nyengir lebar, pipiku memerah. “Beneran? Aku mau coba juga dong.”
Tanpa memberi kesempatan, aku mendekatkan wajahku ke bibirnya. Caleb tersenyum nakal, lalu menyesap lemonade lagi tanpa menelan.
Saat bibir kami bersentuhan, dia mengalirkan cairan asam-manis segar itu ke mulutku.
Beberapa tetes lolos ke daguku, dingin dan lengket. Aku menelan, lalu langsung melanjutkan dengan french kiss yang panas.
Lidah kami saling menari, bertarung, menghisap. Tangan Caleb naik ke dadaku, meremas payudaraku yang besar dan kenyal dari luar seragam tipis.
“Mmmhh…” erangku pelan di antara ciuman.
Payudaraku terasa penuh di genggamannya, putingku mengeras menusuk telapak tangannya.
Aku melirik ke sekitar dengan was-was. “Caleb… takut ada yang lewat,” bisikku, tapi suaraku sudah gemetar karena nafsu.
Tubuhku malah semakin tegang, vaginaku berkedut-kedut, cairan hangat semakin membasahi celana dalamku.
“Tenang… tempatnya sepi,” jawabnya sambil terus meremas. “Tapi kalau ketahuan juga nggak apa-apa… biar mereka tahu kamu cuma milikku.”
Tangan Caleb turun pelan, menyusup ke bawah rok pendekku. Jarinya yang kasar mengusap celana dalamku yang sudah basah kuyup dari luar.
Dia menemukan klitorisku yang membengkak, menggosoknya dengan gerakan melingkar yang membuat lututku lemas.
“Ahh… Caleb…” aku menggigit bahunya untuk menahan erangan. Sensasinya terlalu kuat.
Dia menggeser celana dalamku ke samping, dua jarinya langsung meluncur masuk ke lubang vaginaku yang licin dan panas.
“Basah banget, sayang,” desisnya puas. “Vaginamu ngisep jari aku.”
Dia mulai mengocok dengan cepat dan kuat. Jari-jarinya melengkung, menghantam titik-ku berulang kali.
Aku memeluk lehernya erat, pinggulku bergerak sendiri mengikuti irama jarinya.
“Aku… mau keluar… abaaang!” erangku hampir menangis karena kenikmatan.
Tubuhku mengejang hebat. Orgasme menyapu diriku seperti gelombang.
Vaginaku berdenyut-denyut kuat menggigit dua jarinya, cairan beningku menyembur sedikit membasahi telapak tangannya.
Aku gemetar hebat di pangkuannya, napasku tersengal.
Caleb menarik jarinya perlahan, lalu memandangku dengan tatapan sexy yang gelap sambil menjilat jari-jarinya yang basah oleh cairanku.
“Manis,” katanya sambil tersenyum nakal. “Lebih enak dari lemonade-mu.”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Tanpa banyak kata, Caleb menurunkan aku dari pangkuannya dan mendudukkan aku di bangku kayu taman itu.
Punggungku bersandar pada sandaran bangku yang dingin, rok pendek cheerleaderku disingkap tinggi hingga pinggang.
Dengan gerakan cepat tapi penuh nafsu, dia menurunkan celana dalamku yang sudah basah kuyup hingga ke mata kaki, lalu melebar lebar kedua pahaku.
Caleb berlutut di antara kakiku yang terbuka lebar. Cahaya matahari senja menyinari vaginaku yang sudah merah dan mengkilap.
Dia meraih botol es lemonade yang masih setengah penuh. Aku mengerjap, “Abang mau ngapain sih?”
Belum sempat selesai bicara, cairan dingin itu sudah disiramkan langsung ke vaginaku yang panas.
“Ahhh!” aku bergidik keras, tubuhku mengejang karena kontras suhu.
Lemonade yang dingin mengalir masuk ke lipatan vaginaku, membasahi klitorisku yang membengkak, dan menetes ke bawah hingga membasahi bangku.
Caleb tersenyum nakal. Dua jarinya langsung masuk, mengocok cairan lemonade bercampur cairan cintaku di dalam vaginaku dengan gerakan cepat.
“Dingin abang… ahh… tapi enak…” erangku, tanganku mencengkeram bahunya.
Lalu dia menunduk. Mulutnya langsung menempel rakus di vaginaku.
Caleb menghisap dengan lapar, lidahnya menjilat dan menyedot campuran lemonade serta cairanku yang melimpah.
Suara isapan basah dan erangannya yang dalam terdengar sangat mesum.
“Nngghhh!!” tubuhku melengkung hebat. Sensasi dingin lemonade bercampur panas lidahnya membuat kepalaku pusing kenikmatan.
Dia menghisap klitorisku kuat-kuat, lalu menjilat ke bawah, memasukkan lidahnya ke dalam lubang vaginaku yang berkedut.
Aku memandang ke bawah. Wajah Caleb belepotan, campuran lemonade yang kuning bening dan cairan beningku yang kental mengalir di dagu dan bibirnya.
Dia menatapku dengan tatapan sexy sambil terus menghisap.
“Segar banget,” katanya parau di antara isapan. “Manis… asam… dan wangi vaginamu. Enak banget dek.”
Lidahnya masuk lebih dalam, menari-nari di dalam dinding vaginaku yang sensitif. Klitorisku dihisap, dijilat, dan digigit pelan dengan bibirnya.
Dua jarinya ikut membantu, mengocok tanpa henti. Aku sudah tak bisa menahan erangan lagi, “Adek keluar lagi!!”
Tubuhku mengejang hebat untuk kedua kalinya. Orgasme yang lebih kuat menyapu diriku.
Vaginaku berdenyut-denyut hebat, menyemburkan cairan bening bercampur sisa lemonade ke mulut Caleb.
Dia terus menghisap rakus, menelan semuanya tanpa menyia-nyiakan setetes pun.
Saat aku masih gemetar menikmati sisa orgasme, Caleb berdiri sebentar dan melepas celananya.
Batangnya sudah tegang sempurna, besar, berurat, dan kepalanya mengkilap precum lagi.
Dia duduk di sampingku di bangku, penisnya berdiri tegak menantang. Lalu dengan mudahnya, Caleb mengangkat tubuhku ke pangkuannya.
Kami berhadapan, dadaku yang membusung menempel di dadanya yang bidang. Rokku masih tersingkap tinggi.
Caleb memegang pinggulku, lalu menurunkanku perlahan ke batangnya yang besar.
Kepala penisnya yang tebal mendesak masuk ke vaginaku yang basah dan licin.
Meski sudah sangat basah, ukurannya tetap membuatku merasa penuh sekali. “Ahh… pelan… besar banget…” erangku, wajahku meringis sedikit karena nyeri nikmat.
Rasanya seperti terbelah lebar, dinding vaginaku meregang maksimal menggigit batangnya yang berurat.
Caleb mendesah panjang saat seluruh batangnya masuk hingga pangkal, kepalanya menghantam rahimku.
Dia mulai menggoyang pinggulnya dengan penuh nafsu. Aku naik turun di pangkuannya, kedua tanganku memeluk lehernya.
Setiap hentakan membuat penisnya menghujam dalam, menghantam rahimku dengan bunyi basah.
Payudaraku yang besar bergoyang liar di depan wajahnya. Aku menjepit vaginaku dengan ketat, meremas batangnya setiap kali dia masuk.
Caleb mengerang keras, wajahnya penuh kenikmatan. Gerakannya semakin cepat dan kuat.
Tangan besarnya meremas bokongku, membantu naik turun lebih dalam.
Setiap kali kepala penisnya menghantam dasar vaginaku, gelombang kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku sudah lupa takut ada orang yang lewat. Hanya ada suara daging bertemu daging, erangan kami, dan desir daun pohon di malam yang gelap.
Caleb mencium leherku sambil terus menggenjotku tanpa henti.
Kami terus bergoyang liar di bangku taman tersembunyi itu, tubuh kami menyatu sempurna, nafsu yang tak kunjung padam.
Setiap hentakan membuat penisnya yang tebal menghantam rahimku dalam-dalam.
Aku memeluk lehernya erat, napasku tersengal-sengal.
Tiba-tiba tangannya menarik kaus cheerleaderku dan melepasnya. Bra sport putihku langsung terlihat.
Tanpa repot melepas kaitannya, Caleb menarik bra itu ke atas dengan kasar hingga kedua payudaraku menyembul keluar, bergoyang liar mengikuti gerakan tubuh kami.
Kedua tangan besarnya langsung meremas kedua gunung daging itu dengan kuat, jari-jarinya tenggelam dalam kelembutan payudaraku.
Aku mendesah panjang. Lalu mulutnya menyambar payudara kananku dengan rakus.
Dia menghisap kuat sekali, lidahnya memutar-mutar putingku yang sudah mengeras.
“Ahh… abang… pelan…” erangku, tapi suaraku justru membuatnya semakin bernafsu.
Tangannya memainkan payudara kiriku sambil mulutnya sibuk memuaskan payudara kananku, lalu ibu jarinya memutar putingku.
Sensasi panas dan basah di payudara kanan bercampur dengan cubitan di kiri membuat kepalaku pusing.
Kemudian Caleb beralih, mulutnya menyambar payudara kiriku. Dia menghisap kuat sambil menggigit putingku pelan.
“Nngghhh!!” aku menjerit tertahan, tanganku mencengkeram rambutnya. Rasa nyeri nikmat itu membuat air mataku hampir jatuh.
Sementara itu, tangannya meremas payudara kananku dengan kasar, mencubit putingnya berulang kali karena gemas.
Caleb melepaskan putingku dengan bunyi “pop” basah. Dia meraih botol lemonade lagi, meneguk banyak-banyak, lalu menarik wajahku ke depan.
Kami berciuman dengan panas dan liar. Cairan asam-manis lemonade mengalir dari mulut ke mulut.
Banyak yang tumpah, menetes ke daguku, leher, dan payudaraku yang sudah basah keringat.
Dia memutus ciuman, lalu dengan lidahnya yang panas menjilat semua tetesan lemonade yang mengalir di daguku, turun ke leher, dan ke belahan payudaraku.
Bibirnya kemudian mencupang leherku kuat-kuat, meninggalkan tanda merah yang pasti sulit disembunyikan besok.
“Adek mau keluar lagi…” erangku gemetar.
“Keluar bareng abang,” balasnya sambil mempercepat ayunan pinggulnya.
Kami orgasme bersamaan. Vaginaku mengejang hebat menggigit penisnya, sementara Caleb mengerang panjang dan memuntahkan lahar panasnya langsung ke dalam rahimku.
Semprotan demi semprotan sperma kental menyembur deras, memenuhi aku hingga penuh.
Sebagian cairan campuran kami menetes keluar dari pertemuan tubuh kami, mengalir hangat di selangkangan.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Ternyata Caleb belum puas. Batangnya masih keras dan berdenyut di dalamku. Dia mencabut penisnya perlahan, membuatku mendesah kehilangan.
Lalu dengan kuat dia memutar tubuhku hingga membelakanginya. Sekarang aku duduk di pangkuannya dengan posisi membelakangi.
Caleb mengangkat pinggulku sedikit, lalu memasukkan kembali batangnya yang licin oleh campuran cairan kami dalam satu hentakan kuat.
“Ahhh!!” aku menjerit pelan. Posisi ini membuatnya terasa lebih dalam. Dia mulai menggenjotku dengan kasar.
Kedua tangannya meremas payudaraku tiada henti dari belakang, mencubit putingku sambil pinggulnya naik turun dengan cepat.
Aku sudah lemas total, tubuhku seperti boneka kain yang hanya digerakkan oleh kekuatan Caleb. Kepalaku terkulai ke belakang, bersandar di bahunya.
Caleb mencium punggungku dengan penuh cinta di tengah genjotan kasarnya. Bibirnya mengecup tulang belikatku, leherku, dan bahuku sambil terus mendesak rahimku tanpa ampun.
“Adek cuma punya abang… sepenuhnya milikku,” bisiknya di telingaku.
Aku hanya bisa mendesah lemah, orgasme kecil terus datang bertubi-tubi hingga tubuhku kejang-kejang. Akhirnya Caleb menggeram dalam dan panjang. Tubuhnya menegang.
Dia memeluk pinggangku erat sambil menyemprotkan sperma lagi untuk kedua kalinya, kali ini lebih lama dan banyak.
Lahar hangatnya memenuhi rahimku hingga meluap, mengalir deras keluar dari vaginaku yang sudah penuh.
Kami berdua terduduk lemas di bangku taman, napas kami memburu. Tubuhku bersandar lemah di dada bidangnya, sperma masih menetes pelan dari antara kakiku.
Caleb mencium rambutku lembut dan mengajak pulang. Kakiku gemetar saat berdiri. Akhirnya Caleb membantuku merapikan pakaian, lalu menggendongku ke mobil.
Matahari sudah hilang setelah kamu selesai bersenggama di luar ruangan. Malam yang panas ini akhirnya kami tutup dengan perjalanan pulang yang penuh pelukan.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•

Comments
Post a Comment