Mimpi Manis ~ LOVE UNCUT

Malam itu aku tertidur dengan mimpi yang cukup intens dan aneh. Tubuhku terasa panas, gelisah, dan penuh desir yang tak bisa kujelaskan.

Mungkin ini ledakan perasaan yang selama ini kutimbun dalam-dalam. 




Bagaikan bom hormon anak muda yang akhirnya meledak setelah bertahun-tahun saling pandang diam-diam dengan Zayne.

Dalam mimpi itu, aku melihat wajahnya yang tetap tampan meski selalu tersembunyi di balik kacamata tipis.


Lalu tubuhnya yang tegap saat ia melepas jaket dan suaranya yang lembut berbisik di telingaku. Aku terbangun dengan napas tersengal dan pipi yang panas.


Sulit mengendalikan diri ketika orang yang disukai adalah tetangga dari masa kecil. Apalagi jika dia orangnya sangat dingin, sementara di sini hatiku mau meledak.


Ini semua dimulai karena kejadian kemarin. Kami berjalan menyeberangi jalan dalam keadaan hujan saat perjalanan pulang ke rumah.


Aku hampir terpeleset dan Zayne langsung menangkap tanganku. Kali ini dia tidak langsung melepaskan.


Aku menoleh., tetapi dia sedang melihat jalan.


"Kamu baik-baik saja?"


"Baik," ujarku dengan pipi merah.


"Kalau begitu jangan berjalan sambil melamun."


Aku ingin menarik tanganku. Tapi Zayne sudah lebih dulu berjalan. Jadi aku hanya mengikutinya.


Tanganku masih berada dalam genggamannya. Tentu saja aku tidak akan melepasnya duluan karena ini kesempatan langka.


Entah kenapa, dia baru melepaskannya setelah kami sampai di depan rumah. Dan tentu saja, dia tidak mengatakan apa pun. 


Kami hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang aneh. Hanya saja debaran jantungku tidak bisa berbohong.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Keesokan harinya, kami berdua berada di perpustakaan sekolah. Sebentar lagi kelulusan, suasana sudah sangat santai. 


Tidak ada ujian dan kegiatan belajar. Hanya ada beberapa siswa yang datang sekadar membaca atau tidur di meja pojok.


Aku duduk di seberang Zayne di meja panjang dekat jendela. Cahaya matahari sore menyusup lembut melalui kaca, menerangi ruangan yang sepi dan berbau buku lama. 


Zayne sedang asyik membaca novel tebal bersampul hitam, kacamatanya meluncur sedikit ke ujung hidungnya.


Rambutnya agak berantakan karena ia sering menyisirnya dengan jari saat konsentrasi. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya saat baca bagian yang menarik.


Sementara aku membuka majalah hiburan yang kupinjam dari rak depan. Awalnya biasa saja, seperti artikel tentang skincare, horoskop, dan tips fashion. 


Tapi tiba-tiba, di halaman tengah, muncul artikel berjudul “Tips Tali Temali untuk Pasangan yang Ingin Lebih Intim”.


Ada beberapa foto simpul tali yang cukup eksplisit, lengkap dengan penjelasan cara mengikat tangan, kaki, bahkan posisi tubuh.


Majalah ini, apakah ini benar-benar majalah dewasa yang diselundupkan ke rak umum? Atau punya guru yang lupa membawa pulang?


Pipiku langsung terasa panas. Aku buru-buru menutup majalah itu dengan keras, tapi sudah terlambat.


Zayne menurunkan novelnya dan menatapku dengan alis terangkat.


“Kenapa? Wajahmu kok merah sekali.”


“Tidak ada apa-apa,” jawabku cepat, terlalu cepat.

Ia tersenyum kecil, seperti sudah curiga.


Tanpa bicara banyak, Zayne melepas dasi merah gelapnya dengan satu tarikan santai.


“Aku bisa kasih contoh ke kamu salah satu simpul yang ada di majalah itu.”


Gerakannya lambat dan disengaja. Ia meraih tangan kiriku di atas meja, lalu dengan lincah mempraktikkan salah satu simpul yang sempat kulihat sekilas di majalah tadi.


Dalam hitungan detik, pergelangan tanganku sudah terikat rapi dengan dasinya sendiri.

 

Simpulnya tidak terlalu erat, tapi cukup membuatku tak bisa melepaskan diri dengan mudah. 


Aku menatap tanganku yang terikat dengan bingung, jantungku berdegup kencang.


“Zayne… apa-apaan ini?” bisikku pelan, takut ada yang mendengar.


Ia tidak menjawab. Matanya menatapku dalam dari balik kacamata. Tanpa aba-aba, ia menarik tanganku yang terikat itu, membuat tubuhku condong ke depan meja. 


Wajah kami langsung berdekatan. Aroma sabun mandi dan buku lama bercampur di hidungku.


Lalu ia menciumku. Bukan ciuman ringan seperti biasa. Ini ciuman mesra yang langsung dalam.

 

Bibirnya memagut bibirku dengan lembut tapi penuh tekad, lalu lidahnya menyusup masuk, menemukan lidahku dan menari bersamanya. 


Aku mendesah pelan di dalam mulutnya. Ciuman itu basah, hangat, dan semakin panas. 


Tangan kanannya memegang tengkukku, menarikku lebih dekat, sementara tangan kiriku yang terikat masih berada dalam genggamannya.


Kami berciuman cukup lama di sudut perpustakaan yang sepi itu. Suara halaman buku yang dibalik dan detak jam dinding seolah menghilang.


Hanya ada deru napas kami dan bunyi kecil kecupan lidah yang saling bertautan. Pipiku terasa panas sekali, lututku lemas di bawah meja.


Zayne melepaskan ciuman itu perlahan, bibir kami masih bersentuhan. Napasnya hangat menyapu bibirku yang sudah bengkak.


Tiba-tiba suasana berubah drastis. Kabut asap putih tebal mengambang di udara, mengaburkan seluruh pandangan.


Perpustakaan yang tadinya terang oleh cahaya sore sekarang menjadi gelap dan temaram.


Hanya ada satu lentera tua di sudut ruangan yang menyala redup, cahayanya kuning keemasan dan berkelap-kelip seperti nyala lilin. 


Bau buku lama bercampur aroma asap kayu yang aneh. Aku menunduk dan terkejut melihat diriku sendiri. Tanganku sudah tidak lagi terikat. 


Di tangan kananku tergenggam sebuah bulu merak yang indah, bentuknya panjang, berkilau warna-warni, dengan ujung yang lembut. 


Di depanku, Zayne duduk di kursi kayu dengan kedua tangannya terikat.


Zayne memandangku dengan mata melebar, campuran kaget dan panik. “Apa yang kamu lakukan?”


Aku sendiri lebih kaget lagi. Tapi ada dorongan aneh dalam diriku yang tak bisa kutahan. 


Aku melangkah mendekat, bulu merak di tanganku bergetar pelan.


Aku mulai menggelitik telinganya dengan ujung bulu yang lembut. Zayne langsung menggeliat, bahunya naik-turun, berusaha menghindar sambil tertawa kecil yang tertahan.


“Heeyy, berhenti, ahaha…”


Aku tidak berhenti. Bulu merak itu turun ke pipinya yang mulai memerah, lalu ke lehernya yang jenjang. 


Setiap sapuan membuat tubuhnya menggelinjang hebat. Otot lengannya menegang menarik ikatan, napasnya mulai memburu. 


Wajahnya yang biasanya tenang kini penuh ekspresi gelisah dan menggoda.


Belum puas, aku meletakkan bulu merak sebentar dan membuka kemeja Zayne perlahan, satu kancing demi satu kancing. 


Dada bidangnya yang polos kini terpapar di depanku, kulitnya terkena cahaya lentera yang redup.


Aku mengambil bulu merak lagi dan mengusapkannya ke dada Zayne. Melewati tulang selangkanya, lalu ke kedua putingnya yang langsung mengeras karena gelitik. 


Zayne menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tubuhnya menggeliat hebat di kursi. Napasnya kini pendek-pendek.


“Udah cukup, geli banget” suaranya parau.

Mataku turun lebih rendah. Tonjolan besar dan jelas terlihat di balik celananya. 


Kejantanan Zayne sudah sangat tegang, hampir menekan kain celana hingga membentuk kontur yang jelas.


Aku melempar bulu merak itu ke sembarang arah. Tanpa kata, aku berjongkok di depannya. 


Jari-jariku menyentuh resleting celananya, perlahan menariknya ke bawah. Bunyi gesekan resleting terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.


Tepat saat jari-jariku hendak menyentuh pinggang celananya untuk menariknya turun, semuanya tiba-tiba kabur.


Kabut asap semakin tebal, cahaya lentera berkedip-kedip, lalu seluruh pemandangan menjadi buram seperti televisi rusak. 


Suara Zayne yang mendesah memanggil namaku terdengar semakin jauh.


Aku tersentak bangun. Napasku tersengal-sengal. Tubuhku panas, khususnya di antara selangkanganku yang sudah basah. 


Aku masih berbaring di kasur kamarku, daster tidur yang kukenakan sedikit naik hingga pinggang.


Cahaya pagi menyusup lewat gorden. Ternyata mimpi panjang ini cuma karena aku digandeng pulang ke rumah sama Zayne kemarin sore.


Aku menutup wajah dengan kedua tangan, malu sekaligus bergairah. Jantungku masih berdegup kencang. 


Bayangan Zayne yang terikat, dada telanjangnya, dan tonjolan besar di celananya masih begitu jelas di kepalaku.


Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hubunganku dengan Zayne sebenarnya sederhana. Kami tumbuh sebagai tetangga dan bersekolah di SD, SMP, dan SMA yang sama.


Aku bersahabat dengannya sejak kecil. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin hubungan kami memang sudah terlalu nyaman sejak awal.


Saking nyamannya, kami bahkan tidak pernah merasa perlu mempertanyakan apa sebenarnya hubungan kami.


Zayne lebih sering datang ke rumahku sejak kami masih SMA karena orang tua Zayne pindah bekerja di luar negeri.


Sementara aku tinggal bersama nenekku, yang sejak awal sudah mengenal keluarga Zayne dengan baik.


Bukan sekadar kenal sebagai tetangga. Orang tua Zayne dulu pernah bekerja bersama nenekku.


Nenek adalah senior mereka ketika masih aktif bekerja, jauh sebelum akhirnya pensiun.


Mungkin karena itulah Zayne tidak pernah merasa seperti tamu ketika datang ke rumahku.


Dia bisa membuka pintu pagar tanpa mengetuk terlalu keras, masuk ke rumah sambil membawa tas sekolah, lalu meletakkan sepatunya dengan rapi di tempat yang sama setiap hari.


Kadang-kadang, kalau aku sedang mengerjakan tugas dan tidak sempat menyambutnya, dia akan langsung menuju ruang makan karena nenek sudah memanggilnya lebih dulu.


"Zayne, makan dulu."


Kalimat itu sudah seperti bagian dari rutinitas rumah kami. Aku tidak pernah melihat Zayne menolak.


Aku sering duduk di seberangnya sambil mengerjakan tugas, sementara Zayne membaca buku atau menyelesaikan soal. 



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Kelulusan sekolah akhirnya tiba. Kami berdua diterima di universitas yang sama. 


Zayne masuk ke fakultas kedokteran, sementara aku diterima di fakultas ekonomi.


Sebenarnya nenek khawatir karena akan tinggal terpisah dariku karena universitas itu di luar kota. Tapi akhirnya nenek tenang karena aku satu kampus dengan Zayne.


Hari keberangkatan kami terasa seperti perpisahan besar walaupun kami hanya pindah kota.


"Kamu harus menjaga dirimu."


Nenek mengatakan itu kepadaku. Aku mengangguk. Lalu beliau menoleh kepada Zayne.


"Dan kamu, tolong jaga cucu nenek."


Zayne yang sedang berdiri di dekat pintu langsung menatap nenek. "Baik nek!"


Aku langsung menoleh dan merajuk.

"Nenek, aku bisa menjaga diri sendiri."


Nenek hanya tertawa. Aku memandang Zayne tidak percaya.


"Jangan asal setuju, aku bukan anak kecil. Kenapa harus dijaga sama kamu?”


Zayne menatapku beberapa detik. "Lupa siapa yang sering lupa membawa payung?"


Aku terdiam dan nenek tertawa geli. Nenek ternyata yakin kalau Zayne adalah orang yang paling bisa dipercaya untuk menjagaku.


Berlaku juga sebaliknya, orang tua Zayne menitipkan anaknya kepadaku. Sebelum kami berangkat, Mama Zayne bahkan sempat meneleponku.


"Kalau Zayne terlalu sibuk belajar, tolong ingatkan dia makan."


"Baik tante, nanti aku ingatkan Zayne."


Begitulah awal kehidupan kami sebagai mahasiswa, kami tetap menjadi tetangga.


Apartemen kami berada di lantai yang sama. Pintu kamarku hanya beberapa langkah dari pintu kamar Zayne.


Sama seperti dulu, hanya saja sekarang tidak ada nenek yang akan memanggil kami untuk makan malam.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Aku menjalani kehidupan kuliah dengan lancar. Hanya saja aku semakin jarang bertemu Zayne karena dia semakin sibuk.


Hubungan kami tetap sama, hanya aku sendiri di sini menyimpan perasaan cinta bertepuk sebelah tangan.


Tapi beberapa minggu terakhir sepertinya muncul pertanda baik mengenai arah hubungan kami.


Hari itu aku berhasil melewati presentasi besar yang membuatku hampir tidak tidur semalaman.


Aku sedang terlalu senang untuk mengingat batasan pribadi. Begitu melihat Zayne di depan gedung apartemen, aku langsung berlari menghampirinya.


"Zayne!"


Dia baru sempat menoleh ketika aku sudah memeluknya. Tubuhnya sempat menegang hanya sesaat.


Aku hampir langsung mundur karena baru menyadari apa yang kulakukan.


Tapi tangan Zayne sudah lebih dulu berada di punggungku. Tidak terlalu erat tapi cukup untuk membuatku berhenti.


"Selamat," katanya.


Aku langsung memeluknya lebih erat. Zayne menghela napas. Namun tangannya tetap berada di punggungku. Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri seperti itu.


Mungkin hanya beberapa detik. Tapi ketika aku akhirnya mundur, Zayne menatapku sedikit lebih lama daripada biasanya.


Kemudian ada kejadian lain yang hampir membuatku benar-benar kehilangan akal.


Kami sedang menonton film di apartemenku. Aku duduk di sofa. Zayne di sebelahku.


Tidak ada yang aneh. Sampai aku tertidur. Ketika terbangun, kepalaku sudah bersandar di bahunya.

Zayne masih menonton film. Aku langsung duduk tegak.


"Maaf aku ku ketiduran."


"Memangnya aku keberatan?"


Aku menatapnya. Dia tidak melihatku. Aku mulai curiga.


"Zayne, kamu sengaja membiarkanku tidur di bahumu?"


"Kalau aku memindahkanmu, kamu akan bangun."


Aku tidak punya jawaban untuk itu. Jadi aku kembali menatap layar.


Beberapa menit kemudian, bahu kami kembali bersentuhan. Kali ini tidak ada yang bergerak.


Dan tentu saja, ada satu kejadian yang hampir membuat kami berciuman.


Kami sedang berdiri terlalu dekat di dapur. Aku sedang mengambil gelas dari rak atas. Zayne berdiri di belakangku.


Aku mundur tanpa melihat dan langsung menabraknya. Tangannya refleks menangkap pinggangku.


Jarak kami terlalu dekat. Aku bisa melihat matanya dari jarak yang tidak seharusnya. Kami saling bertatapan dan tidak ada yang mengatakan apa-apa.


Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Yang jelas, wajah kami semakin dekat. Sampai suara panci yang jatuh dari rak membuat kami berdua tersentak.


Aku langsung mundur dan Zayne melepaskan tangannya.


Kami hampir berciuman.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Pagi hari aku merasa kepalaku seperti dihantam palu, badan panas dingin, tenggorokan sakit. 



Aku bahkan tak sempat ke kampus karena sakit parah, apalagi memasak atau beli makan. 



Chat dari Zayne sejak pagi aku abaikan, hanya melihat notifikasi sekilas lalu kembali tertidur karena obat flu yang membuatku ngantuk berat.


Senja menuju malam, pintu kamarku diketuk pelan. Ternyata Zayne berdiri di depan pintu dengan tas plastik besar di tangan. Wajahnya tampak khawatir, alisnya bertaut.


“Kamu nggak bales chat aku dari pagi, ternyata sesuai dugaanku kamu sakit setelah kemarin kehujanan,” suaranya tegas tapi lembut. 


“Aku beli bubur ayam sama teh jahe hangat. Masuk ya?”


Aku terlalu lemas untuk protes. Ia masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu duduk di pinggir kasurku. 


Aroma bubur ayam langsung menggoda hidungku yang mampet. Zayne membuka wadahnya, mengaduk perlahan, lalu menyuapkan sesendok ke mulutku.


“Aku bisa sendiri,” protesku pelan, suaraku serak.


“Enggak bisa. Kamu kelihatan kayak mau pingsan. Ayo, buka mulut,” balasnya tegas, tapi matanya penuh perhatian. 


Ia meniup bubur itu dulu agar tidak terlalu panas sebelum menyuapkannya kepadaku. 


Setiap suapan ia tunggu aku menelan, lalu menyeka sudut bibirku dengan tisu. Tak ada yang bicara banyak. 


Hanya suara sendok beradu dengan mangkuk dan detak jantungku yang entah kenapa lebih cepat.


Setelah makan, ia memaksaku minum obat lagi dan berbaring.


“Tidur. Aku di sini jagain sebentar.”


“Aku sudah seharian tidur, Zayne. Bosan,” gumamku sambil mencoba duduk.


Ia mendorong bahuku pelan agar kembali berbaring.


“Kalau nggak tidur, aku nggak akan pergi. Mau aku ceritain apa? Atau kamu yang cerita?”


Akhirnya kami mengobrol pelan di kamar yang hanya diterangi lampu meja kecil. 


Ia bercerita tentang hariannya di kampus, tentang dosen yang galak, tentang lagu baru yang ia buat. Suaranya tenang, seperti nina bobo. 


Entah kapan, obat mulai bekerja. Mataku terpejam tanpa sadar.


Tengah malam aku terbangun. Ruangan gelap, hanya cahaya lampu tidur kecil menyala. 


Kepalaku masih pusing, tapi lebih ringan. Lalu aku merasakan sesuatu yang hangat di tangan kiriku.

Zayne.


Ia tertidur di lantai, kepalanya bersandar ke kasur, tubuhnya meringkuk dengan selimut tipis yang biasa aku pakai cadangan. 


Tangan kanannya menggenggam tanganku erat, seolah takut aku menghilang. 


Wajahnya damai saat tidur, bulu matanya yang panjang, bibirnya yang sedikit terbuka, rambutnya acak-acakan. Napasnya pelan dan teratur.


Aku terpaku lama karena terharu. Zayne rela tidur di lantai dingin hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.


Dengan lembut aku menggoyang tangannya. “Zayne… bangun.”


Ia mengerjap, langsung siaga. “Kamu kenapa? Sakit lagi? Mau minum?”


“Aku baik-baik saja,” bisikku. “Kamu tidur di lantai… kenapa nggak di kasur aja? Atau balik ke kamar kamu.”


Ia tersenyum tipis, masih setengah sadar. 


“Takut ganggu kamu. Lagian… tanganmu dingin tadi. Aku cuma pegang biar hangat.”


Aku menarik tangannya pelan. “Kamu pulang ke kamar sekarang. Besok aku nggak mau kamu sakit juga gara-gara aku.”


Zayne bangkit perlahan, tapi tak langsung pergi. Ia duduk di pinggir kasur, menatapku dalam. Cahaya lampu tidur membuat bayangannya lembut. 


“Aku khawatir banget tadi. Chat nggak dibalas, kamu nggak ke kampus. Aku nggak bisa diem aja.”


Kami saling pandang dalam diam yang panjang. Tangan kami masih saling genggam.


Zayne lalu pamit dan menutup pintu pelan. Aku kembali berbaring, tanganku masih merasakan kehangatan genggamannya. 



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Keesokan paginya, sinar matahari menyusup lewat celah gorden kamarku yang tipis.


Kepalaku masih terasa berat dan pusing, tapi aku memaksakan diri bangun. Ada buku perpustakaan yang harus dikembalikan hari ini, dan jadwal kuliah cuma dua jam. 


Aku mandi air hangat sebentar, memakai hoodie longgar kesayangan dan celana jeans, lalu berangkat ke kampus dengan langkah pelan.


Sampai di kampus, aku langsung ke perpustakaan, mengembalikan buku, lalu masuk kelas.


Aku langsung pulang setelah kelas selesai. Badanku masih lemas. Dalam sekejap, aku sudah tertidur pulas.


Malam harinya, aku merasakan tangan hangat menggoyang bahuku pelan.


“Ayo bangun dulu. Makan malam ya,” suara Zayne lembut, hampir seperti bisikan.


Aku mengerjap, masih setengah sadar. Ia sudah duduk di pinggir kasur, membawa nampan kecil berisi soto ayam. 


Ternyata Zayne langsung masuk ke kamarku setelah mengetuk lama tidak ada yang membukakan pintu.


Kami berdua memang tahu sandi kunci kamar masing-masing, tentunya untuk alasan keamanan karena kita saling menjaga satu sama lain sesuai amanat nenek dan mama Zayne.


“Kamu nggak usah repot-repot terus,” gumamku sambil mencoba duduk, suaraku masih serak.


Zayne tersenyum, matanya lembut di balik kacamata.


“Repot apanya? Lagian besok libur, kamu istirahat yang bener.”


Kami makan malam bersama di kasur. Ia sesekali menyuapiku lagi, meski aku sudah bisa sendiri.

 

Karena besok libur, kami memutuskan nonton film bareng di kamarku karena aku tidak bisa tidur.


Zayne memilih film romantis ringan. Lampu kamar kami redup, hanya diterangi layar dan lampu tidur kecil.


Aku duduk bersandar di kepala kasur, Zayne di sampingku. Awalnya aku berusaha fokus, tapi tubuhku masih lemah. Tak sampai setengah film, mataku sudah terpejam lagi.


Entah berapa lama kemudian, aku terbangun sedikit karena suara gelas yang diaduk pelan. Mataku masih terkatup, tapi indraku sudah mulai sadar. 


Zayne ternyata membuat kopi hitam untuk dirinya sendiri. Aroma kopinya yang kuat menyebar di kamar. 


Ia duduk kembali di sampingku, kasur agak melesak karena bobot tubuhnya. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang dekat.


Film masih berjalan pelan. Suara aktor samar-samar terdengar. Lalu aku mendengar suaranya pelan, hampir seperti bicara sendiri, tapi jelas untukku.


“Aku cinta kamu,” bisiknya. Jari-jarinya menyentuh rambutku, mengusap kepalaku dengan lembut, penuh kasih sayang. 


“Cepatlah sembuh ya, sayang. Aku nggak suka lihat kamu sakit begini.”


Jantungku berdegup kencang. Aku kaget, tapi pura-pura tetap tidur. Napasku sengaja kujaga tetap pelan dan teratur.


Zayne diam sejenak. Aku mendengar ia melepas kacamatanya, meletakkannya di meja samping. 


Lalu kehangatan menyentuh pipiku. Bibirnya mendarat lembut di pipiku, lama, penuh perasaan. 


Napasnya hangat. Detik berikutnya, ia mengecup bibirku, ringan sekali, hampir seperti hembusan angin, tapi cukup membuat seluruh tubuhku merinding.


Aku masih pura-pura tidur walaupun saat ini aku panik karena ini ciuman pertamaku.


Tangan Zayne bergerak pelan. Ia menyusupkan tangannya ke dalam kaos longgarku, naik ke perut, lalu lebih atas. 


Jari-jarinya menyentuh bra-ku, lalu meremas payudaraku dengan lembut, hati-hati, seolah takut membangunkanku. 


Sentuhannya hangat, agak gemetar. Napasku hampir tersengal, tapi aku menahan diri. 


Sensasi itu membuat tubuhku panas dingin, campuran antara kaget, malu, dan desir aneh yang muncul.


Tiba-tiba ia berhenti. Tubuhnya menegang.


“Shit, apa yang aku lakuin,” gumamnya pelan, suaranya penuh penyesalan dan kaget sendiri.


Ia buru-buru menarik tangannya, menyelimutiku dengan rapi hingga dada, lalu bangkit. 


Langkahnya cepat tapi pelan menuju pintu. Aku mendengar pintu kamarku terbuka dan tertutup dengan hati-hati.


Ia kembali ke kamarnya. Ruangan kembali sunyi. Aku membuka mata perlahan. Jantungku masih berdegup kencang. 


Pipiku terasa panas, bibirku masih merasakan bekas kecupannya yang ringan, dan payudaraku masih hangat oleh sentuhannya tadi.  Aku duduk pelan, menarik selimut ke dada.


“Dasar Zayne pengecut!” bisikku sendiri sambil tersenyum tipis, campur gemas dan kesal. 


Aku memeluk lutut, tertawa kecil dalam hati. Rasa kantuk sudah hilang total. 


Pikiranku berputar-putar. Besok libur dan aku sudah sehat cukup untuk membalas semua perbuatannya.


Aku tersenyum lebar di kegelapan kamar, sudah membayangkan wajahnya yang pasti akan panik saat aku balas semua sentuhan dan ciuman yang sempat ia curi malam ini.


Malam itu aku tidur dengan perasaan campur aduk. Persahabatan kami sudah di ambang batas, dan besok aku akan dorong batas itu lebih jauh.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Keesokan harinya, matahari sudah cukup tinggi saat aku bangun dengan perasaan segar. 


Syukurlah demam dan pusingku sudah hilang total. Aku mandi, memakai kaos crop top sederhana dan celana pendek santai, lalu pergi ke kedai burger.


Aku membeli dua burger spesial, kentang goreng, dan dua botol minuman dingin.


Setelah itu langsung menuju kamar Zayne. Aku memasukkan kode pintunya dengan lancar dan masuk tanpa mengetuk.


“Room service, balas budi untuk pahlawan yang merawat putri sakit,” kataku santai sambil tersenyum lebar.


Zayne yang sedang duduk di kasur sambil main ponsel langsung mendongak, terlihat wajah baru bangun tidur.


Wajahnya sedikit kaget, tapi langsung tersenyum lega melihat aku sudah sehat. 


“Kamu udah baikan? Wah, ini kejutan banget.”


Kami duduk di lantai bersila, menghadap meja rendah. Aku membuka bungkus burger dan kami makan dengan lahap sambil mengobrol ringan. 


Setelah burger habis dan kami sedang bersantai, aku membuka pembicaraan dengan nada main-main.


“Eh, Zayne katanya dasi itu bisa jadi pengganti borgol lho,” kataku sambil nyengir.


Ide gila ini muncul karena tadi malam aku ingat mimpi panasku waktu SMA. 


Kemarin aku berpikir keras balas dendam apa yang cocok untuk Zayne. Sekarang saatnya mewujudkan fantasi liar itu.


Zayne tertawa keras, alisnya naik.


“Hah? Kamu ngomong apa sih tiba-tiba? Melantur gara-gara demam kemarin?”


Aku berdiri tanpa jawaban, berjalan ke lemarinya yang pintunya sedikit terbuka, dan mengambil dasi hitam polos yang tergantung rapi. 


Zayne masih tertawa geli melihat tingkahku. Aku kembali ke depannya, lalu dengan cepat menarik kedua tangannya ke belakang punggungnya.


Aku mengikat kedua pergelangan tangannya dengan dasi itu, cukup erat tapi tidak menyakitkan. 


Sekarang kedua tangannya terikat di punggung. Zayne masih tertawa, mengira ini lelucon biasa.


“Polisi sudah menangkap penjahatnya,” kataku sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk, nada suaraku seperti petugas polisi main-main.


Zayne masih terkekeh. Senyumnya mulai pudar pelan saat aku menatapnya tajam, tidak lagi tersenyum.


“Penjahat ini ditangkap karena beberapa tuduhan berat,” lanjutku dengan suara pelan tapi tegas. 


“Pertama, mencabuli gadis yang sedang tertidur. Kedua, mencuri ciuman pertama seorang gadis. Ketiga, menyatakan cinta dengan cara pengecut, saat target tidak sadar.”


Senyum Zayne hilang total. Wajahnya memucat dalam sekejap. Bibirnya sedikit terbuka, gemetar. Matanya membesar di balik kacamata.


“Kamu dengar semuanya?” suaranya hampir hilang.


Aku mengangguk pelan. “Semuanya. Aku sebenarnya terbangun ketika kamu membuat kopi.” 


“Dari mulai ciuman di pipi, ciuman di bibir, tanganmu di dalam kaosku dan meremas payudara, semuanya!”


Zayne menunduk dalam. Bahunya turun. 


“Maaf aku benar-benar minta maaf. Aku kebablasan. Aku takut banget kalau ngomong langsung, takut kamu menjauh, takut persahabatan kita rusak.”


“Aku pengecut, aku nggak seharusnya nyentuh kamu saat kamu tidur…”


Suara Zayne mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca, air mata hampir jatuh. 


Ia berusaha menarik tangannya tapi dasi menahannya. Lalu dengan susah payah, ia berlutut di lantai di depanku, kepalanya menunduk.


“Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal. Kalau kamu mau marah, marah aja. Kalau mau pukul, pukul. Aku terima.”


Aku diam sejenak, menikmati wajahnya yang penuh penyesalan. Lalu aku berlutut di depannya, memegang kedua pipinya dengan kedua tanganku. 


Aku melepas kacamatanya pelan dan meletakkannya di meja. Matanya tampak rapuh.


“Ancaman pertama,” bisikku di depan wajahnya, “aku lapor ke orang tuamu dan nenek. Ancaman kedua, aku lapor polisi karena pelecehan.”


Air mata Zayne benar-benar mengalir sekarang tapi aku tidak memberinya kesempatan menyelesaikan kalimat. 


Aku menarik wajahnya dan langsung mencium bibirnya dengan rakus. Bukan ciuman ringan seperti yang ia curi semalam, tapi ciuman penuh hasrat yang selama ini kutahan. 


Aku memagut bibir bawahnya, lalu mendorong lidahku masuk ke dalam mulutnya.


Zayne terkejut sesaat, tapi detik berikutnya ia membalas dengan sama rakusnya. Lidah kami saling bertautan, panas dan basah.


Ciuman kami semakin dalam, hampir putus asa. Karena tangannya masih terikat di belakang, ia hanya bisa menyerahkan diri sepenuhnya padaku.


Aku menarik bibirnya pelan dengan gigiku sebelum melepaskan ciuman itu.


Napas kami berdua sama-sama memburu. Dahiku bersandar di dahinya.


“Mulai sekarang,” bisikku di depan bibirnya yang bengkak, “nggak ada lagi pengecut. Kalau suka, bilang langsung. Kalau mau cium, cium pas aku sadar. Ngerti?”


Zayne mengangguk lemah, suaranya serak. “Ngerti. Aku cinta kamu. Bukan cuma suka. Aku cinta kamu, dari lama.”


Aku tersenyum puas, jari-jariku masih memegang wajahnya.


“Bagus. Sekarang penjahat masih harus menjalani hukumannya yang sebenarnya.”


Aku menarik Zayne berdiri dan mendorongnya hingga punggungnya jatuh ke kasur. 


Tangan kirinya dan kanannya masih terikat erat di belakang punggung dengan dasi hitamnya sendiri.


Ia terbaring tak berdaya, napasnya sudah mulai memburu.


“Kamu mau apa?” tanyanya dengan suara serak, campuran gugup dan excited.


Aku naik ke atas tubuhnya. Tanpa banyak bicara, aku menarik kaosnya ke atas hingga mengumpul di dada. 


Dada Zayne yang rata tapi berotot ringan terpapar di depanku. Kulitnya putih bersih, dan dua putingnya sudah mengeras karena udara dingin kamar plus situasi ini.


“Katanya pria juga sensitif di sini,” bisikku sambil menunduk.


Aku menjulurkan lidahku dan menjilat puting kirinya pelan. Zayne langsung menggelinjang. 


“Ahh…!” rintihnya, suaranya tertahan di tenggorokan. 


Aku tersenyum dan menjilat lagi, kali ini lebih lama, melingkari, lalu mengisap pelan. 


Tubuhnya menegang di bawahku. Aku pindah ke puting kanannya, menggigit kecil, lalu menjilat lagi. 


Zayne merintih geli dan nikmat, pinggulnya sedikit terangkat meski tangannya terikat.


“Jangan ahh, sial rasanya aneh, enak,” gumamnya terputus-putus, wajahnya sudah memerah.


Aku turun lebih rendah. Tanganku menarik tali celana pendeknya, lalu menurunkannya hingga ke paha. 


Mataku melebar sedikit. Ia tidak memakai celana dalam sama sekali.


“Nakal banget,” kataku sambil tertawa kecil. “Atau memang males nambah cucian pas libur?”


Zayne memalingkan wajahnya, malu. “Biasanya aku sendirian di kamar, aku gak tau kalau kamu mau datang.”


Penisnya sudah setengah tegang, tergeletak di perut bawahnya. Warnanya agak gelap, kepalanya mulus, dan urat-uratnya mulai terlihat. 


Aku meraihnya dengan tangan kananku. Hangat. Agak berdenyut. 


Jujur, aku tidak terlalu tahu harus berbuat apa selain mengingat adegan-adegan film porno yang pernah kulihat diam-diam.


Aku mulai mengocoknya naik-turun dengan ritme cepat. Tangan kiriku menekan pahanya agar ia tidak banyak bergerak. Zayne langsung mendesah keras.


“Uhh pelan, ahh!”


Aku tidak mendengarkan dan terus mengocoknya lebih cepat, kadang memutar pergelangan tangan.


Kadang menekan ibu jariku di kepala penisnya yang sudah basah oleh precum. 


Penisnya semakin mengeras sempurna di genggamanku, panas, keras, dan berdenyut kuat. 


Zayne menggeleng-geleng kepala, napasnya memburu, keringat mulai muncul di dahinya.


“Aku aku nggak tahan…!” erangnya.


Beberapa detik kemudian, tubuhnya menegang total. 


Penisnya berdenyut hebat di tanganku, lalu muncrat cairan putih kental yang hangat membasahi perutnya, tanganku, bahkan sedikit mengenai dadanya. 


Ia orgasme cukup deras, sambil mendesah panjang dengan suara serak yang dalam.


“Fuuuhh, ahh…!”


Wajah Zayne memerah parah, keringat mengalir di pelipisnya. Matanya setengah terpejam, napasnya masih tersengal-sengal. 


Ia terlihat sangat rentan dan seksi dengan tangan terikat, kaos naik, dan celana pendek tertarik ke bawah.


Aku melepaskan peganganku pelan, melihat cairan putih yang lengket di jari-jariku. 


Tanpa kata, aku turun dari tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Aku mencuci tanganku dengan sabun di wastafel, membersihkan sisa-sisa spermanya yang masih hangat dan lengket itu sambil melihat diriku sendiri di cermin.


Wajahku juga memerah. Jantungku berdegup kencang. Aku tersenyum kecil pada bayanganku.


Entah kenapa, melihat Zayne merintih dan orgasme tadi membuat vaginaku berkedut pelan. 

Basah. Panas.


Aku menggigit bibir bawahku, merasa malu sekaligus bergairah. 


Akhirnya aku buang air kecil dulu, membersihkan diri, lalu mencuci tangan dan muka dengan air dingin agar pikiran sedikit jernih.


Saat aku membuka pintu kamar mandi, Zayne sudah berdiri tepat di depanku.


Ia sudah berhasil melepaskan ikatan dasi di tangannya sendiri. Ia menyandarkan satu tangan di kusen pintu, menghalangiku keluar, sambil nyengir menyebalkan.


Aku menyipitkan mata, tatapanku tajam. “Kamu pura-pura terikat tadi ya?”


Zayne mengangkat bahu, senyumnya semakin lebar, ada sedikit rasa bersalah tapi lebih banyak godaan. 


“Ikatannya longgar banget. Kamu terlalu asal-asalan. Aku nggak mau merusak suasana, jadi pura-pura aja.”


“Astaga, dasar penjahat!” gerutuku kesal.

Aku mendorong dadanya pelan dan berusaha melewatinya, berniat kembali ke kamarku. 


“Urusanku sudah selesai. Aku pulang dulu.”


Tapi baru beberapa langkah, Zayne menangkap pergelangan tanganku dengan cepat. Tarikannya kuat tapi tidak kasar. 


Dalam sekejap, ia menarikku ke dalam pelukannya dari belakang. Kedua lengannya memeluk pinggangku erat, dada bidangnya menempel di punggungku. 


Tubuhnya terasa hangat. Aroma tubuhnya yang bercampur keringat langsung menyelimutiku.


“Jangan pergi dulu,” bisiknya di atas rambutku, suaranya rendah dan serius. 


“Aku benar-benar minta maaf. Selama ini aku terlalu pengecut. Aku cinta kamu sudah lama, bahkan aku tidak bisa mengingatnya sejak kapan."


“Kamu cinta pertama aku, sejak kecil kamu selalu menyilaukan. Tapi aku takut mengakuinya. Takut kamu nggak balas perasaanku. Takut persahabatan kita rusak.”


Aku terdiam dalam pelukannya. Dada aku naik-turun. Kesal, lega, malu, dan bahagia bercampur jadi satu. Air mata hampir naik, tapi aku tahan.


Zayne memutar tubuhku perlahan hingga kami berhadapan. Ia menunduk, matanya hijaunya menatapku dalam.


“Maukah kamu jadi pacarku?” tanyanya lembut, suaranya sedikit bergetar.


Aku menunduk malu, tidak berani menatap matanya. Pipiku terasa panas sekali. Jari-jariku memilin ujung kaosku sendiri.


Zayne tersenyum kecil. Dengan lembut ia mengangkat daguku menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.


“Kalau diam berarti nggak nolak?”


Sebelum aku sempat menjawab, ia menunduk dan menciumku.


Bukan ciuman rakus seperti yang tadi aku berikan, tapi ciuman yang hangat, dalam, dan penuh perasaan. 


Bibirnya lembut dan hangat, bergerak pelan di atas bibirku. Aku memejamkan mata, tanganku memeluknya.


Zayne memiringkan kepalanya sedikit, memperdalam ciuman itu. Lidahnya menyentuh bibirku pelan, meminta izin, lalu masuk begitu lembut. 


Kami berciuman lama, manis, seolah menumpahkan semua perasaan yang selama setahun ini kami pendam.


Saat ciuman itu terlepas, dahi kami bersandar satu sama lain. Napas kami bercampur.


“Jadi jawabannya?” bisik Zayne sambil tersenyum, ibu jarinya mengusap pipiku lembut.


Aku mengangguk kecil, suaraku hampir tidak terdengar. “Iya, aku mau jadi pacarmu.”


Zayne tersenyum lebar, matanya berbinar. Ia langsung memelukku erat lagi sambil tertawa bahagia.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Ciuman hangat itu perlahan berubah menjadi panas. Zayne menciumku lebih dalam, tangannya memegang pinggangku erat. 


Aku merasakan kejantanan yang sudah tegang lagi menekan perutku. Napas kami sama-sama memburu.


“Kamu yakin?” bisik Zayne di sela ciuman, suaranya bergetar.


“Ini pertama buat aku juga…”


Aku mengangguk, pipiku panas. “Aku juga… tapi aku mau pertama kali ini sama kamu.”


Kami saling melepaskan baju dengan tangan gemetar. Aku menarik kaosnya ke atas, ia membantu melepasnya. 


Lalu ia membuka kaitan bra-ku dengan susah payah karena tangannya masih grogi.


Saat bra-ku jatuh, Zayne menatap dadaku dengan mata melebar, napasnya tertahan. 


Ia menunduk, mencium dan mengisap putingku dengan lembut. Aku mendesah, tanganku masuk ke rambutnya.


Kami bergerak ke kasur. Zayne menarik celana pendekku bersama celana dalamku sekaligus. Aku telanjang bulat di depannya. 


Ia juga melepas celana pendeknya. Penisnya sudah sangat tegang, ujungnya basah.


Kami berbaring saling berhadapan. Foreplay berjalan canggung tapi penuh rasa sayang. Zayne mencium seluruh wajahku, leherku, turun ke dada, lalu perut. 


Tangannya gemetar saat meraih selangkanganku. Jari tengahnya mengusap pelan bibir vaginaku yang sudah basah.


“Pelan ya” bisikku.


Ia mengangguk. Jarinya mencoba masuk perlahan. Baru satu ruas jari, aku sudah meringis kesakitan. 


Rasa perih dan penuh yang aneh membuatku mengepal seprai.


“Uh sakit, Zayne,” air mataku langsung jatuh.


“Maaf sayang,” Zayne mencium keningku berulang, suaranya ikut tegang.


“Aku pelan-pelan. Tarik napas ya.”


Ia berusaha melonggarkan dengan jari yang bergerak sangat pelan, keluar-masuk perlahan sambil mengusap klitorisku dengan ibu jari. 


Rasa sakit bercampur geli. Aku menangis pelan, tapi tubuhku mulai basah lebih banyak. 


Setelah beberapa menit, Zayne menambahkan jari kedua. Aku menggigit bahunya karena perih.


“Aku takut,” bisikku sambil menangis.


Zayne memelukku erat. “Kita bisa berhenti kalau kamu mau. Aku nggak akan maksa.”


Aku menggeleng. “Lanjut aja sayang.”


Zayne mengatur posisi. Ia berada di atasku, lututnya menekuk. Penisnya yang sudah sangat keras menyentuh pintu masuk vaginaku.


Ia mengusap kepala penisnya di sana beberapa kali, membasahinya dengan cairanku.


“Tarik napas dalam-dalam ya, sayang,” katanya lembut sambil mencium bibirku.


Saat ia mendorong masuk perlahan, rasa sakit yang luar biasa langsung menyengat. Aku menjerit kecil dan menangis keras. 


Selaput daraku robek. Rasanya seperti ada yang menyobek bagian dalamku.


“Uuugghh sakit!! Zayne, sakit banget!!” air mataku mengalir deras. 


Tubuhku menegang hebat, kuku-jariku mencakar punggungnya. Zayne juga meringis. Wajahnya memerah, keringat bercucuran. 


Ia berhenti di tengah jalan, memberiku waktu menyesuaikan. Kami berdua bernapas kasar.


Zayne mencium air mataku, mengusap rambutku, berbisik kata-kata menenangkan.


“Pelan-pelan ya soalnya kamu sempit banget sayang.”


Setelah beberapa menit, rasa sakit mulai agak mereda. Aku mengangguk kecil. Zayne mulai bergerak pelan, keluar-masuk dengan gerakan sangat hati-hati.


Lama-kelamaan, rasa sakit bercampur dengan kenikmatan aneh. Aku mulai mendesah di sela tangis.


Gerakan Zayne semakin cepat seiring nafsu yang tak tertahankan. Ia mendorong lebih dalam. 


Aku merintih kesakitan sekaligus nikmat. Akhirnya, dengan erangan panjang, Zayne mencapai klimaks. 


Penisnya berdenyut hebat di dalamku. Sperma hangatnya muncrat kuat-kuat, memenuhi vaginaku.


“Aaahh…!” erangnya serak.


Saat ia mencabut penisnya perlahan, campuran sperma putih, cairan vaginaku, dan darah segar mengalir keluar. 


Ada noda darah cukup jelas di seprai kasur Zayne. Aku melihatnya dengan pipi memerah.


Kami berdua terbaring lemas. Zayne langsung memelukku erat dari samping, menarik selimut menutupi tubuh telanjang kami. Ia mencium keningku berulang.


“Maaf ya, pasti sakit banget tadi. Kamu hebat. Aku sayang kamu,” bisiknya lembut sambil mengusap punggungku.


Aku meringkuk di pelukannya, tubuhku masih berdenyut sakit, tapi hati terasa penuh. 


“Aku juga sayang kamu, dari dulu.”


Kami tertidur pulas dalam pelukan, tubuh saling menempel, lelah tapi bahagia.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Beberapa jam kemudian, tengah malam, perutku keroncongan. Zayne juga terbangun karena lapar.


Kami belum makan malam sama sekali karena langsung tertidur dalam keadaan telanjang. Aku terbangun dengan tubuh yang terasa remuk.


Khususnya di antara selangkanganku, terasa perih, panas, dan berdenyut nyeri setiap kali aku mencoba bergerak. 


Aku menggeliat pelan di pelukannya. “Aku lapar Zayne.”


Dia tertawa kecil, suaranya serak karena baru bangun. Ia mencium bahuku. “Aku juga. Mau pesen makanan atau aku masak mie instan?”


Aku menatap noda darah di kasur, lalu tersenyum malu. “Mie aja. Ayo kita bikin bareng. Zayne maaf ya kasur kamu jadi kotor.”


Aku meringis saat mencoba bangkit dari kasur. Penis Zayne memang cukup besar, dan tadi ia memasukinya cukup dalam. 


Berjalan saja terasa sulit, setiap langkah membuat vaginaku terasa seperti tertusuk dan diregang paksa.


Zayne nyengir, mencium bibirku sekilas. “Gak apa-apa sayangku, kekasihku, my jasmine.”


Aku memukul dadanya pelan sambil tertawa malu dan menahan nyeri. 


Melihatku kesakitan, Zayne lalu menggendongku kembali ke kasur dan mengatakan bahwa aku istirahat dulu, biar dia saja yang memasak.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Tadi malam kami langsung tertidur setelah makan mie. Aku tahu Zayne masih ingin melakukannya, tapi dia menahan diri melihat kondisiku yang masih perih di kemaluanku.


Pagi ini aku hanya memakai kaos longgar milik Zayne yang kebesaran, panjangnya hampir menutupi setengah paha. 


Tanpa bra, tanpa celana dalam. Payudaraku bebas bergoyang ringan di balik kain tipis itu. 


Sementara Zayne tidur bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer, pastinya tidak bisa menutupi penisnya yang sudah ereksi lagi.


Setelah cuci muka dan gosok gigi di kamar mandi, aku kembali ke kamar Zayne dengan langkah pelan dan hati-hati. 


Ternyata Zayne sudah terbangun. Ia bersandar di kepala kasur dengan rambut acak-acakan.


Matanya langsung gelap melihat penampilanku yang hanya memakai kaosnya, tercetak payudaraku menggantung bebas.


Tanpa kata, ia bangkit dari kasur. Tubuhnya yang tinggi dan telanjang dada menyusulku dalam dua langkah lebar. 


Ia menangkup wajahku dengan kedua tangan dan langsung menciumku mesra. Ciuman pagi yang dalam, basah, dan penuh nafsu. 


Lidahnya menyusup masuk, bermain dengan lidahku sambil ia berbisik di sela ciuman.


“Mau lagi sayang,” suaranya serak, berat, dan penuh hasrat.


Aku mendorong dada bidangnya pelan, napasku tersengal.


“Jangan, masih terasa sakit banget nih. Aku hampir nggak bisa jalan.”


Tapi tangannya jauh lebih cepat daripada protesku. Satu tangan menyusup ke bawah kaosku, langsung meremas payudaraku yang telanjang.


Sementara tangan satunya merayap ke belakang, menggenggam bokongku dan menarik pinggulku untuk merapat ke tubuhnya. 


Aku bisa merasakan kejantanannya yang sudah setengah tegang menekan perutku. Nafsu yang sempat kuhalau tiba-tiba bangkit lagi dengan cepat.


Zayne mengangkat tubuhku dengan mudah. Kedua tangannya menyangga bokongku, kakiku otomatis melingkar di pinggangnya. 


Ia menggendongku kembali ke kasur dan membaringkanku dengan lembut. Kaos longgarku langsung ditarik ke atas hingga terkumpul di atas dada. 


Payudaraku terpapar sempurna di depan matanya.

Ia menunduk rakus. Bibirnya mengecup bibirku, pipiku, leherku, lalu turun ke dada.


Lidahnya menjilat putingku yang sudah mengeras sebelum mengisapnya kuat-kuat. Aku melenguh nikmat, punggungku melengkung.


Ia berganti ke payudara satunya, menghisap, menjilat, bahkan menggigit pelan hingga aku menggigit bibir menahan desahan.


“Zayne aaahh…”


Tangan kanannya menyusuri paha dalamku yang masih agak lengket. Jari-jarinya yang panjang dan ramping membelai bibir vaginaku yang bengkak dan sensitif. 


Aku menggelinjang. Ia memainkan klitorisku dengan gerakan melingkar pelan tapi terarah, membuat cairanku keluar lagi meski vaginaku masih perih.


Perlahan ia memasukkan satu jari ke dalam liangku. Masih terasa nyeri, tapi tidak sesakit semalam. 


Aku mendesah panjang. Zayne menambah satu jari lagi, mengocokku dengan ritme yang lambat tapi dalam. 


Jari-jarinya melengkung mencari titik sensitif di dalam, sementara ibu jarinya terus memutar di klitorisku. 


Pinggulku tanpa sadar bergerak mengikuti gerakan tangannya.


Ia menatap wajahku dengan mata hijau yang menggelap penuh nafsu sambil terus memompa jarinya. 


Gerakannya semakin cepat dan basah. Suara kecipak cairan terdengar jelas di kamar yang sepi. Aku merasakan gelombang orgasme mendekat dengan cepat.


Tubuhku menegang hebat. Kakiku gemetar. Dengan erangan panjang yang tertahan, aku mencapai klimaks di jari-jarinya. 


Vaginaku berdenyut kuat menggenggam jarinya, cairan hangat keluar membasahi telapak tangannya.


Aku terengah-engah, dada naik-turun cepat, sementara Zayne masih menatapku dengan tatapan lapar yang belum terpuaskan.


Zayne tidak membuang waktu lama. Ia bangkit sedikit, tangannya cepat menurunkan boxer yang masih melekat di pinggulnya. 


Begitu boxer jatuh, penisnya yang sudah sangat tegang langsung melompat keluar. Besar, berurat, dan kepalanya mengkilap basah oleh precum.

 

Aku melirik ke bawah dan hampir tak percaya. Bagaimana benda sebesar dan sekeras itu bisa masuk ke tubuhku semalam?


Ia kembali menindihku dalam posisi misionaris. Kedua tangannya bertumpu di sisi kepalaku, otot lengannya menegang. 


Ujung penisnya menggesek-gesek bibir vaginaku yang masih sensitif dan basah. 


Ia menggoda sebentar, hanya memainkan kepalanya di mulut liangku, memutar-mutar pelan hingga aku mendesah gelisah.


Perlahan ia mendorong. Hanya kepalanya yang masuk dulu, meregang dindingku yang masih perih. 


Lalu setengah batangnya keluar-masuk dengan gerakan pelan. Aku menggigit bibir, merasakan campuran nyeri dan kenikmatan. 


Tiba-tiba, dengan satu hentakan kuat, Zayne menghujamkan seluruh panjangnya hingga mentok ke rahimku.


“Aaahhh!!” aku menjerit keras, campuran nikmat dan nyeri yang tajam. Tubuhku melengkung hebat, kuku-jariku mencakar punggungnya. 


Rasanya penuh sekali, seperti perutku mau robek, tapi juga dalam dan memuaskan.


Zayne berhenti sejenak, napasnya kasar di telingaku. “Enak sayang, kamu sempit banget.”


Ia mulai bergerak. Hentakan demi hentakan yang semakin dalam dan stabil. 


Setiap kali ia menghunjam sampai pangkal, aku merasakan kepala penisnya menabrak rahimku.


Payudaraku bergoyang mengikuti irama tubuhnya.

Tiba-tiba Zayne mengangkat tubuhku dengan kuat. Ia duduk di kasur sambil memangkuku. 


Sekarang kami berada dalam posisi berhadapan, tubuhku dipangku di pangkuannya.


Penisnya terasa jauh lebih dalam karena gravitasi, setiap senti terasa menghunjam sampai paling dalam.


“Ahh terlalu dalam…” erangku, kedua tanganku memeluk lehernya.


Zayne menggenggam pinggulku dan mulai menggoyangkan tubuhku naik-turun. Aku seperti boneka di pangkuannya. 


Setiap kali aku turun, penisnya menusuk rahimku dengan kuat. Kami berciuman dengan panas dan liar. 


Lidah kami saling menjilat, air liur menetes di dagu masing-masing. Ciuman kami basah, rakus, dan penuh nafsu.


Kedua tangannya memainkan payudaraku dengan liar. Ia meremas, menekan, lalu mencubit kedua putingku secara bersamaan hingga payudaraku bergetar dan bergoyang hebat. 


Rasa perih bercampur nikmat membuatku semakin basah.


Mulutnya lalu menghisap payudara kananku dengan rakus, lidahnya berputar di putingku sementara tangan kirinya meremas payudara kiriku dengan gemas. 


Ia bergantian, menyusu lama di satu sisi, lalu pindah ke sisi lain. Suara isapannya basah dan erotis memenuhi kamar.


Gelombang orgasme mulai naik dengan cepat. Aku menjambak rambutnya kuat-kuat. Tubuhku menegang hebat, vaginaku berdenyut-denyut menggenggam penisnya. 


Aku orgasme panjang, cairanku meleleh deras membasahi pangkal penisnya dan selangkangannya.


Aku lemas sepenuhnya, bersandar di bahu Zayne sambil tersengal. Tapi ia belum selesai. 


Kedua tangannya mencengkeram pinggulkuku kuat, lalu memompa dari bawah dengan keras dan cepat.


Suara tabrakan kulit kami memenuhi kamar.

Beberapa detik kemudian, Zayne mendesah panjang di leherku. Penisnya berdenyut hebat di dalam vaginaku. 


Lahar panas sperma menyembur kuat-kuat, menyemprot rahimku berkali-kali hingga terasa penuh.


Kami berpelukan erat dalam posisi itu, penisnya masih tertanam dalam di dalam tubuhku. 


Aku bisa merasakan denyutannya yang pelan setelah orgasme. Sperma hangatnya perlahan mulai merembes keluar dari sela-sela pertemuan kami.


Zayne mencabut penisnya, kami berbaring miring menghadap satu sama lain. Ia menatap tubuh telanjangku dengan tatapan sayang yang dalam, tangannya mengusap pinggulku lembut. 


Cairan cinta kami, campuran sperma putih kental dan cairanku, terus mengalir pelan dari vaginaku, membasahi kasur yang masih menyisakan noda darah tipis dari malam pertama kami.


Zayne mencium keningku lama, napasnya masih hangat dan berat.


“Kamu milikku sekarang, sepenuhnya,” bisiknya pelan.


Aku hanya bisa tersenyum lemah, tubuhku masih berdenyut nikmat dan lelah.


Entah kapan kami mau memberitahu nenek dan orang tua Zayne mengenai status baru hubungan kami.



The End??


Comments

Popular posts from this blog