Dear Aleia ~ LOVE UNCUT
Sejak kecil, Aleia, Zayne, dan Caleb sudah sering bermain bersama. Tapi seiring bertambahnya usia, hubungan mereka mulai mengalami dinamika baru.
Caleb adalah kakak Aleia, jadi wajar kalau mereka sangat dekat. Tetapi Zayne? Kedekatan Aleia dan Zayne hampir membuat semua orang menyangka mereka ada hubungan khusus.
Aleia dan Zayne tumbuh sebagai tetangga dan bersekolah yang sama sejak SD. Rumah mereka hanya dipisahkan beberapa pagar.
Sore hari saat masa kecil dipenuhi permainan sepeda, pekerjaan rumah yang dikerjakan di meja makan bergantian, dan kebiasaan saling mengetuk jendela jika salah satu terlalu lama menghilang.
Kedekatan itu terus terbawa hingga SMP, lalu SMA. Mereka berangkat sekolah dengan rute yang sama, duduk mengobrol di halte yang sama, bahkan sering terlihat pulang bersama karena rumah mereka memang searah.
Bagi orang-orang di sekitar, kesimpulannya selalu sederhana.
"Kalian pacaran, ya?"
Pertanyaan itu muncul begitu sering hingga terdengar seperti sapaan.
Aleia biasanya hanya tertawa kecil sambil menggeleng. "Sahabat."
Zayne pun menjawab dengan nada datar yang sudah menjadi ciri khasnya. "Tetangga."
Jawaban itu hampir tidak pernah dipercaya. Teman-teman sekelas akan saling bertukar pandang, lalu tersenyum penuh arti seolah mereka sedang menutupi hubungan rahasia.
Guru pernah meminta Zayne mengantar Aleia ke UKS ketika gadis itu demam karena menganggap "pacarnya pasti lebih perhatian." Bahkan ibu-ibu kompleks beberapa kali menggoda mereka saat bertemu di minimarket.
Anehnya, tidak satu pun dari mereka merasa perlu meluruskan lebih jauh. Setelah bertahun-tahun, membiarkan orang salah paham terasa jauh lebih mudah daripada menjelaskan bahwa dua orang memang bisa sedekat itu tanpa berpacaran.
Setidaknya, begitulah yang diyakini Aleia saat itu.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Ini adalah kejadian ketika Aleia, Caleb, dan Zayne masih SMA.
Saat itu Aleia merengek ke Zayne untuk menemaninya melihat pertandingan basket kakak kelas karena ingin mendukung Caleb.
Seperti biasa, Zayne pun pasrah mengikuti Aleia.
Suara peluit panjang menggema di seluruh gedung olahraga.
Bola basket meluncur tepat ke dalam ring beberapa detik sebelum waktu pertandingan berakhir.
Sorak-sorai langsung meledak dari tribun.
"CALEB!"
"CALEB!"
Nama itu diteriakkan berkali-kali dari berbagai sisi lapangan. Beberapa penonton bahkan berdiri dari kursi mereka, ikut bertepuk tangan ketika para pemain berlari ke tengah lapangan untuk merayakan kemenangan.
Di tengah kerumunan itu, Caleb berdiri dengan napas masih berat. Jersey basketnya sudah basah oleh keringat, rambutnya sedikit berantakan setelah hampir satu jam berlari tanpa banyak kesempatan beristirahat.
Ia menerima tepukan dari rekan satu tim, sesekali menepuk bahu pemain lain sambil tersenyum. Caleb memang bintang pertandingan malam itu.
Sejak awal permainan, hampir setiap kali timnya membutuhkan poin, bola selalu berakhir di tangannya.
Gerakannya cepat, tembakannya akurat, dan entah bagaimana ia selalu berhasil menemukan celah di antara pemain lawan.
Tidak mengherankan jika separuh tribun tampaknya sudah hafal namanya.
Di antara suara-suara itu, ada satu suara yang tidak kalah familiar.
"Caleb!"
Aleia berdiri di pinggir lapangan sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Begitu melihatnya, perhatian Caleb langsung beralih. Wajahnya tersenyum lebar.
Ia mengangkat tangan membalas lambaian Aleia. Aleia ikut tersenyum puas. Di sebelahnya, Zayne masih duduk dengan tenang.
Alih-alih ikut menonton pertandingan, laki-laki itu justru membuka sebuah buku yang dibawanya dari tadi. Bahkan ketika seluruh gedung hampir berguncang karena sorakan penonton, matanya tetap turun ke halaman.
Aleia menoleh kepadanya.
"Kamu nggak mau ikut?"
Zayne mengangkat pandangan dari bukunya.
"Ikut apa?"
"Ke lapangan."
Ia menunjuk ke arah Caleb.
"Kita kasih selamat."
Zayne melirik lapangan sebentar, kemudian kembali menutup bukunya setelah memberi tanda pada halaman yang sedang dibaca.
"Baik."
Aleia langsung menarik lengannya sebelum Zayne sempat memasukkan buku ke dalam tas.
"Ayo."
Zayne akhirnya berdiri dan mengikuti.
Aleia berjalan lebih cepat di depan, sementara Zayne berada beberapa langkah di belakangnya.
Mereka melewati pinggir lapangan yang mulai dipenuhi pemain, panitia, dan penonton yang turun dari tribun.
Suasana semakin ramai.
Beberapa cheerleader sudah lebih dulu mendekati Caleb. Seragam mereka berkilau di bawah lampu gedung olahraga, pom-pom masih berada di tangan, dan suara mereka saling bertumpuk ketika mengucapkan selamat.
"Great game!"
"Caleb, that last shot was amazing!"
"Serius kamu keren banget!"
Caleb tertawa sambil mengusap rambutnya yang basah.
"Thanks."
Satu orang menarik perhatian Caleb dengan sesuatu yang membuatnya kembali tertawa. Beberapa cheerleader lain ikut bergabung, membuat lingkaran kecil di sekelilingnya.
Aleia yang baru saja berhasil melewati beberapa orang berhenti.
Jaraknya tinggal beberapa meter.
"Caleb!"
Ia mencoba memanggil lagi.
Namun suaranya tenggelam oleh keramaian.
Caleb tidak mendengar.
Aleia melangkah sekali lagi, tetapi seseorang dari samping bergerak melewatinya sehingga ia terpaksa mundur.
Ia menatap kerumunan di depan.
Caleb terlihat sangat menikmati perhatian itu.
Salah seorang cheerleader berdiri cukup dekat dengannya sambil tertawa. Caleb membungkukkan kepala sedikit untuk mendengarkan sesuatu yang dikatakannya, kemudian tersenyum.
Entah kenapa, pemandangan itu membuat mood Aleia turun begitu saja.
Padahal tadi ia datang dengan senyum lebar.
Padahal tadi ia bahkan sudah membayangkan akan menepuk bahu Caleb sambil berkata bahwa permainan terakhirnya keren.
Sekarang rasanya tidak perlu.
"Sudahlah."
Aleia berbalik.
Zayne yang sejak tadi mengikutinya langsung memperhatikan perubahan ekspresi gadis itu.
"Kamu nggak jadi?"
Aleia menggeleng.
"Ramai."
Zayne tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya memasukkan satu tangan ke saku celananya dan berjalan di samping Aleia.
Caleb baru menyadari keberadaan mereka beberapa detik kemudian.
Di sela-sela kepala orang-orang yang mengelilinginya, pandangannya menangkap sosok Aleia yang menjauh.
Senyumnya langsung menghilang.
"Aleia?"
Ia mencoba bergerak keluar dari kerumunan.
Namun beberapa orang masih berbicara kepadanya.
"Caleb, tunggu!"
"Ayo kita foto bareng!"
Ia menoleh lagi. Aleia sudah semakin jauh.
Wajah gadis itu terlihat jelas dari belakang ketika sesekali ia menoleh sedikit. Caleb sempat menangkap ekspresi kesalnya.
Ia ingin mengejar.
Benar-benar ingin.
Namun untuk beberapa detik ia hanya berdiri di tempat, terjebak di tengah kerumunan yang sejak tadi mengelilinginya.
Lalu ia melihat Zayne.
Laki-laki itu sudah berjalan di sebelah Aleia.
Tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat Aleia tidak lagi berjalan sendirian.
Aleia berjalan di samping Zayne sambil sesekali menoleh kepadanya. Zayne mengatakan sesuatu lagi. Aleia tertawa kecil, lalu memukul ringan lengan laki-laki itu.
Caleb berhenti bergerak. Tangannya perlahan mengepal.
"Hei, Caleb?"
Seseorang memanggilnya.
Caleb tidak menjawab.
Tatapannya tetap mengikuti dua sosok yang semakin menjauh menuju lorong keluar gedung.
Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa sangat mengganggu.
Caleb mengalihkan wajah sejenak, mengembuskan napas panjang.
"Mesra banget mereka berdua," gumamnya kesal.
Ia sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu terasa begitu pahit ketika keluar dari mulutnya.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan, Aleia dan Zayne sudah menghilang menuju kantin.
Caleb masih berdiri di tengah lapangan.
Sorakan kemenangan belum sepenuhnya mereda. Teman-teman satu timnya masih merayakan hasil pertandingan. Cheerleader masih berada di sekelilingnya. Orang-orang masih memanggil namanya.
Malam itu seharusnya menjadi salah satu pertandingan terbaik dalam hidupnya.
Namun untuk pertama kalinya, Caleb tidak terlalu peduli pada siapa pun yang memandangnya.
Matanya hanya mengikuti arah kepergian Aleia.
Dan untuk alasan yang tidak ingin ia akui, melihat gadis itu tertawa bersama Zayne terasa jauh lebih mengganggunya daripada kekalahan dalam pertandingan mana pun.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Di balik semua candaan orang-orang, ada satu rahasia yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan kepada siapa pun.
Hatinya terbagi untuk dua orang.
Yang pertama adalah Caleb. Lalu satu lagi untuk Zayne.
Caleb hanya lebih tua setahun darinya. Sejak kecil mereka dibesarkan oleh nenek yang sama, tumbuh di bawah atap yang sama, berbagi meja makan, berbagi libur sekolah, dan saling menemani melewati masa-masa ketika rumah terasa terlalu sepi.
Mereka memang tidak memiliki hubungan darah, tetapi bertahun-tahun hidup sebagai kakak dan adik membuat garis itu terasa semakin sulit dilanggar.
Aleia pernah menyadari perasaannya jauh lebih cepat daripada yang ia inginkan.
Mungkin ketika Caleb tanpa banyak bicara memperbaiki roda sepedanya yang lepas.
Mungkin ketika laki-laki itu rela kehujanan hanya untuk menjemputnya sepulang les.
Atau mungkin karena Caleb selalu hadir lebih dulu sebelum ia sempat meminta bantuan.
Entah sejak kapan, sosok "kakak" itu berubah menjadi cinta pertama yang tidak pernah berani disebutkan namanya.
Perasaan itu akhirnya ia kubur sendiri. Semakin dewasa, Aleia semakin sadar bahwa mengungkapkannya hanya akan merusak hubungan yang sudah mereka miliki. Menjaga semuanya tetap seperti semula terdengar jauh lebih aman.
Yang tidak pernah Aleia ketahui, Caleb sedang melakukan hal yang sama.
Laki-laki itu juga menyimpan perasaan yang tumbuh diam-diam selama bertahun-tahun. Namun setiap kali ingin mengaku, kenyataan selalu menariknya kembali.
Ia merasa dirinya tidak pantas melewati batas hubungan yang sudah terbentuk sejak kecil. Terlebih lagi, selama masa SMA, hampir setiap hari ia melihat Aleia bersama Zayne.
Bagi Caleb yang hanya melihat dari luar, keduanya tampak seperti pasangan yang belum sempat mengakuinya saja.
Ia memilih mundur sebelum benar-benar mencoba.
Sebagai gantinya, Caleb mulai mengisi waktunya dengan berkencan bersama perempuan lain. Anehnya, tanpa ia sadari, hampir semuanya memiliki kemiripan yang sama.
Rambut sebahu, senyum yang manis, cara tertawa yang riang, atau sorot mata yang mengingatkannya pada seseorang yang sejak awal tidak pernah bisa ia miliki.
Tidak ada yang benar-benar bertahan lama.
Setiap hubungan terasa seperti usaha meyakinkan diri bahwa ia akhirnya berhasil melupakan, padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Aleia beberapa kali bertemu dengan perempuan-perempuan itu.
Ia selalu menyambut mereka dengan ramah, membantu menyiapkan minuman ketika Caleb membawa salah satunya ke rumah nenek, lalu tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
"Semoga langgeng ya Abang," ucapnya suatu kali dengan senyum yang nyaris sempurna.
Caleb membalas senyum itu, meski tatapannya sempat berhenti beberapa detik lebih lama dari biasanya.
"Semoga."
Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa keduanya sedang berpura-pura demi orang yang sama.
Sementara itu, hubungan Aleia dan Zayne tetap berjalan seperti biasanya. Hanya saja, seiring bertambahnya usia, ada sesuatu yang perlahan berubah tanpa mereka sadari.
Zayne mulai terbiasa memastikan Aleia sudah makan sebelum mengerjakan tugas hingga malam.
Aleia menjadi orang pertama yang dihubungi Zayne ketika sedang menghadapi hari yang melelahkan.
Kebiasaan-kebiasan kecil itu datang begitu alami hingga tidak ada yang benar-benar mempertanyakannya.
Baru setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di kota yang sama, berbeda dengan Caleb yang lebih dulu kuliah di kota lain, mereka mulai menyadari perasaan mereka berdua dan memberanikan diri melanjutkan hubungan lebih serius.
Lanjut ke Cerita Zayne ~ Mimpi Manis
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dianggap berpacaran oleh semua orang, dugaan mereka akhirnya menjadi kenyataan.
Zayne dan Aleia akhirnya resmi berpacaran. Hubungan itu dipermudah dengan apartemen Zayne dan Aleia sebelahan saat di kota tempat mereka berkuliah.
Otomatis intensitas bertemu lebih tinggi daripada sebelumnya, dan lebih liar, tanpa pengawasan orang tua.
Hanya saja, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa sebelum memilih menggenggam tangan Zayne, Aleia pernah lebih dulu belajar melepaskan cinta pertamanya dalam diam.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Malam itu angin kota terasa lebih dingin dari biasanya. Caleb sudah sampai di stasiun kereta api dan naik taxi menuju apartemen Aleia tanpa sempat mengirim pesan.
Mereka kuliah di kota yang berbeda sehingga kesempatan bertemu semakin jarang. Pesan singkat dan panggilan video tidak pernah benar-benar menggantikan kebiasaan makan bersama atau saling mengganggu di rumah nenek.
"Aleia pasti kaget aku kasih kejutan." gumam Caleb sambil berjalan di lorong apartemen.
Ia sudah terlalu sering datang ke apartemen itu. Bahkan kode pintunya masih sama seperti saat Aleia pertama kali pindah.
Dulu, gadis itu sendiri yang memintanya menghafal kode tersebut agar Caleb bisa masuk kapan saja kalau ia sedang ketiduran atau lupa membawa ponsel.
Pintu terbuka dengan bunyi pelan.
"Lei?" panggil Caleb lirih sambil melangkah masuk.
Tidak ada jawaban.
Lampu ruang tengah mati total. Meja kopi masih dipenuhi beberapa buku kuliah dan gelas minum yang belum sempat dibereskan.
Hanya ada celah cahaya kuning lembut yang bocor dari kamar Aleia, pintunya tidak tertutup sempurna, menyisakan celah selebar telapak tangan.
Caleb melangkah pelan di atas karpet, sepatu masih menempel di kaki, napasnya tertahan. Aroma familiar menyambut, parfum Aleia yang ringan bercampur sesuatu yang lebih hangat, lebih intim.
Lalu suara itu terdengar.
Desahan pelan, terputus-putus, diikuti erangan yang sengaja ditekan. Suara kasur berderit pelan, ritme yang tidak bisa disalahartikan.
Caleb berhenti di tengah ruang tamu. Jantungnya berdetak terlalu keras di telinga. Ia melangkah lagi, pelan sekali, sampai berdiri tepat di balik pintu yang terbuka sedikit.
Dari celah itu, ia melihat dengan jelas.
Aleia berbaring di atas kasur, rambutnya berantakan di bantal, satu lengan terangkat menutupi sebagian wajah.
Kaki kanannya digulung di pinggang Zayne yang berada di atasnya, tubuh keduanya bergerak sinkron. Zayne menunduk, bibir di dekat telinga Aleia, bisikan pelan yang hampir tidak terdengar kecuali kata “sayang” yang sesekali lolos.
Aleia membalas dengan desahan yang lebih dalam, jari-jarinya mencengkeram bahu Zayne, kuku sedikit memutih.
Cahaya lampu meja di pojok kamar menyorot keringat tipis di punggung Zayne dan lengkungan pinggang Aleia yang terangkat setiap kali gerakan semakin dalam.
Seprai putih kusut di sekitar mereka. Tidak ada yang menyadari pintu terbuka. Tidak ada yang mendengar napas Caleb yang tiba-tiba menjadi dangkal di balik celah itu.
Caleb berdiri kaku, jari-jari mengerat di sisi tubuh. Matanya tidak bisa berpaling, meski setiap detik terasa seperti tusukan.
Ia melihat cara Zayne mencium leher Aleia, cara Aleia membalas dengan menggigit bibir bawahnya sendiri, mata setengah terpejam, ekspresi yang selama ini hanya ia kenal sebagai adik kecil sekarang berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Suara erangan Aleia terdengar lagi, kali ini lebih jelas, diikuti bisikan Zayne yang pelan, “Aleia… sayang…”
Caleb tidak bergerak. Cahaya dari kamar masih memotong wajahnya di gelap ruang tamu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak tahu harus berbuat apa.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Aleia merasakan panas tubuh Zayne menular lewat setiap inci kulit yang bersentuhan. Ia duduk di pangkuan pria itu, kaki terentang di sisi pinggangnya, dada menempel erat.
Kacamata Zayne masih bertengger di batang hidungnya, sedikit bergeser karena gerakan mereka, tapi tidak pernah ia lepaskan. Mata di balik lensa itu menatapnya dalam, gelap, penuh kendali yang membuat perut Aleia bergejolak.
“Lihat aku,” bisik Zayne, suaranya rendah dan serak.
Tangannya besar menahan pinggang Aleia, jari-jarinya menekan lembut tulang rusuknya.
“Jangan tutup mata.”
Aleia mengangguk pelan, napasnya sudah tidak beraturan. Ia merasakan Zayne di dalam dirinya, penuh, hangat, berdenyut.
Setiap kali Zayne mengangkat pinggulnya sedikit, lalu menurunkan tubuh Aleia perlahan dengan kedua tangan, sensasi itu menjalar dari inti tubuhnya hingga ke ujung jari kaki.
Pelan. Sangat pelan. Seolah setiap sentimeter dirancang untuk membuatnya gila.
“Hh… Sayang…” desahnya, suara bergetar.
Tangan Aleia memeluk leher Zayne, jari-jarinya menyusup ke rambut gelap di tengkuknya. Ia menunduk, bibir mereka bertemu lagi.
Ciuman itu dalam, basah, lidah saling mencari. Aleia bisa merasakan napas Zayne yang terkontrol di antara ciuman, sementara miliknya sendiri sudah bergelombang.
Zayne mengangkatnya lagi, pelan, lalu menurunkan tubuhnya dengan tekanan yang lebih dalam. Aleia merasakan dinding dalamnya diregangkan, digosok dengan gerakan yang terukur.
Setiap kali ia turun, ujung Zayne menyentuh titik yang membuat pinggangnya melemas. Sensasi itu menumpuk, panas, basah, penuh. Otot-otot di perut bawahnya berkontraksi tanpa ia sadari.
“Kamu begitu basah Lei,” gumam Zayne di sela ciuman, bibirnya masih menempel di bibir Aleia.
“Enak ya?”
Aleia hanya bisa mengangguk, mata masih terkunci dengan mata Zayne di balik kacamata. Ia tidak bisa berpaling. Setiap gerakan naik-turun yang dikendalikan tangan Zayne membuatnya semakin hanyut.
Pinggangnya digenggam erat, tapi tidak kasar, justru lembut, dominan, seolah Zayne tahu tepat kapan harus mempercepat sedikit dan kapan harus memperlambat lagi.
Sensasi itu semakin tajam. Setiap kali tubuhnya diturunkan, Aleia merasakan gesekan yang tepat di tempat yang membuat jari kakinya menekuk. Napasnya tersengal di mulut Zayne.
Ciuman mereka semakin dalam, lidah saling berputar, air liur bercampur. Aleia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang di dada, seolah ingin keluar.
“Zayne… aku…” suaranya patah. “Aku gak tahan lagi…”
“Tahan sebentar,” bisik Zayne, tangan di pinggangnya menahan laju.
Gerakannya tetap lambat, terkontrol, tapi sekarang setiap penurunan terasa lebih dalam, lebih penuh.
“Lihat aku. Rasakan aku. Jangan lepas pandanganmu dariku.”
Aleia mematuhi. Ia merasakan gelombang itu datang, mulai dari dalam, di mana Zayne berada, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti api yang perlahan membakar.
Otot-ototnya mengencang di sekeliling Zayne. Sensasi basah semakin terasa, tubuhnya sendiri yang bergerak kecil-kecil mencari lebih banyak meski Zayne yang mengatur semuanya.
Orgasme datang perlahan tapi kuat. Aleia merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Dinding dalamnya berdenyut hebat, mencengkeram Zayne dengan kuat.
Gelombang kenikmatan menyapu dari inti tubuhnya ke atas, membuat punggungnya melengkung sedikit, jari-jarinya mencengkeram bahu Zayne.
Ia masih menatap mata pria itu meski penglihatannya sempat kabur sebentar. Napasnya terputus-putus di sela ciuman yang tidak pernah benar-benar terlepas.
Zayne terus menggerakkannya pelan sepanjang klimaksnya, membiarkan Aleia merasakan setiap denyutan, setiap gesekan yang memperpanjang kenikmatan itu.
Tangannya tetap memeluk pinggangnya erat, menjaga agar tubuh Aleia tetap dekat, tetap penuh.
Aleia masih gemetar di pangkuannya, napasnya berat, tubuhnya basah oleh keringat tipis. Ia menempelkan dahi ke dahi Zayne, kacamata pria itu sedikit menyentuh kulitnya. Sensasi setelahnya masih berdenyut di dalam.
Di sisi lain ruangan, Caleb berdiri mematung. Napasnya tertahan di tenggorokan. Celananya terasa sesak sekali, penisnya berdenyut keras, tegang total hanya dari menyaksikan.
Tapi ia tidak bergerak. Tidak menyentuh dirinya sendiri. Hanya berdiri di sana, mata terpaku pada keduanya, tubuh kaku, napas pendek-pendek yang ia tahan sekuat tenaga.
Selama ini ia selalu meyakinkan dirinya bahwa kedekatan Aleia dan Zayne hanyalah persahabatan yang disalahartikan orang lain.
Ia ingin mempercayai itu, meski jauh di dalam hati selalu ada ketakutan yang enggan ia akui.
Malam ini, semua keraguan itu lenyap. Bukan karena seseorang mengatakannya. Melainkan karena ia melihatnya sendiri.
Aleia telah menemukan tempat yang ingin ia tuju.
Dan tempat itu... bukan dirinya.
Pandangan Caleb mulai kabur.
Air mata menggenang tanpa sempat ia sadari, lalu jatuh satu per satu membasahi pipinya.
Ia mengangkat tangan, buru-buru menyeka wajahnya. Sia-sia. Semakin keras ia menahan, semakin banyak air mata yang mengalir.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Aleia lalu berbaring miring di atas ranjang, tubuhnya menghadap ke arah pintu, punggung menempel erat ke dada Zayne yang hangat.
Kali ini bagian depan tubuhnya terpampang tepat di depan Caleb. Walaupun Aleia tidak tahu bahwa di balik celah pintu yang sedikit terbuka, ada Caleb berdiri mematung, mata terpaku pada wajahnya yang memerah, bibir yang terbuka, dan dada yang bergoyang setiap kali Zayne menghentak.
Napas Aleia masih sedikit tidak beraturan dari orgasme sebelumnya, tapi sekarang sensasi baru mulai mengisi dirinya lagi.
Zayne masuk dari belakang, dalam, pelan dulu, lalu semakin dalam hingga Aleia merasakan dirinya terisi penuh sekali lagi.
Satu tangan Zayne meremas dadanya dengan lembut tapi pasti, jari-jari panjangnya memijat puting yang sudah mengeras, membuat gelombang kecil kenikmatan menjalar ke perut bawahnya.
Tangan yang lain mengangkat pahanya, membuka dirinya lebih lebar, memudahkan setiap dorongan.
Kedua tubuh mereka berguncang dengan cepat, sampai orgasme mereka akhirnya datang bersama.
Aleia bergetar hebat di pelukan Zayne. Dinding dalamnya berdenyut kencang, mencengkeram Zayne saat ia melepaskan semuanya di dalam, memenuhi dirinya hingga tumpah sedikit di sela-sela.
Aleia merasakan setiap denyutan, setiap tetes yang membanjiri dalamnya. Tubuhnya masih bergetar, paha yang diangkat Zayne gemetar hebat.
Lidah saling mencari, napas saling bertukar, sementara Zayne masih berada di dalam dirinya, masih berdenyut pelan.
Di balik pintu, Caleb berdiri kaku. Air mata mengalir diam-diam di pipinya, jatuh tanpa suara. Napasnya tertahan di tenggorokan. Di kepalanya berputar kata-kata yang menusuk.
Adikku yang suci… sudah ternoda.
Tapi Caleb sendiri juga bukan pria suci. Dia sudah tidur dengan banyak wanita, hanya karena tidak bisa mendapatkan Aleia.
Campuran horny yang membuat celananya semakin sesak, rasa hancur yang membuat dadanya sesak, posesif yang membuat jarinya mengepal, dan rasa bersalah yang membuat air mata terus mengalir.
Ia tidak bersuara. Hanya menangis dalam diam, menyaksikan adiknya digagahi pria lain.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Setelah aftercare singkat, Zayne dan Aleia akhirnya kembali berpakaian dan berciuman.
Caleb masih berdiri di balik pintu yang terbuka sedikit, tetapi tubuhnya sudah terasa terlalu berat untuk digerakkan.
Pandangannya kosong mengarah ke lantai, sementara air mata terus mengalir tanpa sempat ia hapus lagi.
"Udah malam," suara Zayne terdengar pelan. "Aku balik ke kamarku ya."
Aleia mengangguk kecil.
"Zayne, besok jadinya kamu ada tugas sampai sore ya? "
"Sepertinya begitu, tapi besok kita bisa makan malam bareng."
Jantung Caleb langsung berdegup keras.
Kalau Zayne keluar sekarang dan Aleia melihatnya berdiri di sini, mereka akan tahu.
Mereka akan tahu bahwa sejak tadi ia menguping dan menonton adegan mesum itu. Bahwa ia melihat semuanya dan menangis.
Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.
Caleb mundur beberapa langkah, berbelok ke arah kamar mandi yang berada di dekat ruang tengah. Tangannya hampir gagal memutar gagang pintu karena masih gemetar.
Begitu berhasil masuk, ia segera menutup pintu pelan dan menguncinya dari dalam.
Klik.
Punggungnya bersandar pada daun pintu. Napasnya naik turun tidak beraturan, sementara kedua tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Wajahnya masih basah.
Air mata yang tadi berusaha ia tahan kembali jatuh tanpa bisa dicegah.
Di balik pintu kamar mandi, apartemen kembali dipenuhi suara langkah kaki.
Beberapa detik kemudian, pintu apartemen menutup pelan.
Baru setelah benar-benar yakin Zayne sudah kembali ke kamarnya, dia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Tangannya bergerak membuka kunci pintu kamar mandi.
Cahaya lampu ruang tengah langsung menyambut wajahnya yang kusut.
Kedua matanya memerah, kelopak matanya sembap, dan bekas air mata masih terlihat jelas di pipinya. Ia sempat mengusap wajah dengan telapak tangan, tetapi tidak banyak membantu.
Baru satu langkah keluar, Aleia dan Caleb saling berpandangan.
Wajah Aleia seketika berubah pucat.
"Abang...?"
Matanya membesar penuh keterkejutan.
"Kapan datangnya?"
Tidak ada jawaban.
Caleb hanya berdiri memandanginya.
Tatapan yang biasanya hangat kini terasa asing. Matanya merah, rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya masih mengepal di sisi tubuh.
Aleia belum pernah melihat ekspresi seperti itu pada Caleb.
Bukan sekadar sedih.
Tatapan itu seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sekaligus marah karena tidak bisa menyalahkan siapa pun atas kehilangannya.
Jantung Aleia mendadak berdegup tidak nyaman.
Pandangannya bergantian menatap pintu apartemen yang baru saja ditinggalkan Zayne, lalu kembali kepada Caleb.
Perlahan, sebuah kemungkinan yang sejak tadi tidak terpikirkan mulai muncul di benaknya.
Wajahnya semakin pucat.
"...Abang..." suaranya mengecil. "Jangan bilang..."
Kalimat itu terhenti di tenggorokannya sendiri.
Ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Karena dari mata Caleb yang masih basah oleh air mata, Aleia sudah mendapatkan jawabannya.
Caleb telah melihat semuanya. Aleia dengan gugup mencoba mencairkan suasana.
"Kok tiba-tiba datang? Aku enggak tahu kalau Abang mau ke sini. Harusnya Abang bilang dulu, aku kan bisa jemput di bawah..."
Kalimatnya menggantung sendiri.
Caleb tidak menjawab.
Ia hanya berdiri beberapa langkah dari pintu kamar mandi, menatap Aleia tanpa berkedip. Mata yang biasanya tegas itu kini dipenuhi semburat merah.
Bekas air mata masih membasahi pipinya, sementara dadanya naik turun pelan, seperti sedang mati-matian mengatur napas.
"Aleia, sekarang kamu jadi anak nakal ya."
Aleia membeku.
Caleb tertawa lirih. Tawa yang sama sekali tidak terdengar seperti tawa.
"Kuliah di kota lain, gak ada pengawasan dari nenek atau aku, langsung berbuat mesum sama Zayne."
Aleia refleks menggigit bibir bawahnya. Dadanya mulai dipenuhi rasa bersalah. Ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana.
Hubungannya dengan Zayne memang baru berjalan belum lama. Mereka sengaja belum memberi tahu siapa pun karena ingin semuanya lebih pasti terlebih dahulu.
Aleia bahkan sudah berencana menceritakannya kepada Caleb saat mereka punya waktu bertemu langsung.
Ia hanya tidak pernah membayangkan kalau hubungannya terbongkar dengan cara memalukan seperti ini.
Caleb mengusap wajahnya kasar menggunakan telapak tangan.
"Aku ini..." suaranya bergetar hebat. "Aku ini kakakmu, Aleia."
Nada bicaranya mulai meninggi, meski tidak pernah berubah menjadi teriakan.
"Kenapa aku harus tahu semuanya dengan cara kayak gini?"
Aleia langsung menggeleng pelan.
“Aku memang mau cerita ke Abang kalau ketemu langsung."
"Kalian udah berapa lama? Dan sejak kapan hubungan kalian seperti suami istri?"
Aleia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
"Aku datang karena kangen sama adekku."
Kalimat Caleb kembali pecah di tengah jalan.
"Aku pikir kita bisa makan bareng dan ngobrol seperti biasa. Ternyata aku malah disuguhi adekku digagahi sama Zayne si anak ingusan itu."
Air mata kembali jatuh tanpa bisa ia hentikan.
Tangannya mengepal begitu erat hingga lengannya ikut bergetar.
Aleia hanya mampu berdiri diam. Rasa bersalah memenuhi dadanya sedikit demi sedikit. Ia memang menyembunyikan hubungan ini dan telah bertindak asusila.
Tetapi kenapa Caleb menangis seperti ini?
Aleia mengenal kakaknya hampir seumur hidupnya. Caleb memang protektif.
Sering mengomel dan mengkhawatirkannya sampai hal-hal kecil.
Namun ia belum pernah melihat Caleb hancur seperti sekarang hanya karena sebuah rahasia.
Bibir Aleia bergerak pelan.
"Abang, maafin adek ya."
Suaranya nyaris tidak terdengar. Tapi sepertinya Aleia gagal melunakkan hati Caleb. Akhirnya Aleia jadi kesal dan mulai mengungkit masa lalu.
“Kenapa Abang marah?” suara Aleia pecah duluan, nada tinggi yang jarang ia keluarkan di depan kakaknya.
“Aku tahu kalau hubungan sex sebelum menikah itu salah, tapi aku sudah dewasa. Memangnya adek gak tahu abang selalu bawa kondom di dompet?”
“Aku tidak pernah marah waktu Abang ganti pacar terus. Tidak pernah. Tapi sekarang aku pacaran sama Zayne, kok Abang seperti punya hak untuk marah?”
“Karena Abang tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Abang selalu cinta kamu, dari dulu. Pacar-pacar itu, kalau kamu perhatikan semuanya mereka mirip kamu. Aku coba move on. Tapi enggak bisa.”
“Mereka gak pernah bisa jadi pengganti Aleia. Akhirnya abang hanya berkencan tidak serius. Kamu sendiri sering mengejek aku gak becus kalau punya pacar, gak ada yang langgeng kan.”
Aleia membeku sejenak. Lalu tawa pahit keluar dari bibirnya, singkat dan tajam.
“Sick! Abang, kamu gak waras” teriaknya, suara bergetar.
“Aku kesal bukan karena abang suka sama adik sendiri. Tapi karena Abang membohongi aku!”
“Selama ini aku menahan sakit setiap kali Abang bawa cewek baru ke rumah. Aku cemburu, aku berharap kapan giliran aku, padahal aku tahu itu mustahil.”
“Aku pura-pura bahagia, tersenyum, tanya ‘Abang senang, kan?’ sambil hatiku nyeri. Dan sekarang abang dengan gampang bilang mencintai aku?”
Air mata Aleia tiba-tiba mengalir deras sebelum kalimat terakhir selesai. Bahunya gemetar. Caleb melangkah maju, tangan terulur ingin menariknya ke pelukan. Tapi Aleia menepis keras.
“Jangan, Abang!”
Caleb berhenti di tengah langkah. Tangannya masih terangkat di udara sejenak, lalu turun pelan. Suaranya lebih rendah sekarang, hampir serak.
“Maaf ya sayang, abang tidak peka. Aku harap… masih ada kesempatan. Adek, kamu masih cinta Abang?”
Aleia mengusap wajah dengan punggung tangan, napas tersengal. Ia menatap kakaknya lama, mata merah tapi jernih.
“Perasaanku ke Abang selalu sama. Selalu. Tapi aku kubur rapat-rapat.”
“Kalau gitu adek bisa putus sama Zayne dan pacaran sama Abang?”
Aleia menggeleng keras.
“Putus sama Zayne? Tidak. Aku cinta Zayne. Dia selalu ada dan tidak pernah membuatku menunggu atau berpura-pura.”
Ia menarik napas lagi, seolah mengumpulkan sisa keberanian.
“Sejak dulu aku suka kalian berdua. Bedanya… aku wujudkan perasaanku ke Zayne. Sementara perasaanku ke Abang aku kubur. Apalagi waktu Abang mulai pacaran, aku pikir cintaku bertepuk sebelah tangan. Jadi aku diam saja.”
Keheningan yang menyusul terasa berat. Caleb terduduk di ujung sofa, siku bertumpu di lutut, wajah tertutup kedua tangan.
Aleia ikut duduk di kursi seberang, lutut ditarik ke dada, dahi menempel di lutut.
Tidak ada yang bicara. Hanya suara detak jam dinding yang tiba-tiba terdengar terlalu keras, dan napas keduanya yang belum sepenuhnya tenang.
Mereka diam, menatap lantai yang sama, bingung harus melangkah ke mana dari sini.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Caleb akhirnya memecah keheningan. Dia mengizinkan Aleia berpacaran dengan Zayne dan tidak melaporkan kejadian ini ke nenek.
Tapi ada syaratnya.
Aleia berlutut di lantai kamar yang redup, cahaya malam menembus celah tirai tipis dan menyentuh kulitnya yang mulai berkeringat.
Udara terasa hangat, hampir pengap, dipenuhi aroma tubuh Caleb yang familiar, campuran sabun, keringat, dan sesuatu yang lebih maskulin yang selalu membuat dadanya sesak.
Caleb berdiri di depannya, celana sudah terbuka, penisnya sudah setengah tegang, urat-uratnya menonjol di bawah kulit yang panas.
“Lakukan sekarang Aleia,” katanya tadi, suaranya rendah dan sedikit serak.
Aleia mengangguk pelan, tangan gemetar sedikit saat menarik keluar batang itu sepenuhnya. Panas. Berat. Denyutannya terasa di telapak tangannya.
Ia menunduk, lidahnya menyentuh ujung kepala yang sudah basah, mengecap rasa asin tipis yang langsung menyebar di mulutnya.
Sensasi itu membuat perutnya berdegup kencang. Ia membuka mulut lebih lebar, bibirnya menutup lembut di sekeliling batang itu, lalu mengulum pelan, dari ujung hingga separuh panjangnya.
Lidahnya bergerak, membelai bagian bawah, mengusap urat yang berdenyut. Ia menghisap pelan, pipinya cekung, lalu menarik keluar hampir sepenuhnya sebelum menelan lagi lebih dalam.
Ludahnya mulai berlebih, membasahi batang itu hingga mengkilap. Tangannya yang bebas bergerak naik-turun di bagian bawah, mengocok pelan mengikuti irama mulutnya.
Setiap kali ia menelan, ujung penis itu menyentuh langit-langit mulutnya, membuatnya mengerang pelan, suara getaran yang langsung terasa di batang Caleb.
Caleb menghela napas panjang. Jari-jarinya menyusup ke rambut Aleia, mengelus lembut, merapikan helaian yang jatuh ke wajahnya.
“Ahh… iya, gitu,” bisiknya. “Enak banget.”
Aleia terus mengulum, mempercepat sedikit, lidahnya memutar di sekitar kepala, lalu menelan lebih dalam lagi. Ia merasakan denyutan di lidahnya, panas yang semakin keras di mulutnya.
Ludah menetes dari sudut bibirnya, jatuh ke pahanya sendiri. Ia suka ini, merasakan Caleb di dalam mulutnya, mendengar napas kakaknya yang memberat, merasakan jari-jari itu di rambutnya.
Tapi tiba-tiba jari-jari itu berhenti mengelus. Caleb menunduk, menatapnya. Suaranya berubah, lebih dalam, ada nada aneh di dalamnya.
“Hei, Aleia, kenapa kamu pintar banget blow job?” tanyanya pelan. “Sering ya kamu kasih ke Zayne?”
Aleia tidak menjawab. Ia hanya diam, tetap mengulum, tetap mengocok. Matanya naik sebentar, bertemu dengan tatapan Caleb, lalu kembali fokus.
Caleb tertawa pendek dan berkata sinis.
“Diam aja. Berarti iya, ya?”
Caleb sedikit kesal dan cemburu, tapi dia berusaha mengabaikannya.
Tangan di rambut Aleia mengencang. Bukan kasar, tapi tegas. Ia menarik kepala Aleia sedikit ke belakang, lalu mendorong maju, pelan dulu, lalu lebih dalam.
Kepala penis itu menyentuh tenggorokan Aleia. Ia tersedak pelan, air matanya langsung naik, tapi ia tidak menarik diri. Ia mengizinkan. Ludahnya meluber lebih banyak, membasahi dagu dan dada.
Ia mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan dulu, lalu lebih cepat. Batangnya keluar-masuk mulut Aleia, setiap dorongan semakin dalam, semakin mentok.
Aleia merasakan tenggorokannya terbuka paksa, rasa penuh yang membuat matanya berkaca-kaca. Air mata mengalir di pipinya, tapi ia tetap membuka mulut lebar, tetap menerima.
Suara basah yang kotor memenuhi kamar, desahan Caleb dan napas pendek Aleia yang sesekali tersendat.
Caleb memegang kepalanya dengan kedua tangan sekarang, menggerakkan Aleia maju-mundur sesuai keinginannya.
“Ahh… enak banget mulutnya. Sempit… basah…”
Setiap sodokan membuat Aleia tersedak lagi, air mata semakin deras, tapi tubuhnya tidak menolak. Tangannya masih di paha Caleb, memegang erat, seolah menahan diri agar tetap di sana.
Ia merasakan batang itu berdenyut lebih kencang di lidahnya. Caleb mendesah panjang, lalu mendorong sekali lagi, dalam, sangat dalam dan meledak.
Sperma panas menyembur langsung ke tenggorokan Aleia, tebal, asin, memenuhi mulutnya sampai ia hampir tidak bisa menelan semuanya. Beberapa meluber keluar dari sudut bibirnya, mengalir ke dagu, menetes ke dada.
Caleb menarik keluar pelan, masih setengah tegang, ujungnya masih menetes. Ia menunduk, jari telunjuknya mengusap lelehan sperma di bibir Aleia, mengoleskannya sedikit, lalu memasukkan jari itu kembali ke mulut adiknya.
Aleia menghisap jari itu tanpa diminta, membersihkan sisa-sisa yang tertinggal.
Caleb tersenyum miring, jemarinya mengusap lembut pipi Aleia yang basah oleh air mata dan ludah.
Aleia menelan sisa rasa di mulutnya, napasnya masih terengah, bibirnya bengkak dan basah. Ia mengangguk pelan, masih berjongkok di depan kakaknya, tubuhnya masih bergetar karena sensasi yang belum sepenuhnya hilang.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Tak lama kemudian Caleb menarik Aleia berdiri dengan gerakan kasar penuh nafsu. Tangannya meraih daster tipis yang dikenakan Aleia, kain longgar yang hanya bergantung di bahunya.
Dengan satu tarikan kuat, daster itu terbuka lebar, lalu melorot jatuh ke lantai. Tubuh Aleia terekspos sepenuhnya di bawah cahaya redup kamar.
Tidak ada pakaian dalam. Payudaranya yang montok langsung terasa dingin terkena udara, putingnya sudah sedikit mengeras.
Di antara pahanya, ia masih basah, dan di dalam vaginanya masih tersisa sesuatu yang hangat dan kental dari persetubuhan dengan Zayne sebelumnya. Caleb menatap ke sana, rahangnya mengeras.
“Masih ada sisa dia,” gumamnya rendah, suaranya penuh kecewa dan cemburu yang membara.
“Adekku baru aja dikontolin orang lain.”
Tanpa menunggu, ia mendorong Aleia mundur sampai punggungnya menabrak tepi meja.
Tangannya langsung meremas payudara Aleia, keras, penuh, jari-jarinya menekan daging lembut itu sampai Aleia mendesah.
Ibu jarinya menggosok puting yang sudah kaku, memilin, menarik pelan. Sensasi nyeri campur nikmat langsung menjalar ke perut bawah Aleia.
Ia merasakan darahnya berdesir, tubuhnya yang masih sensitif dari oral tadi kini semakin panas.
Tangan Caleb yang lain turun cepat. Jari-jarinya menyelinap di antara labia Aleia yang masih bengkak dan basah, lalu masuk ke dalam.
Dua jari langsung menyodok masuk, mengorek dalam-dalam. Aleia meraung, pinggangnya terlonjak.
Ia merasakan jari-jari itu mengaduk, mengais, mendorong keluar sisa sperma Zayne yang masih lengket di dinding vaginanya.
Rasa penuh, rasa digosok kasar di titik yang sensitif, membuatnya merintih, sakit dan nikmat bercampur jadi satu.
“Ahh… Kak… pelan…” suaranya pecah, air matanya kembali naik. Tapi tubuhnya tidak menolak.
Vaginanya berkontraksi di sekitar jari-jari itu, basah semakin deras meski masih ada sisa kental yang dikeluarkan.
Caleb mengorek lebih dalam, lebih agresif, sampai Aleia menggigit bibirnya sendiri. “Habisin dulu kotoran itu,” desisnya. “Nanti aku isi yang baru.”
Setelah puas, ia mengangkat tubuh Aleia dengan mudah, mendudukkannya di atas meja. Kaki Aleia dibuka lebar-lebar, pahanya ditekan ke samping sampai ia mengangkang sepenuhnya.
Posisi itu membuat vaginanya terbuka, mengkilap, masih sedikit meneteskan cairan putih sisa Zayne yang dicampur dengan cairan dirinya sendiri. Aleia merasa terbuka, rentan, dan sangat basah di udara kamar yang pengap.
Penis Caleb sudah kembali tegang penuh, urat-uratnya menonjol, kepala basah mengkilap. Ia tidak menunggu.
Ia mengarahkan ujungnya ke lubang Aleia yang belum sepenuhnya siap, lalu mendorong masuk dalam satu hentakan.
Aleia meraung keras. Rasa penuh yang tiba-tiba, dinding vaginanya yang masih kencang meregang paksa, membuat air matanya mengalir deras.
Untungnya masih sedikit basah, jadi batang itu bisa masuk sampai mentok, sampai ujungnya menyentuh mulut rahimnya.
Sensasi panas, berat, dan dalam membuat perutnya terasa penuh sekali. Ia menangis sambil mendesah, jari-jarinya mencengkeram tepi meja.
“Abang… penuh… ahh…!”
Caleb tidak memberi waktu untuk beradaptasi. Ia langsung menggenjot kencang, pinggulnya menghentak cepat dan dalam.
Setiap sodokan membuat meja berguncang, membuat Aleia terdorong ke belakang. Batangnya keluar-masuk, menggesek titik sensitif di dalam, menghasilkan suara basah yang kotor.
Aleia meraung terus, air mata mengalir di pipinya, tapi tubuhnya ikut bergerak, vaginanya memijat batang itu erat.
Sambil menggenjot, Caleb meremas payudara Aleia, memainkan keduanya bergantian. Ia menunduk, menggigit puting kiri, menghisap kuat sampai Aleia menjerit.
Gigitan itu meninggalkan bekas merah. Lalu ia berpindah ke sisi lain, menghisap, menggigit, meninggalkan cupang di dada, di leher, di bahu.
Setiap hisapan membuat kulit Aleia perih dan panas, setiap gigitan membuatnya semakin basah di bawah. Tubuhnya penuh bekas merah keunguan, bukti kepemilikan yang kasar.
“Adekku… milikku,” geram Caleb di sela napasnya yang memberat. “Lihat, full cupang. Biar Zayne tahu kamu udah aku tandai.”
Aleia hanya bisa meraung dan menangis nikmat. Setiap hentakan semakin dalam, semakin cepat. Ia merasakan orgasme membangun di perut bawahnya, panas, berdenyut, semakin kuat.
Vaginanya berkontraksi kencang di sekeliling batang Caleb.
Caleb merasakan itu, ia mempercepat genjotannya, tangan masih memainkan payudara, mulut masih menghisap dan menggigit.
Aleia mencapai puncaknya dulu. Tubuhnya kejang, ia meraung panjang sambil menangis, cairan membasahi batang Caleb dan meja di bawahnya.
Hampir bersamaan, Caleb menghentak sekali lagi sedalam mungkin, lalu muncrat deras. Sperma panas menyembur langsung ke rahim Aleia, tebal, banyak, memenuhi rongga di dalamnya sampai ia merasakan hangat menyebar di perut bawah.
Mereka orgasme bersama.
Aleia masih bergetar, masih menangis nikmat, sementara Caleb menggeram rendah, tubuhnya menekan Aleia di atas meja, penisnya masih berdenyut di dalam, memompa sisa-sisa pejunya.
Napas mereka berdua masih terengah. Sperma mulai menetes keluar pelan dari lubang Aleia yang masih terisi batang kakaknya.
Caleb mengusap wajah adiknya yang basah air mata, lalu mencium bibirnya kasar.
“Sekarang rahim Aleia penuh sama abang,” bisiknya serak. “Bukan Zayne lagi.”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Mereka jatuh tertidur kelelahan di atas kasur yang berantakan. Tubuh Aleia masih basah oleh keringat dan sisa cairan, bekas cupang merah keunguan tersebar di leher, dada, bahu, bahkan di dalam paha dalamnya.
Caleb memeluknya dari belakang, penisnya masih setengah di dalam, tapi keduanya terlalu lelah untuk bergerak lagi.
Napas mereka perlahan menyatu, dan malam itu berlalu dalam keheningan yang aneh, penuh dosa, penuh kepemilikan, tapi juga penuh kelelahan yang menyelimuti.
Pagi harinya, cahaya matahari sudah menyelinap masuk ketika Aleia terbangun. Aroma masakan menguar dari dapur kecil apartemennya. Nasi goreng, telur, dan sedikit aroma bawang yang familiar.
Caleb sudah bangun lebih dulu, hanya memakai celana pendek, rambutnya berantakan, tapi senyumnya lebih ringan dari kemarin.
“Bangun, Abang udah masakin sarapan,” katanya sambil menyodorkan piring.
Mereka makan di meja yang kemarin sempat diguncang. Suasananya lebih ceria, tawa kecil sesekali terdengar, tapi di bawahnya ada ketegangan yang tidak bisa dihilangkan.
Aleia tahu ia dan Abang saling menyukai. Lebih dari itu, tubuh mereka sudah saling mengenal terlalu dalam.
Tapi setiap kali Caleb menatapnya lama, Aleia hanya menggigit bibir dan berkata pelan,
“Maaf, aku masih pilih Zayne, adek juga sudah melakukan yang Abang minta.”
Caleb tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, matanya gelap, lalu mengusap rambut Aleia lembut. Solusi masih belum ada. Mereka hanya menunda.
Siang itu Zayne mengirim pesan bahwa kerja kelompoknya tetap sampai sore, bahkan mungkin sampai malam, jadi tidak akan mampir ke apartemennya.
Aleia membalas singkat, merasa lega sekaligus bersalah.
Seharian apartemen terasa tenang. Caleb masih belum pulang, ia tetap di sana, kadang duduk di sofa, kadang memeluk Aleia dari belakang sambil mencium bekas cupang yang masih memerah di kulitnya.
Sore hari, ketika langit sudah mulai jingga, ponsel Aleia berdering. Nama Zayne muncul di layar.
“Sayang, aku jadinya bisa selesai lebih cepat. Mau dibeliin makan malam apa? Aku lagi di jalan,” suara Zayne terdengar ceria di seberang.
Aleia sedang di toilet jadi Caleb yang mengangkat teleponnya. Ia menempelkan ke telinganya, suaranya tenang tapi tegas.
“Kamu cukup datang aja ke sini. Ada hal penting yang mau dibicarakan.”
Lalu ia mematikan telepon.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Tiga puluh menit kemudian, bunyi kode kunci apartemen berbunyi. Pintu terbuka.
Zayne melangkah masuk dengan kantong plastik berisi makanan di tangan, ia juga membelikan untuk Caleb.
Senyum masih di wajahnya sampai ia melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih.
Di tengah ruang tamu, Aleia sedang berlutut dengan posisi doggy style. Punggungnya melengkung, pantatnya terangkat tinggi, tangan menopang di sandaran sofa.
Caleb berada di belakangnya, kedua tangan mencengkeram pinggang ramping Aleia, penisnya yang tebal keluar-masuk vaginanya dengan ritme dalam dan kencang. Setiap hentakan menghasilkan suara basah yang kotor, kulit bertemu kulit.
Dan di sekujur tubuh Aleia yang telanjang, leher, bahu, dada yang bergoyang, bahkan di sisi payudara, tersebar noda merah keunguan hasil cupang Caleb. Bekas gigitan dan hisapan yang jelas, segar, tidak mungkin disembunyikan.
Aleia merasakan semua itu dengan sangat jelas. Vaginanya sudah basah kuyup, dinding dalamnya meregang sempurna mengelilingi batang Abangnya yang panas dan berdenyut.
Setiap sodokan menyentuh titik paling dalam, membuat perut bawahnya berdenyut nikmat sampai ia menggigit bibir agar tidak terlalu keras meraung.
Payudaranya bergoyang mengikuti hentakan, putingnya masih sensitif karena diisap dan digigit tadi siang.
Sensasi penuh, panas, dan dimiliki membuat air matanya kembali naik, bukan karena sakit, tapi karena nikmat yang terlalu dalam bercampur rasa bersalah yang menusuk.
Ketika pintu terbuka dan langkah kaki berhenti mendadak, Aleia mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Zayne yang membelalak, darahnya seolah mendidih di balik wajah yang kaku.
Napas Aleia tersengal. Ia merasakan penis Abangnya masih bergerak di dalam, masih dalam, masih mengisi penuh. Suaranya pecah ketika keluar,
“Zayne…”
Caleb tidak berhenti. Ia bahkan mendorong lebih dalam sekali, membuat Aleia meraung pelan, sebelum menoleh ke arah pintu dengan senyum tipis yang penuh tantangan.
“Datang tepat waktu,” katanya rendah. “Sekarang kamu bisa lihat sendiri… siapa yang beneran memiliki tubuh Aleia.”
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Aleia baru saja keluar dari toilet dan tiba-tiba Caleb menggeser dasternyabasal-asalan ke pinggang, lalu dia menariknya ke sofa dan mulai menggagahinya lagi dari belakang.
Ia sempat mendengar ponselnya berdering di meja, tapi Caleb yang menjawab. Dan katanya itu telepon dari marketing tidak penting.
Caleb pun menarik daster Aleia sampai terlepas dan melemparkannya ke sembarang tempat.
Sekarang pintu terbuka, dan Zayne berdiri di ambang dengan wajah yang memutih lalu memerah karena amarah.
Muka Aleia sudah tidak karuan. Pipinya basah air mata dan ludah, bibirnya bengkak, rambut berantakan menempel di dahi.
Setiap hentakan Abangnya membuat payudaranya bergoyang, bekas cupang merah keunguan di sekujur tubuhnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu.
Vaginanya masih terisi penuh, basah kuyup, dinding dalamnya berdenyut di sekeliling batang yang tebal. Malu membakar seluruh tubuhnya sampai ujung jari.
Ia ingin menutup diri, ingin menghilang, tapi tubuhnya masih diguncang oleh sodokan dalam yang membuatnya hanya bisa meraung pelan.
“Zayne…!” suaranya pecah.
Koneksi intim itu terlepas kasar ketika Zayne melempar kantong plastik makanan ke lantai dan melesat maju. Tinjunya terangkat, siap menghantam wajah Caleb.
“Anjing lo!”
Aleia bergerak cepat meski lututnya gemetar. Ia mendorong tubuhnya di antara mereka, tangan menahan dada Zayne yang sudah menegang oleh amarah.
“Jangan! Jangan, Zayne… tolong…”
Suaranya serak, air mata kembali mengalir. Ia merasakan sisa basah di pahanya menetes, malu semakin dalam, tapi ia tetap berdiri di tengah, napasnya tersengal.
Caleb hanya tersenyum miring, tidak bergeming. Ia mengusap rahangnya seolah tidak peduli, lalu suaranya keluar rendah dan penuh racun.
“Diam kamu, Zayne. Kamu udah merenggut keperawanan adikku. Mau aku laporin ke nenekku dan orang tuamu? Bahwa kamu bukannya sibuk kuliah, malah memperawani anak gadis? Padahal nenek percaya kamu bakal jaga Aleia.”
Kata-kata itu menusuk. Zayne membeku. Tangan yang siap meninju perlahan turun. Rahangnya mengeras, tapi ia melepaskan cengkeramannya dan mundur satu langkah.
Matanya masih membara, tapi ancaman itu berhasil. Nenek Aleia… orang tua Zayne… reputasi… semuanya menggantung di udara.
Caleb tidak membuang waktu. Ia duduk di sofa, menarik tubuh Aleia yang masih gemetar ke pangkuannya. Punggung Aleia bersandar penuh ke dada bidang Abangnya yang hangat dan berotot.
Tangan Caleb memegang pinggangnya, mengangkat sedikit, lalu menurunkan tubuhnya pelan-pelan di atas penis yang masih tegang basah.
Aleia melenguh panjang ketika batang itu masuk lagi. Pelan, dalam, mengisi vaginanya yang masih kencang dan basah. Sensasi meregang, panas, dan penuh membuat perut bawahnya berdenyut hebat.
Ia merasakan setiap sentimeter, setiap urat yang menggosok dinding dalamnya. Punggungnya menempel erat ke dada Caleb sampai detak jantungnya terasa di punggung Aleia.
Tangan Abangnya meremas payudaranya dari belakang, memilin puting yang masih sensitif, sementara pinggulnya mulai memompa pelan. Naik-turun, dalam, menghentak titik paling sensitif.
“Ahh… Abang…” lenguhan Aleia keluar tanpa bisa ditahan.
Matanya berkaca-kaca, tatapannya sempat bertemu dengan Zayne yang berdiri kaku di dekat pintu, wajahnya campur aduk antara marah, sakit, dan tidak berdaya.
Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Setiap pompaan pelan itu membuat cairan semakin deras, membuatnya semakin basah, semakin lemah di pangkuan kakaknya.
Caleb mencium lehernya dari belakang, lidahnya menyusuri bekas cupang yang masih perih, sambil terus memompa dengan ritme lambat yang menyiksa.
“Lihat, Zayne,” bisiknya di telinga Aleia, cukup keras untuk didengar. “Adekku enak banget di atas aku.”
Aleia hanya bisa melenguh lagi, tubuhnya naik-turun mengikuti gerakan Caleb, sensasi nikmat yang memalukan itu menyebar dari inti tubuhnya sampai ke ujung jari kaki.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Caleb menatap Zayne dengan senyum sinis, tangan masih mencengkeram pinggang Aleia yang naik-turun pelan di pangkuannya. Batangnya masih tertanam dalam, basah, berdenyut.
“Kamu lihat Aleia nikmat banget makan penisku” suaranya rendah dan penuh kemenangan.
“Cara dia bergerak… basah banget. Putusin dia. Biar Aleia jadi milikku sepenuhnya.”
Zayne tidak terprovokasi. Wajahnya tetap tenang, meski rahangnya mengeras. Ia melangkah mendekat, berlutut di depan Aleia, lalu menggenggam kedua tangan Aleia yang gemetar.
Jemari hangatnya mengunci jemari Aleia erat. Ia menatap wajah gadis itu yang sudah basah air mata, bibir bengkak, mata berkaca-kaca.
“Aleia,” suaranya lembut, hampir berbisik. “Mau putus dari aku?”
Aleia menggeleng kuat. Air matanya semakin deras.
“Nggak… nggak mau, Zayne… aku nggak mau…” Suaranya pecah, tubuhnya masih terisi penuh oleh Abangnya, setiap gerakan kecil membuatnya melenguh tertahan.
Zayne mengangguk pelan. Ia membungkuk dan mencium bibir Aleia. Ciuman itu dalam, penuh rasa, lidahnya menyelinap masuk, mengecap rasa asin dan manis di mulutnya.
Aleia membalas dengan putus asa, air matanya menetes di pipi mereka berdua. Di belakang, Caleb mendengus kesal, memalingkan wajah, tapi pinggangnya tetap bergerak pelan, tidak mau melepas.
Zayne berdiri. Ia membuka sabuk, menurunkan resleting, lalu mendorong celana dan dalamannya ke bawah.
Penisnya sudah tegak sempurna, panjang, tebal, urat-urat menonjol di bawah kulit yang panas, kepala mengkilap oleh pre-cum. Ia mendekatkan batang itu ke wajah Aleia.
Aleia tidak ragu. Ia membuka mulut, lidahnya lebih dulu menyentuh ujung yang basah, mengecap rasa asin khas Zayne yang familiar.
Lalu bibirnya menutup lembut di sekeliling kepala, mengulum pelan sambil lidahnya memutar, membelai celah di ujung.
Ia menelan lebih dalam, pipinya cekung, menghisap kuat sampai Zayne mendesah. Tangannya yang bebas memegang pangkal, mengocok pelan mengikuti irama mulutnya.
Ia maju-mundur, sesekali menelan sampai ujung menyentuh tenggorokan, lalu menarik keluar hampir sepenuhnya sebelum menelan lagi.
Setiap kali ia menghisap dalam, hidungnya menyentuh perut Zayne, dan ia merasakan denyutan panas di lidahnya.
Caleb yang kesal tidak tahan. Tangan di pinggang Aleia mengencang. Ia mulai menggoyang tubuh adiknya lebih kencang, lebih dalam.
Setiap hentakan membuat Aleia terdorong maju, mulutnya semakin dalam menelan penis Zayne. Vaginanya diregang paksa, titik sensitif digosok berulang kali sampai perut bawahnya berdenyut hebat.
“Ahh… Abang…!” lenguhan Aleia keluar di sela-sela mengulum, getaran suaranya terasa di batang Zayne.
Caleb mempercepat. Hentakan semakin brutal, meja sofa berguncang. Aleia merasakan orgasme membangun cepat, panas, berdenyut, tidak tertahankan.
Tubuhnya kejang, vaginanya mencengkeram batang Abangnya erat, cairan membasahi paha mereka berdua.
Hampir bersamaan Caleb menghentak sedalam mungkin dan muncrat deras di dalam rahimnya.
Sperma panas menyembur, memenuhi, menyebar hangat di perut bawah Aleia sampai ia mengerang panjang di mulut Zayne.
Tapi Caleb tidak melepas. Ia tetap menanam batang yang masih berdenyut di dalam, memompa pelan sisa-sisanya, membiarkan tubuh Aleia tetap terisi penuh.
Zayne menggerakkan kepala Aleia sendiri sekarang. Tangan di rambutnya, mendorong maju-mundur lebih cepat, lebih dalam.
Aleia mengulum sejauh mungkin, air matanya kembali naik karena tenggorokannya terbuka, tapi ia tidak menarik diri.
Lidahnya terus bergerak, menghisap, memanjakan. Tidak lama kemudian Zayne menggeram rendah. Ia mendorong sekali lagi dalam, lalu orgasme di mulut Aleia.
Sperma kental menyembur langsung ke lidah dan tenggorokan, asin, tebal, banyak. Aleia menelan sebanyak mungkin, tapi sebagian meluber dari sudut bibirnya, menetes ke dagu dan dada.
Napas ketiganya terengah.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Aleia masih duduk di pangkuan Caleb, tubuhnya basah oleh keringat, sperma, dan air mata.
Vaginanya masih terisi penuh oleh batang abangnya yang belum sepenuhnya lemas, denyutan sisa orgasme masih berdenyut pelan di dalam.
Mulutnya masih terasa asin oleh peju Zayne yang baru saja ditelannya. Ia menunduk, napasnya belum tenang, ketika kedua pria itu menunggu.
Caleb dan Zayne menatapnya. Suasana ruangan terasa berat, hanya suara napas mereka yang terdengar.
“Aleia,” suara Zayne lembut tapi tegas. “Keputusanmu?”
Aleia mengangkat wajahnya yang basah. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya jelas meski serak. “Aku… aku masih mau lanjut sama Zayne.”
Zayne menghela napas pelan. Ia berlutut lagi di depan Aleia, menggenggam tangannya. “Kamu masih cinta sama Caleb?”
Sebenarnya dari dulu Zayne tahu kalau Aleia diam-diam menyukai kakaknya. Jadi Zayne selalu ragu menyatakan perasaan ke Aleia, sampai akhirnya memberanikan diri dan mereka pacaran.
Aleia diam. Ia menunduk dalam-dalam. Lidahnya kelu. Tidak ada jawaban yang keluar, hanya air mata yang kembali menetes di pipinya. Keheningan itu lebih jelas daripada kata-kata apa pun.
Zayne terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia mengusap air mata Aleia dengan ibu jarinya.
“Baik. Kita lanjut. Hubungan kita tetap jalan.”
Ia menoleh ke Caleb, matanya tenang tapi tajam.
“Dan kamu… silakan coba merebut dia dari aku. Aku nggak keberatan kalian masih berhubungan seksual. Toh kamu cuma ban serep.”
Suaranya datar, tanpa emosi berlebih. “Syaratnya cuma satu, jangan pernah bocorkan ini ke nenek kalian atau orang tuaku.
“Aku sebenarnya nggak keberatan bertanggung jawab dan menikahi Aleia sekarang juga, tapi aku mau lindungi nama baiknya.”
Caleb hampir meledak. Tinjunya terangkat, rahangnya mengeras, otot di lengannya menegang.
Ia hampir menonjok wajah Zayne yang tenang itu, tapi ia menahan diri. Napasnya berat, matanya menyala penuh amarah dan kesal. Akhirnya ia menggeram rendah, lalu mengangguk kaku.
“Setuju.”
Aleia merasakan semua itu di tubuhnya. Batang Caleb masih di dalam, masih hangat, masih mengisi.
Sensasi penuh itu bercampur dengan rasa lega, rasa bersalah, dan sesuatu yang aneh di dadanya, seperti pintu yang baru saja terbuka lebar menuju sesuatu yang terlarang.
Ia menoleh ke Zayne, lalu ke Caleb, dan tubuhnya yang masih telanjang, masih basah, masih dipenuhi bekas cupang dan sisa peju.
Zayne berdiri, merapikan celananya, lalu mencium kening Aleia. “Aku pulang dulu. Besok kita ngobrol lagi.” Ia menatap Caleb sekali lagi. “Jaga dia.”
Pintu tertutup. Hanya tersisa Aleia dan abangnya di ruang tamu yang berantakan.
Caleb menghela napas panjang, tangan masih di pinggang Aleia. Ia memompa pelan sekali, membuat Aleia melenguh tertahan.
“Karena Zayne sudah tahu, kita lanjutin lagi ya.” bisiknya di telinga adiknya.
Aleia hanya bisa menggigit bibir, tubuhnya bergetar pelan di pangkuan kakaknya. Vaginanya berkontraksi lemah di sekeliling batang yang masih tertanam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Hanya tahu bahwa malam ini, dan mungkin malam-malam selanjutnya, semuanya sudah berubah.
Apakah ini awal dari hubungan terlarang mereka bertiga?
Di dalam hati Aleia yang masih berdegup kencang, di antara rasa malu, nikmat, dan kebingungan yang bercampur, jawaban itu terasa seperti bisikan pelan yang belum berani ia ucapkan keras-keras.
Mungkin saja.
Dan tubuhnya yang masih penuh oleh abangnya seolah sudah menjawab lebih dulu.
Lanjut ke Cerita Caleb ~ Lemonade

Comments
Post a Comment